Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Manisnya Ice Cream


__ADS_3

Denna tertawa melihat wajah lucu paman tampannya. "Jo, kamu tidak apa-apa?" tanya Citra sambil menyerahkan segelas air.


"Paman Tampan pasti kalau punya anak lucu dan tampan, tapi jangan memiliki sifat seperti ayahnya. Seperti mamanya saja."


"Denna!" Citra mendelik pada Denna. "Hal itu masih lama, kita saja baru bertunangan."


"Paman, jangan lama-lama buat mempersiapkan acara pernikahan," goda Denna.


"Dasar keponakan nakal! Paman ini tidak hanya menyiapkan untuk acara pernikahan, tapi juga menyiapkan diri supaya kelak paman bisa menjadi suami dan ayah yang baik."


"Benar sekali itu, Paijo. Kali ini kenapa pemikiran kamu pandai sekali," sahut Nara.


"Hei, Ratu Cerewet. Aku dari dulu itu pintar. Buktinya kamu sering minta bantu kerjakan pekerjaan rumah kamu."


"Baru sekali, Paijo, jangan sombong."


Citra memperhatikan Nara dan Jo yang sedang berdebat. "Aku senang sekali melihat persahabatan kalian berdua. Aku juga ingin bisa menjadi sahabat kamu, Jo."


"Kamu tidak akan menjadi sahabat buat Jo, tapi juga istri dan calon ibu untuk anak-anak Paijo." Citra tersipu malu. Paijo tampak tersenyum kecil.


"Keponakan cantikku, kamu besok juga harus berhati-hati dan benar-benar harus tau siapa pria yang nanti akan menjadi masa depan kamu," ucap Jo pada Denna.


Denna tampak bingung. "Paman, aku belum memikirkan sampai sana. Paman tidak perlu khawatir padaku karena masa itu masih lama." Denna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu baru keponakanku." Paijo memberikan jempolnya.


Keesokan harinya. Keluarga Nara dan Jaden izin kembali ke rumah nenek.


Dimas satu mobil lagi dengan Denna. Mereka berangkat duluan pagi-pagi sekali setelah berpamitan pada keluarga.


"Dimas, nanti kita mampir sebentar untuk bertemu ibu penjual ice cream yang waktu itu?"


Dimas menganguk. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Di dalam mobil Denna memperhatikan terus Dimas yang fokus mengemudi.


Dimas yang merasa diperhatikan akhirnya melihat pada Denna. "Apa ada yang Nona butuhkan?"


Denna menggeleng. "Dimas, aku berubah pikiran tentang keinginanku yang menolak kamu menjadi bodyguardku."


"Oh," jawab Dimas singkat.

__ADS_1


"Kenapa cuma Oh? Kamu tidak bertanya kenapa aku berubah pikiran?"


Dimas menggeleng. "Itu urusan Nona Denna, dan saya tidak mau tau."


Wajah Denna seketika ditekuk kesal mendengar jawaban Dimas. "Apa selama ini memang seperti ini sikap kamu, Ya? Kamu tau Dimas? Kamu itu menyebalkan!" Denna bersedekap membuang mukanya melihat ke arah jendela.


Dimas hanya melihat sekilas dan melanjutkan menyetirnya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di taman di mana waktu itu ada ibu penjual ice cream. Kali ini ibu itu berjualan dengan membawa anak kecil yang usianya sekitar tiga tahun.


Denna segera turun dan menghampiri ibu itu. "Bu, masih ingat dengan saya?" tanya Denna.


"Iya, ibu masih ingat, kamu gadis yang kemarin menolong saya."


"Ini anak Ibu yang kemarin sakit itu ya?"


"Iya, Nona. Putri saya sudah baikkan karena kemarin uangnya langsung saya buat periksa ke dokter dan membeli obat. Dia sekarang ingin ikut jualan ice cream."


"Bu, ini ada sedikit uang untuk ibu dan putri Ibu." Denna memberikan uang yang kemarin dia ambil dari preman itu.


Ibu itu hanya melihati dan kemudian gelengan pelan dia tunjukkan pada Denna. "Saya tidak mau meminta atau menerima pemberian cuma-cuma."


Denna tampak heran. "Tapi saya ingin memberikan uang ini untuk Ibu."


Dimas berjalan mendekat pada mereka. "Kita akan beli semua ice cream Ibu yang masih ada. Bagaimana?" tanya Dimas, dan Denna melihat pada pria di sampingnya itu.


"Boleh kalau seperti itu. Ibu akan lebih senang jika harus menerima uang secara cuma-cuma."


Ibu itu menghitung semua ice cream yang masih ada dan setelah itu Denna memberikan uang pada ibu penjual ice cream. Tampak raut bahagia terpancar dari wajah ibu dan anak itu.


"Dimas, terus kita apakan ice cream sebanyak itu?"


"Terserah Nona Denna mau diapakan."


Denna tampak berpikir sejenak. Dia kemudian melihat sekitaran taman yang orang-orangnya tidak begitu ramai karena memang ini bukan hari libur.


"Kita bagikan ke orang-orang saja. Tapi di sini orangnya tidak banyak dan ice creamnya banyak. Bagaimana ini? Apa kita harus keliling sampai ice creamnya ini habis?"


"Terserah Nona."


"Baik. Kita bagikan saja berkeliling, kapan lagi aku melakukan hal seperti ini. Pasti menyenangkan."

__ADS_1


Dimas melepaskan suitnya dan menggulung kedua lengan kemejanya ke atas.


Dimas kemudian membawa kotak ice cream dengan box yang membuat ice cream di dalamnya tetap dingin dan kemudian mereka berkeliling di area taman lebih dulu.


Denna tampak bersemangat membagikan ice cream kepada orang-orang yang lewat di sana. Orang-orang di sana tampak bingung, tapi senang menerima pemberian Denna.


"Tinggal berapa?" Denna melihat ke dalam box ice cream. Masih ada lima. Huft! Aku sudah capek dari tadi kita berkeliling."


Dimas mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan sebuah saputangan dia sodorkan pada Denna. Denna melihat sapu tangan warna putih dan ada baris biru di dalamnya, langsung diambil oleh Denna dan dia gunakan untuk menyeka keringatnya.


"Kamu juga berkeringat." Denna dengan berjinjit mengusap keringat yang menetes pada rahang tegas Dimas.


"Nona tidak perlu repot seperti itu." Dimas mengambil sapu tangan milik nya dan mengusapnya sendiri.


"Jangan GR dulu. Aku hanya ingin membantu saja karena tangan kamu membawa kotak itu."


Denna mencari tempat duduk dan dia bersandar tampak lelah. Dimas juga duduk di sebelah Denna. "Kita makan saja sendiri ice creamnya." Denna mengambil ice cream rasa vanila yang ada di sana karena lainnya rasa buah, dia tidak terlalu suka.


"Kamu juga makan. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri."


"Saya tidak suka ice cream," jawabnya datar.


"Cobalah, ini enak dan manis." Denna menyodorkan ice cream yang baru dia buka pada Dimas. "Cobalah," paksa Denna.


"Nona nikmati saja ice cream itu sendiri."


Denna mendekat pada Dimas, dan sontak membuat pria dingin itu mendelik. "Kamu itu bodyguardku, jadi kamu harus menurut apa yang aku perintahkan."


"Tapi makan ice cream bukan salah satu tugasku dan aku tidak suka sesuatu yang manis."


"Kenapa? Semua orang suka sesuatu yang manis."


"Aku sudah terbiasa dengan hal yang pahit, jadi aneh jika merasakan hal yang manis termasuk makanan."


Denna terdiam sejenak mendengar apa yang Dimas katakan. "Mamaku bercerita tentang kamu waktu kecil. Aku senang bisa mengenal kamu yang pemberani."


"Kehidupan yang mengajarkan aku harus menjadi kuat."


"Karena kamu sudah sering merasakan pahitnya kehidupan, tidak salahnya merasakan manisnya ice cream. Sedikit saja. Please," mohon Denna.

__ADS_1


Dimas hanya melihati gadis dan ice cream di depannya itu.


__ADS_2