
Nara masih mengeringkan rambut Jaden yang duduk di atas ranjang Nara. Jaden tampak duduk dengan tatapan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan, kenapa? Apa memikirkan tentang nenek, Tuan?"
"Aku tidak apa-apa," ucap Jaden singkat.
"Tuan, Tuan jangan mengatai nenek Tuan dengan sebutan wanita tua karena itu sangat tidak sopan."
"Dia tidak akan marah. Nenekku sudah kebal akan hal itu."
"Dasar! Kenapa nenek Tuan tidak memiliki cucu aku saja, kasihan sekali nenek Tuan." Jaden tersenyum mendengar ucapan Nara.
Jaden keluar dari Nara untuk berganti baju. Setelah itu mereka makan siang bersama di meja makan. Jaden tampak senang menikmati masakan buatan Nara.
"Tuan, coba yang ini, Ini enak sekali." Nara menyendokkan makanan ke mulut Jaden, tapi pria itu malah diam saja, dan hanya memandang pada Nara.
"Buka mulutnya."
"Nara, aku sudah tidak sakit, jadi kamu tidak perlu menyuapiku. Aku bisa makan sendiri." Jaden kembali makan sendiri.
Nara mengerucutkan bibirnya kesal. "Kenapa susah sekali diajak bersikap manis?"
"Cepat habiskan! Setelah itu aku akan mengajak kamu pergi berbelanja dan sepertinya kamu harus memiliki ponsel sendiri agar aku dapat menghubungi kamu dengan mudah."
"Apa? Tuan akan mengajakku berbelanja dan membelikan aku ponsel?" Nara matanya mendelik dan berkedip beberapa kali."
"Iya, aku sudah bilang akan mengajak kamu untuk pergi berbelanja dan kamu bisa membeli apa yang kamu ingin beli."
"Tidak perlu, Tuan. Bajuku itu sudah cukup, tidak perlu membeli apa-apa."
Jaden melihat Nara dan mengusap lembut pipi Nara. "Aku ingin membuat kamu tidak merasa tersiksa terus berada di rumahku. Lagi pula rambut kamu dan wajah kamu sepertinya perlu di make over sedikit agar kamu terlihat lebih cantik."
"Aku kan cuma seorang pelayan, untuk apa aku berdandan agar cantik. Aku sudah bersyukur dengan diriku yang seperti ini."
"Kenapa kamu jadi banyak bicara? Sekarang bersiap-siaplah karena aku akan menunggu kamu di mobil.
"Iya." Nara mengerucutkan bibirnya dan pria dingin itu tidak peduli dia malah berjalan keluar dari rumah.
__ADS_1
Nara setelah membereskan meja makan, dia berganti baju dan berjalan keluar menemui Jaden yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Tuan yang mengendarai mobilnya sendiri?"
"Iya, aku yang akan mengendarai mobilnya sendiri, dan para pengawal akan mengikuti kita dari belakang. Sekarang cepat masuk."
Nara masuk ke dalam mobil yang hanya memiliki dua tempat duduk. Mobil Jaden melaju dengan cepat menuju pusat perbelanjaan di pusat kota keluar dari tempat tinggal Jaden.
Di dalam mobil Nara hanya duduk diam, dan pria di sampingnya mengemudikan mobilnya dengan fokus. "Tuan, apa Tuan yakin akan mengajakku bertemu dengan nenek, Tuan?"
"Tentu saja, memangnya kenapa? Apa kamu tidak mau bertemu dengan nenekku?"
"Bukan begitu, tentu saja aku mau apa lagi aku pernah berbicara dengan nenek Tuan, nenek orang yang baik."
"Nenekku memang orang yang baik. Kamu akan senang berkenalan dengannya."
Jaden kembali menjalankan mobilnya dan Nara melihat suasana jalanan yang tampak ramai yang sudah lama dia tidak melihatnya sejak dirinya di culik oleh Jaden.
"Indah sekali suasana jalan raya yang lama aku tidak pernah lihat."
Hampir setengah jam perjalanan mereka dan akhirnya mereka berdua sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar dan megah.
"Tentu saja, ini adalah pusat belanja yang terbesar dan terlengkap di sini. Apa kamu belum pernah ke sini?"
Nara menggeleng. "Aku jarang membeli baju atau barang-barang lainnya sejak kedua orang tuaku meninggal. Baju dan tas yang aku pakai semua bekas dipakai oleh Mona sepupuku."
Jaden terdiam menatap Nara. Tangannya menggandeng tangan Nara. "Lupakan semua tentang masa lalu kamu yang buruk itu. Sekarang kita masuk saja."
Jaden menggandeng tangan Nara dan berjalan dengan gagah dan tegapnya. Nara yang tangannya digandeng oleh Jaden hanya dapat tersenyum bahagia.
Jaden membawa Nara ke toko baju serta salon yang terkenal di sana. Nara tampak kagum melihat semua baju yang terpajang dengan begitu apiknya. Tidak hanya apik modelny, tapi juga harganya.
"Tuan, baju di sini harganya mahal semua. Lihat in! Dress itu memang bagus dan kelihatan cantik, tapi masak aku lihat tadi harganya dua juta," bisik Nara pada Jaden.
"Pelayan, kemari," panggil Jaden pada salah satu pegawai di sana.
"Iya, Tuan." Seorang wanita dengan rambut digelung rapi memberi hormat pada Jaden.
__ADS_1
"Ajak gadis itu untuk memilih baju yang pantas untuknya. Pilihkan baju yang terbaik di sini. Serta aku ingin kamu merubah sedikit penampilannya."
Nara melongo di samping Jaden. "Baik, Tuan."
"Tuan JL, aku tidak usah beli di sini."
"Mari Nona silakan ikut dengan saya."
Nara tampak bingung, tapi Jaden malah menyuruhnya ikut dan dia menunggu di ruang yang memang khusus untuk tamu VVIP tempat itu.
"Mba, saya mau di apakan?" tanya Nara takut.
"Nona jangan khawatir, Nona tidak akan kami sakiti. Ikut saja dengan saya." Tangan wanita itu menggandeng tangan Nara.
Nara menurut saja di bawa masuk ke dalam ruangan yang Nara baru pertama kali masuk ke tempat ini. Nara melakukan lulur untuk tubuhnya, Spa, dan menicure, pedicure. Dah pokoknya Nara benar-benar dibuat menikmati menjadi seorang wanita berkelas.
"Nona, apa Nona menyukai baju ini?" tanya pelayan itu menunjukkan mini dress berwarna hitam pada Nara, dengan lengan panjang dan bagian leher berbentuk huruf V.
"Baju ini bagus sekali." Mata Nara tidak dapat berkedip melihat baju yang baginya sangat bagus dan dia tidak pernah memakai baju-baju model gaun begini. Apa lagi harganya mahal.
Pelayan itu membawa Nara berganti baju setelah itu merapikan rambut Nara. Nara tidak mau jika rambutnya di potong pendek, jadi pegawai di sana hanya membuat rambut Nara tampak curly.
"Mba, ini benar aku yang berdiri di depan cermin ini?" tanya Nara tidak percaya jika di depan cermin panjang itu adalah dia.
"Tentu saja itu, Nona Nara. Nona Nara pada dasarnya sudah cantik, hanya tidak terawat saja.'
"Iya, aku memang tidak terawat. Sedih sekali kata-katanya," gerutu Nara.
"Silakan keluar kalau begitu, Nona Nara."
"Aduh! Aku dipanggil Nona dari tadi, panggil Nara saja, Mba."
"Tidak apa-apa, sudah sepantasnya saya memanggil tamu istimewa di sini dengan sebutan Nona. Mari saya antarkan keluar."
Nara berjalan menuju di mana Jaden menunggu. Pria itu ternyata sedang video call dengan Leo.
Jaden tampak terpuka saat melihat pantulan Nara dari layar ponselnya. Bahkan Leo yang sedang melakukan videl call dengan Jaden dapat melihat Nara dengan jelas.
__ADS_1
"Tuan, Apa itu Nara?" tanya Leo.