Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bulan Madu yang Tak Biasa


__ADS_3

Tampak di sebuah rumah yang sangat megah dan kokoh. Seorang pria sedang berdiri di dekat sebuah kolam renang besar. Pria itu tampak tersenyum bahagia mendengar seseorang yang sedang berbicara dengannya lewat panggilan telepon.


"Kerja kamu benar-benar bagus, Sayang. Apa yang kamu lakukan sangat membantuku."


"Tentu saja. Aku akan melakukan apa saja agar kamu bahagia, bahkan membuat mereka menangis darah nantinya."


"Apa yang sudah mereka lakukan juga sangat menyakitkan, sekarang Jaden dan Nara akan merasakan bagaimana sakit itu. Terutama Jaden-- pria arogan dan kejam yang ingin sekali aku hilangkan dari muka bumi ini!" serunya kesal. Tanpa mengucapkan salam dengan teman bicaranya di telepon dia sudah melempar ponselnya ke dalam air.


Pria itu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Di rumah sakit. Setelah melepas dan mengganti baju rumah sakitnya. Jaden segera membawa Nara pergi dari sana. Di sana sudah di siapkan pesawat pribadi milik Jaden yang akan membawa mereka berdua entah ke mana yang jelas Jaden tidak memberitahu orang lain. Dia benar-benar ingin melindungi Nara dan membuat Nara sembuh dari luka hatinya karena kehilangan bayi mereka.


"Kamu mau membawaku ke mana? Apa aku juga tidak boleh tau?" tanya Nara yang duduk di pangkuan Jaden dengan menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


"Kamu tidak perlu tau dulu ke mana aku akan membawa kamu, yang pasti aku membawa kamu ke tempat di mana orang-orang di sana tidak mengenal kita. Kita berdua akan hidup tenang seperti apa yang kamu inginkan."


"Benarkah?"


"Iya, Sayang." Jaden mengecup lembut dahi Nara. Nara kembali memejamkan kedua matanya karena dia masih mengantuk sebenarnya.


Nara tidak tau berapa lama dia tertidur karena saat dia bangun, dia sudah berada di dalam kamar yang Nara tau dia masih di dalam pesawat pribadi Jaden.


"Tuan JL, di mana dia?" Nara bangun perlahan dan mencari di mana pria yang baru saja menikahinya.


Nara melihat Jaden sedang berbicara dengan pramugari cantik di sana. Kedua alis Nara mengkerut melihat hal itu. "Apa yang sedang dia bicarakan dengan pramugari itu? Apa dia sedang menggoda wanita cantik itu."


Setelah pramugari itu pergi, Jaden melihat pada istrinya yang berdiri di sana.


"Nara, kamu sudah bangun?"


"Kenapa? Kaget ya karena terpergok sedang menggoda wanita cantik itu?"


"Wa-wanita cantik siapa?" Jaden tampak bingung.


"Itu si mba pramugari pesawat kamu." Muka Baru tampak cemberut.


"Dia? Kenapa kamu jadi cemburuan begini? Apa sudah tidak percaya padaku?"

__ADS_1


"Tidak tau. Apa aku terlalu cemburuan sama kamu? Aku sendiri bingung. Kenapa aku seperti ini?"


Jaden menarik pinggang Nara mendekat padanya. "Tidak apa-apa, aku malah suka karena itu membuktikan kamu sangat mencintaiku dan takut kehilangan aku."


"Iya, aku tidak mau kehilangan orang yang paling berharga di hidupku lagi, setelah bayi kita." Nara memeluk Jaden.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan meninggalkan kamu, Nara. Aku tadi sedang menyuruh pramugari itu untuk menyiapkan makan malam sup ayam yang seperti buatan mama kamu."


"Memangnya dia bisa?"


"Aku memberikan resep yang pernah kamu tulis saat di rumah dan aku mengambilnya."


"Dasar kamu! Ya sudah, kalau begitu aku mau mandi dulu, aku baru sadar jika aku tidur terlalu lama sampai tidak tau jika hari sudah malam."


Nara berjalan pergi dari sana dan menuju kamar Jaden.


"Tuan JL!" Nara terkejut saat ada kecupan kecil pada pundaknya yang polos.


"Aku ingin menggosok tubuhmu dengan sabun." Sekali lagi Jaden mengecup pundak Nara dengan beberapa kali kecupan.


"Hem ...," jawab Jaden hanya dengan deheman karena dia sedang sibuk menelusuri leher Nara.


"Tuan, aku baru saja mengalami keguguran. Apa boleh secepat ini kita melakukan hubungan suami istri?"


Jaden menghentikan gerakannya dan sekarang di membalikkan tubuh Nara menghadap padanya. "Aku sudah berbicara dengan dokter masalah hal ini dan aku tau kapan harus melakukan hubungan suami istri sama kamu. Memang untuk saat ini belum waktunya dan aku akan menunggu sampai keadaan kamu benar-benar baik."


"Lalu, bulan madu kita? Kenapa malah mengajak langsung berbulan madu?"


"Aku ingin membuat kamu melupakan semua kejadian yang kita alami saat ini dan ini pilihan terbaik. Kita akan tinggal lama di tempat baru kita itu."


"Berapa lama? Lalu, bagaimana dengan nenek?"


"Kamu tenang saja. Nenek baik di sana dan sebenarnya ini adalah rencana nenek juga menyuruhku membawa kamu ke tempat yang baru."


Jaden menyematkan bibirnya pada bibir Nara dengan dalam. Mereka berciuman dengan sangat liar. Jaden memberikan beberapa tanda pada leher Nara.


Terdengar suara ******* kecil saat tangan Jaden mulai menyentuh si twins indah milik Nara.

__ADS_1


"Jangan teruskan, atau nanti akan membawa masalah buat kamu," ucap Nara parau.


Jaden menarik dirinya dan menatap Nara di depannya. "Menyakitkan sekali," ucapnya.


"Kita sudahi saja atau pakai cara lain agar tidak menyiksa kamu." Nara tidak mau membuat suaminya itu menderita.


Jaden tersenyum miris. "Aku baik-baik saja."


Di rumah Nenek Miranti. Renata yang ternyata baru saja dari rumah sakit tampak berjalan cepat mencari sosok wanita paruh baya yang cantik pemilik rumah.


"Kamu kenapa, Renata?"


"Nek, apa benar semalam Jaden dan Nara melangsungkan pernikahan?"


"Iya, itu benar."


"Huft! Kenapa aku tidak diundang? Jaden keterlaluan sekali." Renata cemberut.


"Maaf, tapi Jaden yang meminta mendadak ingin menikahi Nara karena dia tidak ingin Nara berpikiran Jaden tidak akan melanjutkan pernikahan setelah kehilangan bayi mereka."


"Iya, tapi bagaimanapun juga aku mau melihat hari bahagia mereka, Nek."


"Kamu cukup doakan mereka saja supaya bahagia dan aku segera mempunyai cicit lagi."


"Iya, Nek. Kalau itu pasti."


"Kamu memang teman Jaden dari dulu yang sangat baik." Tangan wanita tua itu mengelus rambut Renata.


"Oh ya, Nek! Memangnya si muka dingin membawa Nara ke mana untuk berbulan madu? Bukannya keadaan Nara belum pulih sepenuhnya?"


"Jaden sudah berkonsultasi dengan dokter dan dokter memperbolehkan Jaden membawa Nara pergi, tapi nenek tidak tau mereka pergi berbulan madu ke mana karena Jaden tidak memberitahu nenek dan yang lainnya."


"Wow! Si muka dingin itu kenapa misterius begini? Memangnya dia bisa berbuat romantis dengan Nara? Coba dia bertanya padaku, pasti aku akan memberitahu tempat romantis mana yang cocok untuk dia membawa Nara."


"Kamu tenang saja. Jaden itu sangat romantis dan tau dengan apa yang akan dia lakukan. Kita tunggu saja kabar bahagia dari mereka nantinya." Nenek tersenyum pada Renata.


Tidak lama Leo datang ke sana. Leo agak kaget melihat ada Renata di sana. "Hai, Renata!" sapa Leo senang.

__ADS_1


__ADS_2