
V tidak tau jika Denna melihatnya. Denna merasa kasihan sama V, tapi juga ingin tertawa.
"Kamu ternyata baik sekali, V." Denna tersenyum kemudian dia kembali berjalan menuju poli anak.
Tepat pukul tiga sore. Diaz sudah menunggu di kantin untuk makan siang dengan Denna, tapi Denna masih berada di ruangan dokter setelah tadi visit ke kamar rawat inap anak-anak.
"Denna mana? Apa dia belum selesai dengan dokter Cahaya? Aku sudah lapar. Lebih baik aku makan dulu saja."
Denna ternyata sudah selesai dari tadi, tapi dia tidak ke kantin melainkan menunggu V di ruangan poli pemyakit dalam setelah dia bertanya pada teman-teman V di lantai atas.
Tidak lama Denna melihat orang yang dari tadi dia tunggu keluar dari ruangan dokter.
"V," panggil Denna.
"Denna? Kenapa kamu berada di sini?"
"Menunggu kamu."
"Menungguku? Untuk apa?" V tampak bingung.
"Ikut aku sebentar." Denna tiba-tiba menggandeng tangan V. Dia membawa V duduk di taman kecil yang ada di sana.
"Ada apa, Denna?"
"Kamu duduk di sini dulu dan angkat kaki kamu di sini." Denna menarik kaki V dan menaruhnya di atas bangku panjang di sana.
"Denna, kamu mau apa?"
"****! Diam dulu. Kalau cerewet aku tidak mau bicara dengan kamu lagi."
V akhirnya terdiam dan membiarkan Denna melakukan apa yang dia mau.
"Tadi aku sudah bertanya pada salah satu perawat di sini tentang bagaimana merawat luka memar dan bengkak akibat terbentur sesuatu, dan dia memberiku cairan alkohol untuk di tuang ke kasa ini dan dibalutkan pada kaki yang bengkak."
"Kamu tidak perlu melakukannya, Denna. Aku baik-baik saja."
"Kamu baik-baik saja atau pura-pura kuat?" Denna terkekeh. "Jangan sok kuat, padahal aku lihat kamu mengusap-usap kaki kamu yang sakit saat tidak ada orang melihatnya."
"Jadi kamu melihatnya."
"Iya, dan kamu lucu sekali." Denna terkekeh lagi sambil membalut kaki V. V dan Denna tampak akrab bahkan mereka makan siang di sana dengan bekal omelette dari V yang dari tadi di bawa oleh Denna.
Malam itu nenek dan Denna akan bersiap-siap pergi makan malam berdua di restoran milik teman nenek yang baru saja di buka.
__ADS_1
"Nek, kenapa ayah dan mama belum menghubungiku? Uncle Leo juga."
"Kamu itu lupa kalau perjalanan mereka di San Fransisco memakan waktu lama. Mungkin besok baru mereka sampai dan akan menghubungi kamu."
"Aku terlalu kangen sama mereka sampai lupa." Denna yang duduk di kursi belakang memeluk neneknya.
"Baru di tinggal tadi pagi sudah kangen. Apa mau menyusul mereka ke sana? Nanti nenek akan atur keberangkatan kamu."
"Tidak, Nek. Aku juga mau mendekati ujian. Aku menunggu ayah menghubungiku saja."
Mereka sampai di sebuah restoran yang cukup besar dan ada banyak orang yang sudah berada di sana. Denna dan Neneknya masuk. Mereka tak lupa mengajak Dimas untuk ikut juga.
"Bagus sekali restoran ini, Nek. Ada out doornya dan pemandangan di sini indah sekali."
"Teman nenek ini memang suka dengan alam."
Tidak lama mereka dihampiri oleh teman nenek pemilik restoran itu.
"Miranti, aku senang kamu bisa datang. Ini Denna cicit kamu yang sering kamu ceritakan?"
"Iya, ini cucuku Denna. Denna ini nenek Laura."
"Halo, Nek, namaku, Denna. Nenek punya restoran yang sangat indah dan cantik sekali."
Nenek Miranti menahan senyumnya. Wajah Denna seketika bingung mau menjawab apa. Dia hanya tersenyum. Pun dengan Dimas.
Mereka menikmati makan malam bersama. Saling bercerita juga.
Nenek menyuruh Denna berjalan-jalan mengelilingi restoran itu berdua.
"Dimas, aku mau mengambil kue coklatnya dulu. Tadi nenek Laura mencicipi aku kue coklatnya dan ternyata sangat enak.
"Mau saya ambilkan?"
"Tidak perlu, aku saja yang mengambilnya."
Denna mengambil dua potong dan membawanya pads Dimas. "Ini untuk kamu satu. Kalau tidak mau berikan padaku."
"Nona mau?"
"Tidak, aku hanya bercanda." Denna tertawa kecil.
Mereka berdua menikmati kue masing-masing. Denna makan dengan pelan-pelan biar kuenya tidak cepat habis. Menurutnya.
__ADS_1
"Nona, ada sisa kue coklat di hidung Nona Denna."
"Oh ya?" Denna yang kaget segera membersihkan hidungnya. "Apa sudah hilang?" Dimas menggeleng pelan. "Masih ada?" Dimas mengangguk. Denna sekali lagi mencoba membersihkan lagi.
"Masih ada sedikit lagi, Nona."
"Masak, sih?" Denna bingung kenapa sisa kuenya masih ada? Padahal dia tidak makan dengan belepotan.
"Maaf, saya hanya bercanda dengan Nona Denna," bisik Dimas.
"Dimas" seru Denna kesal. Denna langsung mengambil kesempatan mencolekkan kue coklat pada hidung mancung Dimas. "Kue coklat itu sekarang beneran di hidung kamu, Dimas." Denna tertawa.
Dimas hanya tersenyum. "Balas dendam ya?"
"Iya. Wajah kamu lucu sekali." Denna yang tidak tega akhirnya membersihkan coklat yang ada di hidung Dimas. Dimas hanya menunduk sambil menatap gadis yang sedang mengelap hidungnya dengan tisu.
"Di bibir Nona Denna juga ada coklatnya."
"Jangan menjahiliku lagi, Dimas." Denna mengerucutkan bibirnya.
"Saya tidak berbohong. Biar saya bersihkan." Dimas mengusap lembut bibir Denna. Bibir yang pernah dikecupnya sangat dalam.
Denna merasakan getaran yang menyenangkan karena sentuhan Dimas.
"Denna, Dimas, kita pulang sekarang," panggilan nenek membuat mereka kaget dan tersadar dari buaian mereka masing-masing.
"Iya, Nek." Denna berjalan dengan Dimas ke meja nenek.
"Kata Nenek Laura ada parade dan pasar malam di jalan utama hari ini. Apa kamu mau melihatnya?"
"Wah ...! Pasti ramai dan menyenangkan sekali acara di sana. Aku mau melihatnya, Nek. Aku tidak mau melewatkan acara yang hanya setiap lima tahun sekali diadakan."
"Ya sudah kita ke sana sekarang." Mereka pamit pada Nenek Laura dan pergi dari sana.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit mereka sudah sampai di tempat yang Denna ingin kunjungi. Suasana di sana sangat ramai. Banyak orang-orang yang sepertinya antusias untuk melihat acara tersebut.
"Denna, kita masuk sekarang saja." Denna mengangguk dan menggandeng tangan neneknya, sedangkan Dimas berjalan di belakang mereka.
Nenek yang dari tadi berkeliling memilih duduk di salah satu stand bazar yang ada di sana untuk membeli minuman.
"Nek, apa mau pulang saja?" tanya Denna yang tau neneknya pasti kecapekan.
"Tidak apa. Nenek duduk di sini saja. Kamu kalau masih mau berkeliling ajak saja Dimas."
__ADS_1
Denna melihat ke arah Dimas, kemudian berpaling lagi pada neneknya. "Sebenarnya aku mau membeli gantungan kunci yang lucu-lucu di sana tadi. Nanti gantungan itu mau aku berikan pads anak-anak di rumah sakit."