Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kemanisan Mereka


__ADS_3

"Kenapa Nona Denna memaksaku terus? Aku sudah bilang jika tidak suka ice cream."


"Aku berjanji, kalau kamu sudah mencobanya dan memang kamu tidak suka, kamu boleh tidak menghabiskannya, atau kamu boleh meminta sesuatu padaku."


Dimas tampak berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan mencobanya." Dimas mengambil satu buah ice cream yang berbentuk stik dan membukanya. Dia mencoba menggigit sedikit ujungnya.


"Bagaimana?"


"Manis, tapi aku tidak suka. Buat kamu saja."


"Serius, kamu tidak suka?" Denna tampak tidak percaya.


"Tidak suka." Denna mengerucutkan bibirnya. "Kita berikan saja pada dua orang itu."


Dimas beranjak dari tempatnya dan menghampiri dua gadis yang sedang duduk di bangku taman sambil membawa buku.


Dua gadis di sana tampak kaget tiba-tiba ada seorang pria tampan yang menghampiri mereka dan memberi mereka dua buah ice cream. Dimas berjalan menghampiri Denna.


"Apa yang membuat Nona tertawa?" tanya Dimas heran melihat Denna terkekeh kecil.


"Dua gadis itu melihat ke arah kamu terus, mungkin mereka berpikir kalau kamu menyukai mereka dengan melakukan hal semanis tadi."


"Saya hanya memberi mereka ice cream dan tidak melakukan hal yang istimewa."


"Bagi kamu. Bagi mereka tidak."


"Saya tidak peduli," jawab singkat Dimas.


Denna tau pasti Dimas jawabannya mengesalkan. "Kita kembali sekarang saja ke mobil dan pulang. Lagian ice cream kita sudah habis."


"Soal janji yang kamu katakan tadi bagaimana?"


Langkah Denna terhenti saat Dimas melayangkan pertanyaan pada Denna. "Soal apa?"


"Boleh meminta sesuatu pada Nona Denna?"


"Oh! Soal itu? Aku ingat dan aku tidak akan mengingkari apa yang aku katakan. Apa yang kamu inginkan?"


Dimas berjalan mendekat pada Denna. "Maukah Nona Denna menciumku?"


Deg!


Denna seketika mematung di tempatnya. Dia mencerna ucapan Dimas barusan, ucapan itu benar apa dia salah mendengar.


"Nona kenapa?" tanya Dimas.


"Kenapa kamu kurang ajar sekali menyuruh aku mencium kamu?"


"Aku tidak kurang ajar, bukannya Nona Denna yang mengatakan sendiri." Wajah Dimas menunjukkan wajah datarnya.


Denna terkena ucapannya sendiri. Dia bingung sekarang harus berbuat apa? Beberapa kali gadis itu menggigit bibir bawahnya tampak bingung.


"Nona takut? Lain kali kalau berbicara harus dipikirkan dulu. Aku hanya bercanda." Dimas berjalan dengan santai melewati Denna.


"Jadi kamu cuma bercanda?" Denna kesal dan berlari mengejar Dimas.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju di mana mobil Dimas di parkirkan. "Tempatnya masih jauh? Aku capek," Denna mengeluh.


"Kita harus menuruni jalanan setapak ini baru kita sampai."


Denna tampak mendelik melihat jalanan menurun. "Masih jauh."


Dimas melihat pada Denna. "Kamu pasti ingin menggendongku?"


"Ada saran lainnya?"


"Tidak ada." Denna menggeleng.


Mereka berdua saling memandang. Dimas kemudian berjongkok, membuat gadis itu bingung.


"Kamu sedang apa?"


"Nona mau di sini sampai malam apa mau pulang. Naik ke punggungku dan kita berjalan turun."


"Kamu serius tidak apa-apa?" Dimas tidak menjawab hanya memberi isyarat dari matanya.


Denna akhirnya naik punggung Dimas dan Dimas menggendongnya. Denna merasakan rasa yang tidak pernah dia rasakan saat melihat wajah Dimas dari samping.


"Kenapa kamu memilih profesi sebagai bodyguard?"


"Karena aku ingin."


"Kenapa kamu tidak ingin menjadi lainnya selain bodyguard?"


"Tidak ada alasan. Aku ingin menjadi bodyguard dan aku melakukannya."


"Apa perlu saya menjawabnya?"


"Tentu saja karena aku tidak mau disalahkan atau dianggap genit dengan kekasih orang."


"Nona tenang saja walaupun saya punya kekasih, dia tidak akan salah paham."


Denna tampak terdiam mendengar jawaban Dimas. Tidak lama mereka sampai di tempat mobil Denna berada. Di dalam mobil Denna tampak terdiam memikirkan jawaban Dimas yang ambigu.


Sepanjang perjalanan Denna memilih melihat ke arah luar jendela. Tidak lama ponsel Denna berdering dan ada nama Diaz di sana.


"Denna, kamu kenapa tidak masuk sekolah tadi?"


"Aku belum sampai rumah, Diaz. Ini saja aku masih di perjalanan." Denna menyalakan loudspeakernya


"Padahal aku mau bercerita banyak sama kamu, tapi tadi kamu tidak masuk sekolah."


"Besok kamu bisa bercerita padaku."


"Aku sudah tidak sabar ingin bicara sama kamu. Denna, nanti pada saat acara perpisahan sekolah aku tidak akan datang sendiri."


"Kamu, kan, memang datang sama aku?"


"Denna, aku minta maaf karena aku tidak bisa datang sama kamu karena aku akan datang dengan Mas Rio."


"Jadi aku datang sama siapa?" Wajah Denna seketika sedih. "Apa aku tidak datang saja ke acara pesta perpisahan sekolah?"

__ADS_1


"Jangan! Kamu bisa datang dengan cowok yang menyukai kamu di sekolah. Evans, dia pasti akan mengajak kamu datang," celetuk Diaz.


Denna melihat pada Dimas yang melihat sekilas pada Denna. "Aku tidak akan mau diajak oleh Evans walaupun dia bersimpuh di bawah kakiku."


"Jangan terlalu membenci seseorang seperti itu, Denna."


"Cowok kurang ajar seperti dia pantas aku benci dan bahkan aku tidak mau mengenalnya," ucap Denna kesal.


"Memangnya apa yang sudah Evans lakukan sama kamu sampai kamu sangat membencinya?"


"Tidak ada Diaz. Aku hanya membenci playboy saja."


"Bagaimana kalau aku kenalkan pada teman Mas Rio?"


"Tidak perlu, Diaz. Kamu tau sendiri aku tidak mudah langsung bisa nyambung dan akrab dengan seseorang. Aku bisa datang sendiri."


"Tapi kamu harus datang ya, Denna?"


"Hem!"


"Jangan hem saja, tapi iya Diaz."


"Iya, Diaz. Kamu puas?"


"Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati di jalan."


Mereka mengakhiri panggilan dan Denna memilih menaikkan kedua kakinya ke atas dan tidur memeluk kedua kakinya malas.


Dimas hanya memperhatikan saja. Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di rumah nenek.


Mobil Jaden dan lainnya sudah sampai di sana. Nara keluar rumah menemui Denna dan Dimas.


"Dimas, kenapa baru sampai? Apa ada masalah di jalan?" Nara melihat Denna yang tertidur di bangku depan.


"Nona Denna tadi sedang membagi-bagikan ice cream di sekitar taman dan rumah penduduk di sana."


"Membagikan ice cream?" Nara tampak bingung.


Dimas menceritakan apa yang sebenaranya terjadi pada Nara. Nar agak terkejut jika putrinya melakukan hal yang sangat baik. Peduli dengan orang lain.


"Nona Denna apa perlu dibangunkan, Bibi Nara?"


"Jangan, kamu bawa saja Denna naik ke atas kamarnya. Kamu tidak keberatan, kan?"


Dimas menggeleng, dia lalu membuka pintu dan menggendong Denna menuju ke kamar tidurnya. Dimas membaringkan Denna kemudian menyelimutinya.


Di lantai bawah nenek yang melihat hal itu merasa bingung kenapa Nara membiarkan Dimas menggendong Denna?


"Nara, kenapa membiarkan Dimas menggendong Denna ke kamar?"


"Jaden dan mas Leo sedang sibuk di ruang kerja dan aku lihat Denna tampak kelelahan. Kasihan jika Denna dibangunkan."


"Takutnya Jaden tidak suka jika melihat hal itu. Denna juga."


"Tidak apa, Nek. Nek, menurut Nenek Dimas cocok tidak dengan Denna?"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


__ADS_2