
Denna berjalan menuju di mana Dimas menunggu di depan mobil hitam miliknya.
"Silakan Nona Denna." Dimas membukakan pintu belakang.
"Aku tidak mau duduk di belakang." Denna membuka pintu depan dan dia duduk di sana. Dimas yang melihatnya hanya diam saja. Dia kemudian masuk ke dalam dan mulai menjalankan mobilnya.
Denna tampak melihat pada Dimas yang fokus mengemudi. Tidak lama ponsel Denna berdering dan itu dari Diaz.
"Halo, Diaz."
"Denna, syukurlah kamu menjawab panggilanku. Aku khawatir dari semalam menghubungi kamu."
"Aku baik-baik saja."
"Kemarin malam kamu mengirimi aku pesan kalau kamu pulang duluan karena harus pergi ke tempat ayah kamu."
Denna melihat pada Dimas. "Iya, aku memang mau pergi ke tempat ayahku. Diaz, nanti aku hubungi lagi."
"Denna, kamu harus cerita ada apa kemarin malam. Kamu sudah janji padaku."
"Iya, nanti aku pasti cerita sama kamu. Kalau begitu sudah dulu, ya?"
"Okay!" Denna dan Diaz mengakhiri panggilan dan kembali Denna melihat pada Dimas yang masih saja fokus menyetir.
"Dimas, apa kemarin kamu yang mengirim pesan pada Diaz? Kamu tidak bercerita apa-apa pada Diaz, Kan?"
"Nona bisa melihat sendiri apa yang saya kirim pada teman, Nona," ucap Dimas tanpa melihat pada lawan bicaranya.
"Kenapa kamu tidak izin dulu padaku dan malah memakai ponselku seenaknya?"
"Saya minta maaf," ucapnya singkat.
"Lain kali kalau ada yang menghubungiku di ponsel, kamu matikan saja tidak perlu membuka ponselku. Lain kali akan aku pakai sandi saja pada ponselku."
Dimas tidak menjawab, dia masih fokus mengemudi mobilnya. Denna pun akhirnya memilih melihat pada luar jendela. Denna mematikan AC mobilnya dan membuka kaca jendela. Denna bersandar pada jendela mobil menikmati udara pagi itu yang cukup segar karena rute ke arah tempat Paijo melaksanakan acara pertunangan terletak di atas bukit.
"Dimas, berhenti sebentar!"
Dimas kemudian perlahan menepikan mobilnya. Denna segera keluar dari dalam mobil berlari menuju orang yang jualan ice cream yang ada di sana.
__ADS_1
Dimas berjalan perlahan menghampiri Denna yang sedang mengantri untuk membeli ice cream.
"Nona menunggu saja di dalam mobil. Biar saya yang membelikan ice creamnya."
"Memangnya kamu tau rasa ice cream kesukaanku?" Denna melihat pada Dimas serius.
"Coklat dan vanilla. Tidak suka pada stroberi."
Denna agak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dimas.
"Kamu tau semua tentang aku?" Dimas mengangguk. "Apa kamu selama ini disuruh ayahku mengikutiku? Sudah berapa lama?"
"Saya baru saja mengikuti Nona Denna."
"Bohong! Kamu pasti sudah lama mengikutiku, tapi aku tidak tau." Dimas hanya terdiam.
"Nona, tukang ice creamnya." Dimas memberitahu jika antrian depan Denna sudah tidak ada.
Denna memilih membeli ice cream dulu, dan setelah itu dia akan bertanya lagi pada Dimas.
"Aku belikan dia ice cream apa tidak ya?" Denna bingung dan melihat pada Dimas yang berdiri tidak jauh darinya. "Kamu mau ice cream rasa apa, Dimas?"
"Maaf, saya tidak suka ice cream."
Di tangan Denna sudah ada dua buah ice cream dan dia membayarnya. "Kembaliannya untuk ibu saja."
"Terima kasih."
Denna yang mau pergi dari sana, tapi tiba-tiba Denna kaget melihat
ada dua orang dengan penampilan seperti preman meminta uang pada ibu penjual ice cream di sana.
"Maaf, hari ini aku tidak bisa memberi uang sama kalian karena uangnya untuk berobat anakku yang sedang sakit."
"Siapa yang peduli? Kamu harus memberikan uang keamanan seperti biasanya. Mana?" Tangan preman itu mengacak-acak isi dompet yang preman itu tau di sana ibu penjual ice cream itu menyimpan uang.
"Jangan! Besok akan aku beri uang, ini untuk berobat anakku." Ibu itu berusaha mempertahankan dompetnya.
"Nona, ayo kita pergi sekarang." Denna mempersilakan Denna untuk naik ke mobil.
__ADS_1
Denna ingin tidak peduli masalah itu, tapi hatinya seolah tidak bisa membiarkan hal itu. Dia memberikan dua buah ice cream di tangan Dimas, dia kemudian menghampiri kedua preman itu.
"Aku akan memberi kalian uang, tapi tinggalkan ibu itu dan jangan mengganggunya lagi."
Kedua preman itu melihat dari atas ke bawah memindai Denna. "Cantik sekali. Bagaimana kalau kamu ikut bersenang-senang dengan kami saja?"
"Ini uang untuk kalian dan pergi dari sini." Denna memberikan beberapa lembar uang pada kedua preman itu.
Salah satu dari mereka mengambil dengan cepat uang dari tangan Denna. "Ayo ikut dengan kami, maka kami akan membuat kamu bahagia."
"Pergi kalian dari sini!" usir Denna ketus.
Preman itu pergi dari sana. Dimas hanya diam melihati apa yang dilakukan oleh Denna. Ibu penjual ice cream itu mengucapkan terima kasih.
"Kamu kenapa diam saja melihat hal buruk yang mereka lakukan?" Denna bertanya pada Dimas yang masih memegang ice cream Denna.
"Tugas saya hanya melindungi Nona Denna. Saya tidak suka ikut campur dengan masalah orang lain."
Denna tidak percaya ada orang dengan sikap sedingin dan tidak peduli seperti Dimas.
Denna mengambil ice creamnya dari tangan Dimas. "Sebenarnya aku ingin memberikan satu ice cream itu buat kamu, tapi setelah mengetahui sikap kamu itu, aku jadi tidak ingin memberikannya." Denna mengedarkan pandangannya dan di sana dia melihat ada dua orang remaja sedang berbincang dan Denna memberikan salah satu ice creamnya.
Dimas sekali lagi hanya melihat datar dan Denna masuk lagi ke dalam mobil menikmati ice creamnya.
Dimas menjalankan mobilnya meneruskan perjalanan. Tidak jauh dari sana Denna melihat dua orang preman itu sedang minum-minum.
"Menjengkelkan! Mereka merampas uang pedagang kecil untuk membeli minuman dan membuat rusuh. Aku tidak rela memberikan uangku tadi." Denna mendengus kesal.
Dimas yang mendengar hal itu tiba-tiba memutar arah stir mobilnya dan berhenti tepat tidak jauh dari dua orang preman itu.
Dimas turun dan menghampiri kedua preman itu. "Saya minta kalian memberikan uang lima ratus ribu yang Nona Denna sudah berikan pada kalian tadi."
"Kamu itu siapa? Jangan ganggu kita di sini. Pergi sana!" usirnya.
Dimas menarik baju salah satu preman yang tadi mengambil uang Denna dan merampasnya dari saku baju preman itu.
"Hei! Kamu berani sekali!" Tangan preman itu hampir memukul wajah Dimas, tapi dengan cepat Dimas menahannya dan memukul wajah preman itu dengan cepat. Mereka terlibat perkelahian.
Denna yang duduk di dalam mobil seketika keluar, tapi dia tidak berani mendekat.
__ADS_1
Pyar!
Salah satu preman itu memecahkan botol minumannya dan mau menusukkan pecahan botol itu pada perut Dimas, tapi Dimas yang sudah terlatih bela diri bisa menahan tangan preman itu.