Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kecurigaan Jaden


__ADS_3

Will menunjukkan senyumannya. Dia tidak menyangka jika sahabatnya yang terkenal dingin dan tega itu bisa berbuat hal semanis itu.


"Will, apa Nara perlu melakukan cek lengkap ke rumah sakit kamu?"


"Jade, dia baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Kalau begitu aku mau pulang dulu. Nara kamu istirahatlah dan jangan memikirkan lagi tentang kejadian yang baru menimpa kamu."


"Iya, Pak Dokter." Nara mengangguk.


Jaden izin ingin mengantar Will ke depan. Nara yang berada di sana duduk terdiam ditemani oleh Sandra.


"Jade, apa Nara punya musuh ya? Atau komplotan penculik kecil itu mencari mangsanya secara acak?"


"Aku tidak tau. Orang-orangku masih aku suruh untuk mencari tau."


"Kalau begitu aku harap kamu dapat membereskan hal ini."


"Will." Jaden menepuk pundak Will. Will merasa ada yang menahan pundaknya menoleh pada Jaden. "Aku mencurigai seseorang."


Kedua alis Will mengkerut. "Maksud kamu?"


"Sandra. Dia yang ada dibalik semua kejadian yang beberapa hari ini terjadi pada Nara."


"Sandra? Kenapa kamu menuduh dia? Sandra itu terapis terbaik dan memiliki perilaku yang sangat baik."


"Dia mencintaiku, Will, dan dia mengatakan sendiri padaku. Namun, sayangnya aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Apa lagi cinta."


"Dia mencintai kamu? Kenapa dia bisa salah mencintai seseorang yang tidak memiliki hati? Kenapa tidak denganku saja?" Will malah terkekeh.


"Aku sedang tidak bercanda, Will," ucap Jaden tegas.


"Maaf, aku hanya sedikit terkejut saja. Lalu kenapa dia malah ingin melukai Nara?"


Jaden terdiam melihat datar pada sahabatnya. "Dia mengira aku tidak menerimanya karena aku mencintai Nara."


Kedua mata Will sekarang mendelik. "Jadi kamu dan Nara adalah--."


"Tidak ada apa-apa aku dengan Nara," ucap Jaden dingin.

__ADS_1


"Kamu serius? Lalu, apa yang tadi kamu lakukan? Kamu begitu cemas dengan Nara, bahkan kamu menyuruh Nara tidur di kamar kamu agar kamu dapat merawatnya."


"Hanya balas budi, dan aku tidak mau Nara mendapat masalah karena aku."


"Alasan yang bisa diterima. Jade, aku harap kamu jangan berbuat buruk pada Sandra, kamu masih mencurigainya dan belum tentu dia yang melakukanya. Sandra itu orang yang baik."


"Aku masih mencari buktinya, dan kalau memang Sandra pelakunya--?" Jaden memandang Will dengan tatapan yang Will sudah bisa menebak hal buruk yang akan terjadi pada Sandra.


"Jade, aku mohon jangan membuat dirimu dalam masalah. Peringatkan saja Sandra untuk tidak melakukannya lagi, ini hanya soal seorang wanita yang cemburu buta. Jelaskan saja semuanya dan maafkan dia."


"Memaafkan? Dia secara tidak langsung mencari masalah denganku."


"Iya, tapi Jangan lakukan hal buruk pada Sandra. Jade, kenapa kamu begitu marah ada yang menyakiti Nara, padahal kamu bilang Nara tidak ada apa-apa dengan kamu. Semua ini bisa dijelaskan." Will seketika takut jika Jaden akan berbuat buruk pada Sandra jika benar semua yang dicurigai oleh Jaden.


"Meskipun Nara tidak ada apa-apa denganku, tapi aku tidak suka milikku dirusak oleh orang lain. Jadi, aku tidak bisa berjanji sama kamu," Jaden menekankan kata-katanya pada kalimat terakhir.


"Itu berarti kamu mencintai, Nara. Kamu bahkan mengklaim dia milik kamu. Jade, jangan sakiti Sandra!"


"Pulanglah hari sudah malam."


"Jade ...!" panggil Will dari tempatnya dengan berteriak, tapi tidak dipedulikan oleh pria dingin itu yang berjalan dengan tegapnya menuju kamarnya.


Di dalam kamarnya Jaden melihat Sandra sedang duduk dengan Nara di atas ranjang. Jaden berjalan masuk dengan santai.


"Apa masih ada yang kalian bicarakan?"


"Tuan, biar Nara di kamar saya saja, saya akan mengurusnya dengan baik. Iya, kan, Nara?" Sandra tersenyum pada Nara.


"I-iya, Tuan. Kalau aku tidur di kamar Mba Sandra, aku bisa dirawat oleh Mba Sandra dengan baik dan Tuan tidak perlu kerepotan nantinya."


"Apa aku minta pendapat kalian? Aku sudah membuat keputusan dan tidak akan merubahnya."


"Tapi Tuan."


"Sandra, ini sudah malam, dan sebaiknya kamu segera kembali ke kamar kamu karena kamu besok harus segera pergi dari rumahku. Bukannya tugas kamu di sini sudah selesai."


"Kalau Nara masih sakit, aku bisa membantu Tuan dulu di sini."

__ADS_1


"Nara akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Oleh karena itu dia harus segera istirahat seperti apa yang Will katakan."


Jaden memberi isyarat agar Sandra segera keluar dari kamarnya. Sandra yang merasa Jaden tidak menginginkan dirinya di sana keluar dari kamar Jaden.


Jaden segera menutup pintunya bahkan Jaden mengunci pintu kamarnya. Nara terdiam di tempatnya, dan hanya melihat pria dingin itu berjalan menuju walk in closetnya.


Tidak lama pria itu keluar dari walk in closetnya hanya memakai celana tidurnya berbahan baby terry cream dengan model panjang, tanpa atasan.


Nara dapat melihat tato besar pada lengan tangannya yang sebenarnya Nara menyukai gambarnya, tapi juga takut karena Jaden terlihat seram.


"Apa kamu tidak mau berganti baju? Aku akan membantu kamu kalau kamu mau."


"Berganti baju? Bajuku ada di dalam kamarku, Tuan. Kalau begitu aku akan mengambil bajuku dulu." Nara yang akan beranjak dari tidurnya di tahan oleh Jaden dan malah digendong oleh Jaden masuk ke dalam walk in closetnya.


"Kamu pakai saja kemejaku yang ada di sini. Tidak perlu ke kamar kamu."


"Tapi kamar aku kan dekat dengan kamar Tuan."


"Pakai saja di sini, tidak perlu membantah. Aku akan menunggu kamu." Jaden bersedekap tepat di depan Nara.


Nara terdiam sejenak, dia malah bingung dan akhirnya tidak melakukan apa-apa."


"Kenapa malah diam saja. Apa mau aku bantu ganti baju?"


"Kenapa kamu di situ? Aku mau ganti baju."


"Ganti saja, memangnya kenapa kalau aku di sini?"


"Tuan pergi saja, ke sana. Aku tidak perlu dilihatin begitu, lagi pula aku tidak akan bisa menghilang di sini."


"Baiklah, aku akan membalikkan badan agar kamu dapat berganti baju. Kamu aneh sekali. Padahal aku sudah pernah melihat sebelumnya, kenapa sekarang kamu jadi malu begitu?" omel Jaden sambil membalikkan badannya.


"Kenapa dia malah bicara seenaknya?" gerutu Nara sambil membuka bajunya satu persatu. Nara tidak tau jika ternyata pantulan dirinya dari cermin di depan Jaden dapat membuat Jaden melihat tubuh Nara seluruhnya.


Jaden tampak tersenyum kecil melihat satu set pakaian dalam yang dikenakan oleh Nara.


"Gadis bodoh yang cantik," ucapnya lirih.

__ADS_1


Nara sudah selesai mengganti bajunya dengan kemeja hitam milik Jaden yang menjadi mini dress saat di gunakan oleh Nara.



__ADS_2