Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tugas Sang Pelayan part 1


__ADS_3

Nara berdiri sekali lagi melihat walk in closet milik Jaden yang penuh dengan pakaian berwarna hitam milik Jaden.


"Hidupnya tidak berwarna sama sekali. Kenapa bajunya tidak ada warna lain selain hitam? Ini cuma tiga warna putihnya.


"Memangnya hidupmu penuh warna?" Tiba-tiba suara Jaden ada di belakang Nara.


"Kamu seperti hantu saja tiba-tiba muncul." Nara mengambilkan baju lengan panjang semi rajut milik Jaden berwarna putih tulang dan celana selutut bahan katun berwarna senada.


"Pilihan kamu tidak buruk. Sekarang pakaikan baju itu padaku," titah Jaden sekali lagi, dan sontak saja membuat Nara mendelik tidak percaya.


"Aku memakaikan kamu baju? Kamu itu bukan anak kecil. Apa kamu tidak bisa memakai baju itu sendiri?"


"Mau membangkang lagi? Aku sudah baik hati tidak membuat kamu seperti wanita murahan. Kamu hanya perlu memakaikan baju padaku kemudian pijat kepala karena aku suka sekali dipijat kepalaku."


"Kalau memijat kepala kamu, aku mau, tapi untuk memakaikan kamu baju aku tidak mau. Dasar mesum!" gerutu Nara.


"Jangan banyak menggerutu. Pakaikan atau detik ini juga aku akan menghubungi anak buahku untuk mendatangi rumah sahabat kamu itu."


"Kenapa kamu malah main ancam? Mana pistol kamu? Sini, biar aku tembak saja kepalaku sendiri atau kepala kamu." Nara mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Pria yang berdiri di depannya malah terdiam seolah tidak punya salah apa-apa. Nara kesusahan memakaikan baju pada kepala Jaden karena pria itu sangat tinggi.


"Paman kamu tidak memberi kamu gizi yang baik, makannya kamu tidak bisa tumbuh dengan sempurna."


"Orang tua kamu juga tidak mengajarkan sesuatu yang baik, makannya kamu menyebalkan!" balas Nara kesal. "Ayo! Ikut aku." Tiba-tiba pria tinggi besar itu tangannya digandeng oleh Nara berjalan menuju ranjang besar Jaden. Jaden merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan saat Nara menggandeng tangannya, dan anehnya dia menurut saja.


Nara naik ke atas ranjang dan mulai memasukkan baju pada leher Jaden, kemudian pada kedua tangan Jaden. Jaden memperhatikan wajah Nara yang ternyata jika di amati lebih teliti. Matanya itu memiliki manik mata berwarna coklat, wajah putih bersih dan rambutnya sangat hitam.


"Apa kamu memiliki kekasih, Nara?"


"Hem...." Nara hanya menjawab dengan deheman.


Nara menghentikan tangannya merapikan baju Jaden, matanya melirik pada pria di depannya yang sedang menatapnya tajam. "Aku tidak ada waktu untuk memikirkan pacaran, lagian aku takut kalau nanti pacaran pasti melakukan hal yang di luar batas."


"Karena mereka gadis bodoh yang mau saja di tipu oleh pria yang hanya menginginkan tubuhnya."


"Iya, bodoh dan karena cinta yang salah."


"Tentang teman pria culunmu itu, apa kalian bukan sepasang kekasih?"

__ADS_1


"Paijo?" Nara malah terkekeh. "Nanti kalau di dunia ini aku tidak menemukan jodohku, baru aku mau sama dia."


"Kamu tidak pernah terbesit dalam hatimu mencintai dia?"


Nara menggelengkan kepalanya. Beberapa detik kemudian Nara langsung terdiam saat melihat bagian bawah Jaden.


"Ini, pakai sendiri." Nara menyerahkan celana pendek berbahan katun pada Jaden.


Jaden mengerutkan alis tebalnya. "Siapa pelayan di sini? Bukannya kamu harus mengerjakan pekerjaan kamu sampai selesai? Ayo kerjakan!"


"Apa kamu tidak malu menunjukkan bagian inti kamu pada orang lain? Kalau pada istrimu tidak apa-apa. Lagian usia kamu pasti sudah cukup untuk menikah dan kenapa kamu tidak mau menikah saja?"


"Aku tidak perlu menikah, lagipula ada kamu yang nanti akan melayani semua kebutuhan aku."


"Memangnya aku istrimu apa?"


"Cepat lakukan, atau--."


Nara sangat kesal, seolah si pria arogan ini sudah menemukan kelemahannya. Nara turun dari tempat tidur dan dia menutup kedua matanya, tangan Nara bergetar memegang handuk milik Jaden dan perlahan-lahan melepasnya. Nara tidak tau jika Jaden sebenarnya memakai celana boxer, dia sengaja ingin mengerjai Nara.

__ADS_1


__ADS_2