Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Ancaman Jaden


__ADS_3

Di dalam mobil Nara terdiam, dia memikirkan kata-kata Jaden barusan. Nara tidak menyangka jika Tuan Carlos akan berbuat seperti itu.


"Apa kejadian yang menimpaku waktu itu karena ayah Carlos?" celetuk Nara.


"Apa? Kamu bilang apa?" Jaden menghentikan mobilnya sebentar ke tepi.


Jaden melihat Nara dengan tatapan serius. "Kamu tadi bilang apa, Nara?"


Nara tampak takut ingin mengatakan apa yang ingin dia katakan. Nara menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Nara!" Jaden menurunkan tangan Nara dan kembali menatap Nara. "Katakan apa yang terjadi dengan kamu di rumah itu? Kalau kamu tidak mau mengatakan aku dapat berbuat buruk walaupun mereka keluargaku." Rahang Jaden mengeras.


Nara tidak mau kalau sampai Jaden berbuat buruk apalagi kepada keluarga yang sudah membesarkannya.


"Aku pernah hampir terjatuh di anak tangga karena ada air di sana, bukannya aku berpikiran buruk, tapi saat maid di sana menjelaskan dia mungkin tidak sengaja menumpahkan air, aku kenapa tidak percaya. Apa lagi saat Tuan JL bilang jika Tuan Carlos pernah mengancam akan membunuh bayiku."


"Apa?" Jaden menggenggam setir kemudi dengan sangat erat. Jaden benar-benar marah kali ini.


Nara melihat pada lengan Jaden yang berdarah. "Tuan JL, kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka Tuan JL."


"Aku baik-baik saja, Nara. Peluru itu tidak melukaiku, hanya menggores sedikit pada lenganku."


Jaden kembali melanjutkan perjalanan dan mereka tiba di sebuah bangunan pencakar langit yang sangat tinggi dan besar. Jaden segera masuk ke dalam dengan menggandeng Nara.


"Tuan JL, ini di mana?" tanya Nara heran.


"Kantor Tuan Carlos."


"Apa? U-untuk apa ke sini?"


Jaden tidak menjawab dan mereka sudah berdiri di depan meja sekretaris Tuan Carlos.


"Tuan Jaden, Anda ada apa datang ke sini?" Wajah wanita cantik itu tampak sumringah melihat Jaden di sana.


"Apa Tuan Carlos ada?"


"Tuan Carlos sedang ada pertemuan dengan beberapa rekan kerjanya di ruangannya."

__ADS_1


Jaden tanpa meminta izin berjalan masih dengan menggandeng tangan Nara masuk ke dalam ruangan ayah angkatnya.


"Tuan Jaden, Tuan Carlos masih ada--."


Jaden sudah membuka pintu ruangan ayah angkatnya dan semua yang ada di dalam melihat pada Jaden.


Pria yang sedang dicari oleh Jaden menjatuhkan pandangan pada Jaden dengan tatapan tajamnya.


"Anak tidak sopan! Apa yang kamu lakukan dengan masuk begitu saja tanpa meminta izin dulu?"


"Aku ingin bicara denganmu, Tuan Carlos," ucap Jaden tegas.


Carlos melihat pada Nara yang berada di belakang Jaden. "Nara? Kenapa kamu bisa bersama dengan Jaden? Bukankah seharusnya kamu berada di dalam kampus?"


"Mulai sekarang Nara tidak akan kuliah di sana, dan Nara akan tinggal bersamaku."


Carlos dengan cepat mencengkeram baju Jaden dengan menatap tajam. "Apa maksud kamu?"


Nara yang melihat hal itu sangat takut. "Tuan JL, kita bisa bicarakan baik-baik hal ini."


"Aku tidak akan takut dengan ancaman yang kamu berikan pada Nara. Aku sudah tau apa yang kamu katakan pada Nara. Kali ini aku pun tidak akan mau berkorban untuk putramu itu." Jaden melepaskan cengkraman tangan Carlos.


"Wow! Ternyata begini hasil yang Anda peroleh setelah membesarkan anak yang seharusnya Anda biarkan saja hidup sendiri atau mati saja.


"Damian Janero. Seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik ketiak kakeknya. Sekarang kakekmu telah dikirim oleh kakekku ke atas saja. Ketiak siapa sekarang yang akan kamu buat sembunyi?"


"Hahaha! Lucu sekali ucapan kamu. Aku tidak perlu sembunyi dari siapapun karena mereka akan lebih takut padaku setelah kakekku meninggal. Kamu bersiap-siap saja tidak akan bisa lagi mengamb wilayah bisnisku." Damian melihat pada Nara yang sekarang bersembunyi di balik punggung Jaden.


"Aku tidak takut sama kamu. Bahkan aku tidak perlu turun tangan untuk menangani masalah sama kamu. Cukup orang kepercayaanku yang menanganinya."


"Kasihan orang-orang terdekat kamu harus menderita nantinya karena ulah kamu."


"Jangan menakutiku karena aku tidak pernah takut siapapun."


"Jaden, kamu jangan membuat masalah dengan rekan bisnisku, atau aku akan lupa bahwa kamu adalah anak angkatku."


"Aku tidak perduli hal itu Tuan Carlos," Jaden menekankan kata-katanya.

__ADS_1


"Pergi dari ruanganku sekarang!"


"Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini. Nara akan ikut denganku dan aku tidak akan memberikan Nara dan bayiku pada Jacob. Nara akan lebih aman bersamaku."


Jaden berjalan pergi dari sana dengan menggandeng Nara. Carlos menatap Jaden dengan sangat tajam. Tangannya mengepal erat.


"Tuan JL, apa Tuan benar-benar akan membawa aku pergi dari sini? Lalu bagaimana dengan Jacob?"


"Jacob akan bisa menerima semuanya. Aku tidak mau kamu dan bayiku dalam bahaya nantinya."


Nara tidak dapat berkata apa-apa, dia langsung memeluk Jaden dengan erat. "Aku merindukan kamu, Tuan JLku."


Jaden tidak dapat menunjukkan ekspresi bahagianya. Jaden sebenarnya ingin bahagia, tapi dia sekarang harus memikirkan keselamatan Nara dan bayinya karena bagaimanapun Jaden tau siapa Carlos yang licik dan tadi Damian juga sudah melihat Nara dan dia pasti akan mengincar Nara untuk membuat Jaden kalah.


"Tuan JL, Tuan JL kenapa? Apa Tuan JL tidak ingin bersama denganku?"


"Bukan seperti itu, Nara. Bisa bersama kamu dan bayi kita adalah hal yang sangat aku inginkan untuk saat ini, tapi aku memikirkan hal yang pasti akan di lakukan Tuan Carlos itu.


"Tuan JL, sebenarnya aku tidak mau menyakiti Jacob. Jacob sangat baik, tapi aku juga tidak bisa jauh darimu."


"Nanti saja kita pikirkan." Jaden membawa Nara pergi dari sana. Mereka menuju mini bar milik Cathy.


Mobil Jaden sampai di depan mini bar Cathy. Nara menahan tangan Jaden saat akan memasuki tempat itu."


"Tuan JL, kenapa kita di sini?"


"Untuk sementara kita di sini dulu sampai aku bicara dengan keluargaku untuk tidak menggangu kamu lagi. Terutama aku harus bicara dengan Jacob. Auw!" Jaden memegang lengan tangannya.


"Kita obati saja dulu tangan kamu."


Jaden membawa Nara masuk dan Cathy agak terkejut melihat mereka berdua. "Kalian? Bergandengan tangan? Apa kalian sudah baikkan?"


"Cathy, aku dan Nara sementara akan tinggal di sini sampai aku bicara dengan Jacob."


"Tentu saja, boleh. Aku tidak keberatan sama sekali. Hey, Nara. Bagaimana kabar kamu?"


"Baik Cathy. Cathy, aku minta maaf karena sudah berpikiran buruk sama kamu."

__ADS_1


Cathy berjalan menuju Nara dan memegang tangan Nara. "Aku senang kamu dan Jaden bisa bersama, apalagi kalian akan memiliki seorang bayi. Aku senang akan menjadi seorang bibi."


Nara benar-benar tidak menyangka jika Cathy ternyata sangat baik.


__ADS_2