Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Keputusan Sulit


__ADS_3

Nenek senang sekali bisa berkenalan dengan Paijo atau Jo karena Jo orangnya sangat baik dan sangat sopan.


"Nara, nanti kita beritahu Jaden tentang Renata. Nenek tidak mau kalau sampai dia melukai kamu. Andai Renata tidak jahat seperti ini, pasti nenek akan sangat senang bisa memiliki dua cicit sekaligus di rumah."


"Aku juga akan sangat senang, Nek, jika Renata dan Jacob tidak menjadi jahat."


"Sebaiknya jangan, Nek. Aku yakin orang kejam seperti mereka tidak akan pernah mau sadar. Mereka akan terus menyakiti."


"Jangan mempunyai pemikiran yang buruk, Jo. Paijo, kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Aku tadi ingin bertemu dengan rekan bisnisku di restoran atas, tapi malah melihat kamu dan perut besar kamu saat menuruni eskalator."


"Terima kasih, Nak, Jo. Kamu sudah baik sekali menolong Nara."


"Nenek ini, tidak perlu begitu. Bagaimanapun Nara dan calon bayinya adalah keluargaku juga karena Nara sudah aku anggap saudara."


"Anggap saudara? Enak saja! Siapa yang mau menjadi saudara kamu, Paijo?"


"Dasar! Awas ya kalau kangen sama aku. Aku tidak akan mau bertemu kamu kecuali kalau kamu sudah melahirkan. Aku mau melihat calon keponakan aku."


Nara terkekeh kecil diikuti oleh Nenek. "Aduh! Nek, perutku kenapa begini?" Nara membungkuk memegangi perutnya yang besar.


"Jangan bercanda, Nara. Kamu kuwalat tadi tidak mau aku anggap seperti saudaraku."


"Jo, perutku sakit." Nara meremas kemeja yang dipakai oleh Paijo.


"Nara kamu serius?" Wajah Jo seketika panik.


"Jo, sakit!" Nara mulai berteriak.


"Paijo, tolong. Nara sepertinya mau melahirkan."


Paijo dengan cepat menggendong Nara dan berlari menuju parkiran mobil. Nenek duduk di belakang dan menyangga kepala Nara. Nenek menyuruh supir menghubungi Jaden agar segera ke rumah sakit milik Will.


"Nara, bertahanlah. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit secepatnya."


"Jaden! Perutku sakit!" teriak Nara memanggil nama suaminya.


Sebelumnya di kantor Jaden. Saat Jaden selesai rapat dengan Leo. Dia didatangi oleh musuh bebuyutannya, yaitu Damian.


"Ada apa kamu ke sini?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tau saja katanya kamu tiga kali mengalami hal buruk." Dia melihat Jaden dari atas sampai bawah.


"Keluar dari ruanganku, Damian, kamu tidak diharapkan ada di sini."

__ADS_1


"Aku heran, kenapa Tuhan masih menyelamatkan kamu terus? Apa yang istimewah dari kamu?"


"Pergi dari sini!" usir Jaden.


"Tuan Damian, sebaiknya Tuan tidak membuat keributan di sini karena akan tidak baik untuk Tuan sendiri," terang Leo.


"Kamu tenang saja pengawal bodoh!" Telunjuk Damian mendorong dada Leo. Leo hanya bisa melihatnya.


"Aku sedang sibuk dan kamu hanya sebagai hama jika ada di sini."


"Aku ke sini karena aku masih berbaik hati ingin mengundang kamu agar bisa datang ke pernikahan adikku-- Mauren. Kamu pasti masih ingat dengan adikku, kan? Ini undangannya." Damian meletakkan undangan di atas meja kerja Jaden.


Jaden membaca sekilas undangan itu. "Jadi adik kamu sudah mendapatkan pria yang tepat? Semoga saja adik kamu berubah dan berhenti memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri." Jaden menyobek undangan itu dan melemparkannya ke dalam tong sampah yang ada di sana.


Damian yang melihat hal itu ingin sekali menghantam wajah Jaden, tapi dia tau sedang berada di mana.


"Aku minta maaf jika tidak bisa menghadiri pesta pernikahan Mauren karena ada hal lebih berguna lagi yang bisa aku lakukan daripada harus datang ke pesta itu. Kalau tidak ada yang mau kamu lakukan lagi, silakan pergi dari sini. Leo, bisa antarkan Damian keluar dari ruanganku?"


"Dengan senang hati, Tuan." Leo menunjukkan arah pintu pada Damian.


"Suatu saat, kita akan bermain lagi. Jaden Luther." Damian pergi dengan wajah kesal dari kantor Jaden.


"Bagaimana dia bisa keluar dari penjara itu?"


"Aku tidak mengetahui kabar itu."


"Dan sampai sekarang juga belum diketahui jika Renata dan adik Tuan yang melakukannya. Mungkin ayah Tuan yang melindungi mereka."


"Seperti biasa, Leo."


Tidak lama Jaden mendapat panggilan dari supir Jaden. Jaden sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh supir pribadinya.


"Tuan ada apa?"


"Leo, ikut denganku segera ke rumah sakit. Nara mau melahirkan dan sekarang sedang dibawa oleh Jo ke sana."


"Apa? Nara mau melahirkan?"


"Ayo, Leo!" teriak Jaden yang ingin menyaut kunci mobil, tapi tangan Jaden kalah cepat dengan tangan Leo.


"Biar saya saja yang mengemudi, Tuan. Kalau Tuan nanti yang mengemudi yang ada kita nanti dirawat di rumah sakit."


"Terserah kamu. Ayo cepat!"


Leo segera turun dengan Jaden dan meluncur dengan cepat ke rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil Jaden sampai di depan rumah sakit. Jaden melangkah keluar dengan cepat dan menuju ke tempat di mana Nara dirawat.


"Nek, bagaimana keadaan Nara?"


Nenek memeluk erat Jaden. "Nenek belum tau, tadi dokter menyuruh nenek keluar karena keadaan Nara sedang tidak baik."


"Apa maksud Nenek tidak baik? Bukannya setiap aku memeriksakan kandungan Nara. Nara baik-baik saja."


"Kata dokter keadaan Nara seperti ini karena di duga terkejut akan suatu hal yang berlebihan sehingga membuat janin dalam perutnya ada masalah."


"Terkejut? Memangnya Nara kenapa?"


Tangan Paijo menepuk pundak Jaden. "Tadi Nara bertemu dengan wanita rubah itu."


Jaden mengerutkan kedua alisnya. "Siapa maksud kamu? Renata?"


"Iya, dia bertemu Renata dan Renata sekali lagi hampir membuat Nara celaka."


"Apa? Celaka?" Jaden melihat pada neneknya dan nenek Miranti menceritakan apa yang terjadi.


Jaden sangat terkejut mendengar hal itu. Jaden sudah tidak mau mengurusi lagi tentang Renata dan Jacob saat mengetahui Renata hamil anak Jacob, tapi kali ini Renata sekali lagi mencari masalah dengannya.


"Kurang ajar!" Jaden mencengkeram tangannya dengan menahan marah.


Tidak lama dokter keluar dari ruangannya. "Dok, bagaimana dengan istriku?" tanya Jaden cemas.


"Tuan Jaden, kami akan melakukan tindak operasi pada istri tuan Jaden, tapi--." Dokter itu terdiam sejenak.


"Tapi apa, Dok? Jangan bertele-tele kalau bicara!" Jaden tampak emosi.


"Jaden, sabar dulu." Nenek berusaha menenangkan cucunya yang sedang diliputi kecemasan.


"Kamu harus memilih salah satu dari mereka yang bisa diselamatkan."


"Apa?" Jaden seolah disambar petir di siang bolong mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu.


"Kamu harus segera mengambil keputusan."


"Keputusan? Kenapa harus keputusan seperti ini yang harus aku ambil." Jaden berteriak bingung dan menangis.


Nenek yang melihatnya tampak ikut sedih dan hancur. Wanita tua itu memeluk cucunya dengan erat.


"Tuan Jaden, cepat ambil keputusan karena waktu kita tidak banyak."


Tidak lama Nara yang sedang kesakitan di atas ranjang di dorong oleh beberapa perawat untuk di bawa ke ruang operasi.

__ADS_1


__ADS_2