
"Hai, nama kamu siapa?" sapa seorang pria yang jika dilihat dari wajah dan penampilannya, usianya sekitar 5 tahun di atas usia Denna.
"Kamu siapa?" Denna agak kaget disapa tiba-tiba seperti itu.
"Aku Farel. Aku sepupu dari kak Citra, dan kamu siapa?" Pria yang bernama Farel itu menjulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
"A-aku Denna, anak dari sahabat paman Jo." Denna mengulurkan tangan menyambut tangan Farel.
"Kamu masih sekolah?"
"Iya, aku masih duduk di bangku kelas tiga SMU. Kamu sendiri?"
"Aku kuliah di Sydney, tapi sekarang sedang liburan. Apa kamu mau minum? Kita bisa mencari minuman di sana sama-sama sambil mengobrol."
Denna bingung, dia menolak apa tidak? Ayah dan mamanya pasti sedang menunggu di sana.
"Minumanku sudah ada di meja. Kenapa kamu tidak ikut bergabung ke sana saja?"
"Bergabung bersama para orang tua? Aku tidak suka berkumpul dengan para orang tua. Pasti sangat membosankan, apa lagi yang mereka bahas selain pekerjaan dan hal lain yang tidak penting."
"Tapi aku senang berkumpul dengan mereka karena banyak pengalaman dari mereka yang bisa aku ambil."
"Pengalaman apa? Zaman mereka berbeda dari zaman kita. Baju yang kamu kenakan itu saja tidak ada pada masa mereka. Akhirnya mereka mengatakan baju kamu terlalu terbuka, padahal kamu sangat cantik dengan baju itu. Iya, Kan?"
Denna melihat mata pria itu memang dari tadi memperhatikan dirinya, apa lagi bagian leher Denna yang terekspose sempurna.
"Aku tidak akan marah jika ada yang mengkritikku, aku malah senang, berarti dia peduli padaku. Farel, aku permisi dulu kalau begitu."
"Denna, tunggu!" Tangan Farel menjulur menghalangi Denna yang mau lewat.
"Nona Denna, udara di sini semakin dingin, sebaiknya Nona masuk ke dalam saja."
Denna agak kaget saat ada sesuatu yang menutupi tubuhnya, dan ternyata itu suit milik Dimas. Dimas berdiri tepat di depan Denna menutupi Farel yang menghadap ke Denna.
"Dimas," ucap lirih Denna memandang Dimas.
"Silakan Nona." Dimas dengan sopan menjulurkan tangannya agar Denna bisa lewat
"Permisi Farel." Denna berjalan pergi dari sana.
"Denna, kita belum selesai bicara!" teriak Farel. Dimas hanya memberinya tatapan dingin lalu berjalan menyusul Denna.
Denna yang berjalan di depan Dimas tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Dimas. Dimas hanya terdiam menatapnya. Denna membuka suit yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Apa penampilanku terlalu terbuka dan apa yang kamu pikirkan melihatku seperti ini?" Dimas hanya diam saja. "Dimas! Jawab aku?"
"Apa kamu nyaman berpakaian seperti itu?"
"Nyaman."
"Ya sudah kalau begitu."
"Tapi kamu pasti sama dengan Farel melihatku dengan mata yang jahat."
Dimas mendekat pada Denna. Gadis itu mendongak memandang Dimas.
"Saya sudah pernah melihat Nona Denna lebih dari ini." Dimas berjalan melewati Denna. Denna terdiam di tempatnya dengan mulut menganga.
"Apa maksud waktu malam itu?" Denna berlari kecil mengejar Dimas sambil memakai kembali suit milik Dimas karena udara di sana semakin dingin. "Dimas, tunggu!" Denna menarik lengan tangan Dimas.
"Nona sebaiknya segera masuk ke dalam rumah karena sepertinya akan turun hujan."
"Dimas, apa waktu itu aku benar-benar tidak memakai apapun?"
"Apa harus kita bahas lagi masalah itu?"
"Aku--?"
Tiba-tiba hujan turun, dan Dimas dengan cepat memeluk Denna untuk menutupi Denna dari terkena air hujan.
"Kok tiba-tiba hujan?" Denna memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan.
Tidak lama ponsel milik Dimas berdering dan ada nama Leo di sana. Uncle Leo bertanya apa Denna bersama dengan Dimas dan Dimas mengatakan jika Denna sedang berteduh bersamanya di halaman belakang.
"Kalau begitu kamu jaga dia di sana sampai hujan redah."
"Baik, Pak."
"Uncle Leo yang menghubungi kamu?" Dimas mengangguk. "Ponselku tertinggal tadi. Hujan ini kapan redahnya?" Denna melihat ke atas langit.
"Apa Nona membutuhkan sesuatu?"
"Aku tidak membutuhkan apa-apa. Aku hanya ingin kembali ke rumah utama dan memakai selimut serta ada coklat hangat di depanku." Denna mengerucutkan bibirnya melihat hujan yang begitu deras.
"Hai, kamu pria yang tadi, kan?" sapa seorang gadis di sana.
Dimas dan Denna melihat ke arah gadis yang tadi Denna lihat sedang berbicara dengan Dimas.
__ADS_1
"Nama kamu Dimas, Kan?" Dimas mengangguk pelan. "Senang sekali bisa bertemu dengan kamu lagi di sini. Pria dingin itu hanya memberi senyuman datar.
"Kalian kenal?" tanya Denna.
"Kami baru bertemu di sini."
"Dimas, dia siapa kamu?" Gadis itu melihat pada Denna.
"Dia kekasihku." Denna menggandeng tangan Dimas. Dimas hanya terdiam tangannya di gandeng oleh Denna. "Kita permisi dulu ya. Aku capek dari tadi berdiri."
Denna mengajak Dimas mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk duduk. Akhirnya Denna duduk di bawah dengan kaki diluruskan.
Dimas ikut berjongkok dan melepaskan high heels Denna. Denna agak terkejut karena dia memang dari tadi ingin melepaskan sepatunya yang membuat kakinya capek.
"Maaf, ya, Dimas, aku tadi mengatakan jika kamu adalah kekasihku karena aku tidak mau kamu mengatakan jika kamu adalah bodyguard aku. Aku nanti dikira anak manja yang harus di
kawal seorang bodyguard."
"Tidak apa-apa. Saya juga berterima kasih karena saya juga tidak mau ditanya terus oleh gadis itu."
Denna tersenyum kecil. "Aku tau tipe gadis seperti mereka pasti akan mengejar kamu terus dan mencari perhatian sama kamu. Bahkan akan terus mengganggu kamu."
"Saya tidak enak jika mengacuhkan mereka, bagaimanapun mereka seorang wanita."
Denna agak kaget dengan jawaban Dimas. Dimas ternyata sangat menghormati seorang wanita.
Denna duduk di sana sedangkan Dimas berdiri di depan Denna agar air hujan yang agak deras tidak mengenai Denna yang tampak mengantuk.
Denna duduk dengan kepala miring ke kiri karena mengantuk.
Dimas segera duduk di samping Denna dan menaruh kepala Denna tepat di pundaknya. Kedua mata Dimas memandangi wajah Denna yang sedang tertidur di pundaknya.
Dimas membenarkan suit yang di pakai Denna agar menutup bagian depan tubuh Denna.
Hampir dua jam Denna dan Dimas berada di sana sampai hujan akhirnya redah.
Denna terbangun dan dia agak kaget saat kedua matanya menatap wajah pria yang menjadi bodyguardnya sedang memejamkan kedua matanya berada sangat dekat dengannya.
"Wajahnya sangat menggemaskan kalau dilihat lebih dekat begini, tapi kalau kedua matanya terbuka kenapa dia kadang mengesalkan sekali?"
Dimas tiba-tiba mengerjap dan kedua pasang mata itu saling mematri satu sama lain dalam beberapa detik.
"Nona sudah bangun? Hujannya sudah redah, sebaiknya kita kembali ke dalam rumah utama."
__ADS_1
Dimas berdiri dari tempatnya dan membantu Denna untuk berdiri juga. Dimas memberikan sepatu Denna.
"Aku tidak mau memakai sepatunya. Kakiku sakit."