Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Makan Malam


__ADS_3

Jaden menggandeng tangan Nara dan mereka berjalan masuk ke dalam ruangan khusus untuk tamu khusus di sana.


"Ayah! Kenapa ayah berbohong padaku?" tanya Mona kesal pada ayahnya.


"Apa maksud kamu berbohong?"


"Katanya Nara ayah jual pads seorang pria tua yang jelek dan akan menjadikan Nara pelayan di rumahnya, tapi apa?" ucapnya sekali lagi kesal.


"Iya, ayah bilang sudah menyingkirkan Nara dan membuat anak itu hidup menderita, tapi kenapa dia malah dinikahi oleh pria tampan dan kaya seperti Jaden?" Bibi Soraya juga tampak kesal.


"Kalian ini bicara apa? Kenapa membicarakan Kak Nara seperti itu?" celetuk gadis kecil yang ternyata mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya dan kakaknya.


"Anak kecil kamu diam saja! Atau aku pukul mulut kamu!" bentak Mona pada adiknya.


Gadis kecil itu langsung terdiam dan kembali menikmati makanannya.


"Nara tidak mungkin menikah dengan Tuan Muda Jaden. Aku dengar Tuan Jaden itu sangat dingin dan anti dengan wanita. Pasti ada yang tidak benar ini?" Paman Benu tampak berpikir.


"Kalau tau seperti ini jadinya. Lebih baik waktu itu aku saja yang ayah berikan pada pria tampan dan kaya itu. Lihat saja pakaian yang dipakai Nara sangat bagus dan itu pasti mahal, dan sekarang dia juga diajak makan malam romantis di restoran mewah. Mereka juga memesan tempat khusus di sini agar dapat berdua. Pasti benar jika Jaden sudah menikahi Nara!" Sekali lagi Mona mendengus kesal.


Paman Benu melihat pada istrinya. "Aku akan menemui Tuan Muda Jaden ke sana. Jika dia memang sudah menikah dengan Nara, maka aku akan mencoba berbicara pada Nara agar mau membantuku membayar hutangku pada Tuan Tanah itu."


Pria paruh baya yang menjadi paman Nara itu berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju ruangan di mana Nara dan Jaden sedang kencan. Emangnya Jaden tau bagaimana mengajak seorang gadis kencan?


"Tuan, di luar tampak ada keributan," ucap Nara di tengah-tengah mereka makan bersama.


Tidak lama salah satu pengawal Jaden yang berada di luar masuk dan memberitahu jika ada seorang pria paruh baya yang mengaku paman Nara ingin bertemu dengan Nara.


"Paman Benu? Ada apa ingin bertemu denganku?"


"Baiklah! Kamu biarkan dia masuk. Aku juga ingin tau apa yang dia inginkan?"


Tidak lama paman Benu masuk dan dia tampak melihat pada Nara. "Ada apa kamu ke sini?"


"Maaf, Tuan Muda Jaden, saya ke sini ingin bertemu dan bicara sebentar dengan Nara."


"Untuk apa?" Tatap Jaden tegas.

__ADS_1


"Ada yang ingin saya bicarakan sebentar, saya mohon Tuan Jaden mengizinkan."


Jaden melihat pada Nara dan Nara tampak menatap Jaden dengan tatapan yang Jaden sendiri tidak tau maksudnya.


"Nara, bisa paman bicara sama kamu?"


"Maaf, Anda siapa? Aku sejak kedua orang tuaku meninggal, sudah tidak memiliki keluarga. Paman dan Bibiku bahkan sudah menganggap aku tidak ada, jadi aku tidak mengenal Anda."


Jaden menyeringai mendengar hal itu. "Kamu dengar sendiri apa yang Nara katakan? Sekarang pergi dari sini karena aku dengan Nara ingin menikmati makan malam kami."


"Silakan pergi, Pak," suruh pengawal Jaden.


"Tapi Nara, aku ini paman kamu, kamu kenapa berubah begitu?" teriak Paman Benu yang di bawa keluar oleh salah satu pengawal Jaden.


Jaden melihat pada Nara. "Kalau mau menangis, kamu menangis saja," ucap Jaden tegas.


"Untuk apa? Aku tidak perlu menangis karena sudah melakukan hal itu." Nara tampak santai dan kembali melanjutkan makannya.


"Bagus, aku menyukai Nara yang seperti itu. Jadilah gadis yang kuat. Tidak hanya hati, tapi juga fisik kamu."


"Dengan senang hati." Jadrn tersenyum kecil.


Di meja paman Benu, pria itu tampak kesal karena sikap Nara barusan. Dia menceritakan apa yang terjadi padanya saat ingin menemui Nara.


"Keterlaluan! Biar aku yang masuk dan mengatakan pada Jaden siapa Nara sebenarnya. Dia itu cuma anak yatim piatu yang tidak tau balas budi. Sudah baik kita sudah merawatnya dari kecil. Eh dia malah pura-pura tidak kenal dengan Ayah," ucap Mona marah.


"Kalian suka menyiksa Kak Nara, makannya sekarang Kak Nara mau membalas kalian," sekali lagi celetuk Lisa.


Mona yang marah membingkam mulut Lisa dengan tangannya.


"Lalu apa yang akan ayah lakukan? Bagaimana kita mendapatkan uang? Kalau Nara mau kita pengaruhi, kita bisa minta tolong agar dia mau memberi kita uang. Mama yakin jika Nara sekarang banyak uang."


"Ayah berhutang saja lagi pada Tuan Jaden itu dan nanti berikan saja aku pada Tuan Jaden sebagai jaminan."


Mereka ini sudah tentang cerita Nara. Sekarang Mona malah ingin seperti Nara. Dia bocah koplak. Tidak tau bagaimana awal menderitanya Nara di jual pada Jaden.


"Nanti ayah akan coba bicara lagi dengan Tuan Jaden."

__ADS_1


Di ruangan Jaden, Nara sedang memperhatikan pria dingin itu menikmati whiskey di dalam gelas burgundynya.


"Tuan, jangan banyak minum. Nanti kalau Tuan mabuk bagaimana?"


"Kamu polos sekali, aku tidak akan mudah mabuk hanya dengan minum sebotol whiskey. Apa kamu mau mencobanya?" Jaden menyodorkan gelasnya pada Nara."


"Tidak mau! Nanti kalau aku tidak sadar gara-gara minum itu dan aku malah melantur yang tidak-tidak bagaimana?"


"Kamu tenang saja, nanti aku tinggal membungkam mulut kamu dengan bibirku."


"Enak saja." Nara manyun. "Kalau cuma bicara melantur tidak masalah, takutnya aku lepas kendali." Nara melirik pada Jaden.


"Apa maksud kamu dengan melirikku? Memangnya aku akan berbuat aneh-aneh pada kamu jika kamu lepas kendali?"


"Aku tidak mengatakan hal itu." Nara membuang mukanya.


"Memangnya kenapa kalau kita melakukannya lagi? Bukankah kita sudah pernah, jadi tidak masalah kalau kita mencobanya lagi," ucap Jaden santai.


"Enak saja. Ternyata apa yang aku pikirkan tentang Tuan Jaden tidak salah."


"Jujur saja, aku melakukan hal itu pertama kali dengan kamu, Nara. Kamu juga ternyata."


"Tentu saja aku juga pertama kali, memangnya aku gadis nakal yang sering melakukan hal itu. Eh, tapi tadi Tuan mengatakan jika hal itu juga pertama kali bagi Tuan Jaden? Tuan serius?"


"Untuk apa aku berbohong?"


"Tuan beneran tidak pernah memiliki kekasih?"


"Pernah."


"Tapi tidak pernah melakukan hal itu dengan kekasih, Tuan? Bukannya kalau seusia Tuan Jaden pasti sudah pernah melakukan hal itu."


"Aku tidak pernah melakukan hubungan terlalu jauh seperti itu karena aku tidak mau dia sampai hamil dan memiliki anak. Aku tidak mau diikat oleh seorang anak yang nantinya akan menyusahkan hidupku."


"Jadi Tuan tidak suka jika memiliki seorang anak?"


"Aku sudah bilang sama kamu tentang kehidupanku yang sangat keras, Nara, dan aku tidak mau membuat orang terdekatku mendapat bahaya."

__ADS_1


__ADS_2