Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sweet yang Berlanjut


__ADS_3

Hampir dua jam Dimas dan Denna berada di dalam mobil. Denna tertidur nyenyak pada dada bidang Dimas. Dada Dimas seolah menjadi tempat tidur yang nyaman untuk Denna.


Pria yang sedang mendekap Denna dalam pelukannya memperhatikan terus wajah Denna yang tengah terpejam.


"Semoga masih lama pohon itu dipindahkan," ucap Dimas diiringi dengan senyum tipisnya.


Tidak lama ponsel Dimas berbunyi dan dia melihat nama adiknya di sana.


"V, ada apa? Halo, V, ada apa?"


"Kak Dimas, di mana? Apa Kakak baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Kamu kenapa nada bicaranya seperti khawatir begitu? Kamu baik-baik saja, Kan?"


"Kak, aku melihat berita di kampus hari ini tentang Kakak. Kenapa Kak Dimas begitu ceroboh dan bertindak tidak berpikir lebih dulu?" suara adik angkat Dimas terdengar marah.


"V, aku baik-baik saja dan kamu jangan khawatir. Aku masih di jalan karena di sini mengalami kemacetan. Kamu di mana?"


"Aku masih di kampus dan aku baik, Kak. Kak, tolong jangan berbuat hal yang bisa membahayakan Kakak. Pikirkan juga tentang diri kamu sendiri."


"Aku minta maaf membuat kamu khawatir."


"Di dunia ini aku hanya memiliki Kakak. Aku tidak mau sampai kehilangan Kak Dimas."


"Kamu itu seorang pria, dan kamu harus kuat. Suatu saat mungkin bukan kamu kehilangan aku, tapi aku yang kehilangan kamu kalau kamu kelak menikah."


Adik Dimas tampak terdiam. V ingat jika dulu kakaknya pernah bicara jika Dimas akan menikah jika V sudah menikah lebih dulu. Dia akan memastikan adiknya bahagia dengan keluarga kecilnya. Mereka juga tidak boleh tetap satu atap jika salah satu sudah menikah.


"Kakak jaga diri baik-baik."


"Kamu juga."


Mereka mengakhiri panggilannya. Denna yang mendengar pembicaraan Dimas dengan adiknya terbangun. Kepalanya terangkat ke atas melihat wajah tampan yang sedang juga menatapnya.


"Kamu bicara dengan adik kamu?"


"Iya. Nona Denna kenapa sudah bangun?"


"Jam berapa sekarang?"


"Lima sore. Petugas juga baru saja datang, mungkin sebentar lagi kita bisa pulang."


"Seharusnya nanti saja petugasnya datang," celetuk Denna dengan masih memeluk Dimas.


"Memangnya Nona Denna tidak mau pulang?"


"Kalau aku nyaman di sini apa kamu keberatan?" Dimasa menggeleng. "Atau kamu takut kekasih kamu melihat kita?" tanya Denna lirih.

__ADS_1


"Saya tidak memiliki kekasih."


Denna seketika beranjak dari dada Dimas. "Kamu serius belum memiliki kekasih? Kamu pasti berbohong?"


"Saya tidak memiliki kekasih karena saat ini saya tidak ada waktu memikirkan hal itu."


"Apa benar?" desak Denna sekali lagi yang tidak percaya jika Dimas tidak mempunyai kekasih. "Kamu tampan dan sikap kamu sangat baik. Tidak mungkin kamu tidak memiliki kekasih."


"Jadi menurut Nona Denna saya tampan?" Dimas tersenyum manis sekali pada Denna.


Denna yang merasa seharusnya tidak bicara memuji Dimas tampak bingung. "Iya, kamu tampan, tapi tidak terlalu." Denna mengalihkan pandangannya.


"Terima kasih atas pujiannya."


"Dimas, memangnya kamu tidak pernah berpacaran?" Denna kembali melihat wajah Dimas.


"Pernah. Dulu waktu saya masih sekolah SMA saya memiliki pacar, tapi kita hanya berpacaran sebentar karena dia harus pindah ke luar kota."


"Oh ya? Kenapa kalian harus putus? Kalian bisa berpacaran jarak jauh bukan?"


Dimas terdiam sesaat. "Orang tuanya tidak menyukai saya karena dia anak dari seorang pengusaha kaya raya."


"Kalian terpaksa putus?"


"Mungkin ini lebih baik. Dia juga bisa lebih tenang karena tidak harus dianggap berani melawan orang tuanya jika terus berpacaran denganku."


Dimas terdiam sejenak. Tidak lama terdengar suara perut Denna yang lapar. "Nona Denna lapar?"


"Sedikit?"


"Setelah mobil ini bisa jalan, saya akan membawa Nona Denna mencari makanan."


"Tidak perlu, aku membawa roti sandwich di dalam tasku. Tadi di kampus aku membelinya." Denna beranjak dari dada Dimas dan meraih tasnya di kursi sebelah.


"Biar saya ambilkan."


Dimas memberikan satu potong roti sandwich yang masih di kemas plastik. "Hanya satu? Ya Tuhan aku lupa kalau tadi aku berikan pada Diaz."


"Nona makan saja rotinya biar tidak sampai sakit."


"Kamu tidak makan? Kamu juga dari tadi belum makan dan kehujanan."


"Saya tidak lapar. Nona makan saja rotinya."


Denna membuka rotinya dan membaginya jadi dua. "Kita bagi dua. Aku tidak mau makan kalau kamu tidak makan."


"Tapi nanti Nona Denna pasti tidak cukup."

__ADS_1


"Mau atau kita tidak jadi makan semua?" Denna menyodorkan rotinya pada Dimas.


Dimas tidak menjawab, tapi dia menggigit roti yang Denna sodorkan. Denna langsung tersenyum dan mereka berdua menikmati roti sandwich sampai habis.


Beberapa jam kemudian. Jaden, Nara, Leo serta nenek yang menunggu Denna pulang di ruang tengah, mendengar suara mobil masuk halaman besar rumah nenek.


"Itu pasti Denna datang. Kenapa mereka baru datang sekarang? Apa masih terjebak macet?"


Jaden berjalan keluar diikuti oleh yang lainnya.


Dimas membukakan pintu untuk Denna dan Jaden amat terkejut melihat penampilan Denna memakai kemeja kebesaran milik Dimas. Tidak hanya itu, dia juga kaget melihat Dimas yang hanya memakai celana panjang dan hanya memakai selimut.


"Denna? Dimas? Apa yang sudah terjadi?"


Jaden yang tiba-tiba berpikiran buruk langsung melayangkan tinjunya pada Dimas yang tidak siap dan--.


Bruk!


Terdengar sesuatu jatuh. Dimas tersungkur di atas tanah dan ada darah segar keluar dari tepi bibirnya.


"Ayah! Apa yang ayah lakukan?" teriak Denna kaget.


Nara segera berlari menuju suaminya dan menahan tubuh Jaden.


"Sayang kamu kenapa?"


"Apa yang sudah kamu perbuat pada putriku? Aku percaya sama kamu, tapi apa yang sudah kamu lakukan? Jawab aku, Dimas?" bentaknya.


"Tuan Jaden jangan salah paham. Saya tidak melakukan apa-apa pada Nona Denna," jelas Dimas yang dibantu Leo berdiri.


"Ayah ini kenapa tiba-tiba marah? Dimas dan aku tidak melakukan hal di luar batas. Dimas masih tau batasannya, Yah." Denna berusaha menjelaskan pada ayahnya apa yang terjadi.


Raut wajah Jaden seolah lega mendengar apa yang Denna katakan. Bagaimanapun juga Jaden adalah seorang ayah yang sangat sayang pada putrinya. Dia juga pasti khawatir terjadi apa-apa dengan putri semata wayangnya saat melihat Denna pulang malam dengan penampilan seperti itu.


"Maafkan Jaden ya, Dimas. Jujur saja nenek juga kaget tadi, tapi nenek percaya jika kamu pasti menjaga Denna dengan baik."


"Iya, Nyonya Besar. Saya tidak marah sama sekali." Dimas menghapus bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Lihat, Yah! Bibir Dimas sampai berdarah. Kenapa ayah jadi emosi seperti ini?"


Denna mendekat pada Dimas dan mencoba memeriksa bibir Dimas. "Kamu tidak apa-apa, kan, Dimas?"


"Saya tidak apa-apa, Nona Denna."


Jaden melihat pada istrinya, dan Nara wajahnya tampak mengisyaratkan sesuatu pada suaminya.


"Huft!" Hela napas Jaden.

__ADS_1


__ADS_2