
Tiba hari di mana persidangan Jaden dibuka dan kali ini dipastikan Jaden akan terbebas dari hukuman.
"Nara, apa kamu tidak mau pergi ke persidangan denganku?"
"Mas Leo, aku menunggu suamiku di rumah saja dan aku akan menyiapkan makanan serta mau menata rumah dulu."
"Ya sudah kalau begitu. Aku senang sekali saat pengacara memberitahu jika persidangan kali ini pasti kita menangkan dan Damian akan mendapat hukuman dari perbuatannya."
"Iya, aku berharap juga begitu." Nara sebenarnya pernah mendapat telepon dari pria misterius itu, dan mengatakan jika dia akan membebaskan Jaden dengan caranya yang Nara tidak perlu mencari tau. Nara hanya cukup mengikuti apa yang dikatakan.
Nara pergi ke rumah sakit untuk berpamitan pada Nenek. Nara memegang tangan wanita cantik yang sedang terbaring koma.
"Nek, sebentar lagi Nenek akan bisa bertemu dengan cucu kesayangan Nenek, dan dia akan menemani Nenek di sini. Nara mau pamit, Nek. Aku sangat mencintai kalian berdua." Nara mengecup kening Nenek Miranti dan menangis.
Tangan Nara yang ingin dia lepaskan dari tangan nenek Miranti seolah ditahan oleh wanita paruh baya itu, tapi kedua mata Nenek masih belum terbuka.
Nara tidak mau berlama-lama di sana. Dia memilih melepaskan tangan nenek Miranti dan segera pergi dari sana.
Jaden sudah dinyatakan bebas karena terbukti jika dia hanya difitnah oleh Damian yang tak lain adalah musuhnya.
"Aku juga tidak bersalah dalam hal ini. Kalian salah besar! Jaden, aku tidak ada sangkut pautnya dengan semua yang terjadi dengan kamu!" teriaknya saat beberapa petugas membawa Damian pergi menuju sel tahanannya.
"Jaden, bukan saudaraku yang melakukan semua ini. Kenapa kamu membuat dia seperti ini?"
"Bukan aku yang membuat dia seperti ini, tapi orang yang sudah membuat aku merasakan beberapa hari dinginnya sel tahanan. Cari saja dia, aku tidak tau apa yang diinginkan si brengsek itu."
Jaden ditemani oleh Jacob dan kedua orang tuannya pergi ke rumah sakit. Sebenarnya kedua orang tua Jacob tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Jaden. Malahan mereka bersyukur jika Jaden dihukum karena sudah membuat Jacob menderita dengan merebut Nara.
Carlos dan istrinya datang ke sana untuk melihat keadaan ibunya. Bagaimanapun Miranti tidak ada masalah dengan kedua orang tua Jaco, hanya saja mereka agak kesal dengan nenek Miranti karena lebih memilih tinggal dekat dengan Jaden.
Jaden masuk lebih dulu ke dalam ruangan Nenek dan tentunya dengan baju khusus. Jaden memeluk neneknya yang masih berbaring. "Nek, aku sudah berada di sini. Aku harap Nenek segera sadar dan kita bisa bersama lagi dengan Nara juga."
Nenek Miranti belum merespon sama sekali. Dia masih saja terpejam dan terdiam.
Areta memberitahu jika keadaan Nenek sebenarnya stabil hanya saja mereka tetap harus menunggu untuk nenek mau membuka matanya.
__ADS_1
Siang itu. Kedua orang tua Jacob memilih tetap di rumah sakit untuk menunggu nenek Miranti, sedangkan Jacob ingin pulang ke rumah nenek karena dia ingin bertemu dan menyapa Nara.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian, Kak?"
"Pernikahan aku baik dan bahagia, Jacob."
"Aku turut senang melihat Nara yang akhirnya bahagia bersama kamu."
"Apa benar kamu bahagia?" Jaden menatap menelisik pada Jacob yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja, Kak. Memangnya apa maksud kamu menanyakan hal itu?"
"Aku kira kamu masih sakit hati dengan apa yang terjadi padamu karena aku."
Jacob menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Jaden. "Untuk apa sakit hati? Aku sudah tidak memikirkan hal itu. Lagi pula aku sudah mendapatkan kebahagiaanku sekarang.
"Maksud kamu?"
"Nanti saja aku cerita sama kamu, Kak. Kita pulang dulu karena aku lapar dan Nara pasti sudah menyiapkan makanan yang Istimewah untuk menyambut kepulangan kamu."
Tidak lama mobil mereka sudah sampai di rumah besar itu. Jaden segera melangkah keluar dari mobil dan mencari di mana istrinya yang sangat dia rindukan.
Jaden mengedarkan pandangannya mencari di mana istrinya. "Istriku di mana?" tanya Jaden pada salah satu maid.
Karena kelamaan menjawab, Jaden bergegas saja naik ke lantai atas untuk mencari Nara di kamar mereka karena pasti Nara ada di atas.
"Sayang," panggil Jaden, tapi ternyata kamar mereka tidak ada sosok wanita yang dia cari. "Apa dia di kamar mandi?" Jaden membuka kamar mandi dan ternyata tidak ada.
Entah kenapa di dalam hati Jaden seketika merasa ada hal yang salah. Jaden membuka lemari baju mereka dan menemukan ada beberapa baju Nara tidak ada di sana.
Feeling Jaden mulai terasa kuat saat melihat ada kartu ATM Jaden dan ponsel Nara yang waktu itu diletakkan Nara di sana.
"Kamu tidak bisa melakukan hal ini padaku Nara." Jaden segera berlari turun ke lantai bawah dengan gerakan cepat.
Leo dan Jacob yang melihat dari ruang makan tampak kaget. "Tuan ada apa?"
__ADS_1
"Leo berikan kunci mobil sekarang!" teriak Jaden.
"Ini Tuan. Tuan, memangnya ada apa?"
"Nara pergi dari rumah dan semua ini dia lakukan untuk kebebasan yang aku dapatkan hari ini."
"Apa? Apa maksud, Tuan?"
"Kak, ada apa ini sebenarnya?" Jacob melihat bingung pada Jaden.
"Aku akan segera mencari Nara. Dia pasti belum jauh dari sini." Jaden berlari keluar dari rumah dan Leo ikut menyusul karena khawatir dengan keadaan Tuan Jaden yang sedang kalut.
"Kenapa kamu begitu bodoh, Nara? Aku janji, jika aku menemukan kamu, aku akan memberi hukuman buat kamu karena sudah melanggar janji yang kamu ucapkan untuk tidak meninggalkan aku." Jaden tampak begitu kesal sampai memukul kemudi stirnya.
Leo di dalam mobil tampak khawatir melihat cara Jaden mengemudikan mobilnya.
"Tuan Jaden, kenapa terburu-buru seperti ini? Hal ini malah bisa membuat dirinya dalam bahaya."
Mobil Jaden dengan cepat menuju bandara pertama kali untuk mencari Nara. Jaden berpikir jika Nara akan pergi ke tempat Esme karena hanya Esme yang akrab dengannya.
Mobil Jaden melaju dengan kencang sampai dia tidak memperhatikan ada sebuah mobil juga dari arah berlawanan.
"Tuan Jaden!" teriak Leo saat melihat mobil Jaden bertabrakan dan membanting stir sampai menabrak tiang besar.
Keadaan di sana seketika ramai. Leo segera turun dan berlari menuju di mana mobil Jaden mengalami kecelakaan.
"Tuan Jaden!" teriak Leo berjalan di antara kerumunan banyak orang. Leo tampak shock saat melihat tubuh Tuannya yang masih ada di dalam mobil dengan posisi pingsan.
Beberapa petugas medis mulai terdengar di sana karena kebetulan area kecelakaan itu dekat dengan rumah sakit.
Ponsel Leo berdering dan Leo melihat ada nama Jacob di sana.
"Leo, kamu di mana?"
"Tuan Muda Jacob, kakak Anda mengalami kecelakaan dan sekarang saya sedang berada di rumah sakit."
__ADS_1