
Nara dan Dokter Will berada di meja makan berdua. Nara melayani makan pagi untuk dokter Will, sedangkan Jaden berada di dalam kamar untuk melakukan terapi pada kakinya.
"Nara, kenapa kamu tidak makan? Kenapa hanya berdiri? Kamu duduk sini dan temani aku sarapan pagi."
"Tapi aku hanya seorang pelayan di sini, tidak enak kalau duduk berdua dan makan dengan Pak Dokter?"
Will terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Kamu itu manis sekali. Maafkan aku, Ya? Tadi aku menyebut kamu pelayan waktu di kamar Jaden. Aku tau tentang kenapa kamu bisa ada di sini."
"Jadi Pak Dokter sudah tau tentang aku yang dijual oleh pamanku sendiri untuk melunasi hutang-hutangnya pada tuan Jaden?"
Will mengangguk. "Kalau kamu baik dan menurut pada Jaden, hidup kamu pasti akan baik daripada kamu tinggal dengan paman kamu."
"Aku tidak tau, Pak Dokter, yang jelas aku sekarang mencoba berdamai saja dengan hidup yang sedang aku jalani."
"Pemikiran yang bagus. Nara, kamu jangan memanggilku pak dokter, panggil saja namaku Will."
"Iya, Pak. Em ... maksud aku Tuan Will."
Will seketika tersenyum mendengar ucapan Nara. "Kamu itu ya." Will mengarahkan sendoknya menunjuk ke arah Nara. "Kamu duduk sini, kita makan bersama-sama, tidak enak makan sendirian Nara."
Nara mengangguk perlahan lalu duduk tepat di sebelah Will, dan mereka makan bersama. "Tuna Will, kira-kira berapa lama penyembuhan terapi tuan Jaden?"
"Aku tidak bisa memastikan, apalagi Jaden itu meskipun seorang mafia yang terkenal tega dan kejam, dia itu sangat sulit dirawat jika sedang sakit atau terluka. Dia kadang tidak merasakan rasa sakitnya itu."
"Apa? Tuan Jaden seorang mafia?" Nara tampak terkejut.
__ADS_1
Will yang memang keceplosan langsung menepuk jidatnya. "Aduh! Kenapa aku malah keceplosan? Nara." Will tiba-tiba memegang tangan Nara yang membuat Nara seketika mendelik kaget.
"A-ada apa, Tuan Will?" Nara yang merasa risih karena dipegang oleh Will perlahan-lahan mencoba menarik tangannya.
"Nara, aku mohon jangan ceritakan pada Jaden kalau aku sudah mengatakan siapa dia sebenarnya sama kamu. Kamu pura-pura tidak tau, makannya aku menyuruh kamu menurut sama Jaden karena jika dia benar-benar marah akan sangat tidak baik nantinya buat kamu sendiri."
Nara mengangguk perlahan beberapa kali. "Aku mengerti, Tuan Will. Kau juga tidak mau membuat Tuan Will dalam masalah nantinya."
"Anak baik." Will malah mengeratkan pegangan tangannya.
"Iya, sama-sama, Tuan Will." Nara menarik dengan kuat tangannya. "Maaf, aku mau membereskan peralatan makannya dulu." Nara beranjak dari tempatnya.
"Nara, aku ucapkan terima kasih. Sarapan kamu enak sekali, kapan-kapan aku mau makan lagi masakan buatan kamu."
"Tentu saja boleh."
Di dalam kamar Jaden. Pria yang tengah menjalani terapinya, sedang duduk dengan membawa tablet di tangannya. Sedangkan Sandra menggerak-gerakkan kaki Jaden perlahan-lahan.
"Tuan Jaden, apa Anda tinggal sendiri di rumah besar ini?"
"Tentu saja aku tinggal sendiri. Di sini hanya ada beberapa pengawalku dan asisten pribadiku, tapi sekarang ada Nara yang mengurus semuanya."
"Oh ... saya kira Anda sudah menikah."
"Pernikahan bagiku hal yang dapat membatasi semua pergerakan aku, jadi aku tidak menyukai hubungan suatu pernikahan."
__ADS_1
"Ternyata kita memiliki pemikiran yang sama Tuan Jaden."
"Benarkah?" Jaden menatap Sandra serius.
"Iya, bagiku menikah adalah hal yang akan mengikat kita pada suatu hubungan serius yang membuat kita harus menurut pada pasangan, dan itu sangat menyiksa."
"Jadi, kamu tidak seumur hidup tidak akan menikah?"
"Tidak tau juga, hanya saja sekarang hal itu yang sedang aku jalani. Aku ingin menjadi ahli terapis yang bisa membantu orang lain, dan bisa menikmati hidupku sendiri. Simple, Kan?"
"Menikah juga menuntut kita harus setia pada pasangan, dan aku tidak percaya pada kesetiaan karena kesetiaan itu tidak ada."
"Apa Tuan Jaden pernah dikhianati oleh kekasih Tuan Jaden?" Gantian sekarang Sandra yang melihat Jaden dengan tatapan serius.
"Bukan dikhianati, hanya saja aku terlalu percaya padanya."
"Aku selama ini tidak ada kata dikhianati, hanya saja aku dan kekasihku saling memutuskan suatu hal semua secara bersama-sama. Jadi, tidak ada yang disakiti dan menyakiti."
Tidak lama suara ketukan pintu dari luar kamar Jaden. Will masuk dan melihat Jaden masih melakukan terapi pada kakinya.
"Jaden, aku mau permisi pulang dulu, terima kasih pelayan kamu sangat baik menjamu tamu dengan menyediakan masakan yang sangat enak."
"Nara memang pandai membuat masakan, tapi kamu juga jangan mencari kesempatan pada gadis lugu itu."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Kenapa kamu sampai memegang tangannya, dan mengatakan tentang diriku, padahal aku tidak peduli jika Nara mengetahuinya."
"Kamu benar-benar membuat gadis itu dalam sangkar emas kamu." Will berbisik pada telinga Jaden. Jaden memberi seringai devilnya.