
Jaden dan Leo sama-sama tercengang melihat penampilan Nara yang baru. Jaden melihat dari pantulan layar ponselnya, dan Leo yang melihat dari video call dia dengan Jaden.
"Tuan, itu benar Nara, Kan?" tanya Leo sekali lagi yang ingin memastikan.
Jaden baru sadar dan dengan cepat dia berpindah tempat. "Leo, aku nanti akan menghubungi kamu lagi."
"Eh, tapi, Tuan--."
Belum selesai Leo bicara Jaden sudah mematikan panggilan. "Enak saja melihat apa yang belum aku lihat pertama kali," umpat Jaden kesal.
Jaden menoleh pada Nara yang sedang ribet dengan bajunya karena menurut Nara agak kependekan.
"Tuan, bajunya kependekan, dan aku tidak bisa memakai sepatu dengan hak yang tinggi."
"Tapi, Nona, baju ini sangat cocok jika Nona memakai sepatu yang ada haknya."
Nara melihat Jaden dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Ya sudah, kamu tidak perlu memakai sepatu yang ada haknya. Tolong kamu carikan sepatu flat saja berwarna hitam."
"Baik, Tuan kalau begitu saya permisi dulu." Pelayan itu berjalan pergi dari sana.
Jaden berjalan mendekat pada Nara dan sekali lagi dia melihat Nara dari bawah sampai atas. Dalam hatinya, Jaden mengakui Nara seperti berlian yang tertutup pasir di padang pasir.
"Tuan, apa aku cantik?"
"Ah!" Jaden yang tadinya melamun terkejut saat Nara tiba-tiba bertanya padanya. "Cantik?" Jaden sekali lagi melihat Nara dari atas ke bawah. "Biasa saja," ucapnya santai.
"Tuan pasti bohong, buktinya Tuan melihatku sampai tidak berkedip, bahkan sampai terlihat air liurnya menetes begitu," goda Nara.
"Hah? Mana?" Jaden seketika panik dan mengusap bibirnya yang tidak ada apa-apanya.
Nara langsung tertawa dengan senangnya. Jaden sadar jika gadis yang baginya seperti berlian tertutup pasir itu sedang mempermainkannya, dan dia begitu bodohnya percaya saja.
"Berani kamu mempermainkan aku, Nara?" Eram Jaden kesal.
Jaden dengan cepat menarik pinggang Nara dan menundukkan kepalanya sendiri agar dapat mengecup bibir gadisnya.
Nara sangat kaget dengan gerakan cepat Jaden. Dia bukannya tidak biasa dengan ciuman Jaden, tapi dia tau mereka sedang
berada di tempat umum.
"Tuan, maaf." Pelayan itu kaget dengan apa yang Jaden sedang lakukan pada Nara.
Nara seketika melepaskan ciuman Jaden mendengus kesal pada pria yang tadi menciumnya tanpa tau tempat.
__ADS_1
"Kenapa kamu bar-bar sekali!"
"Memangnya kenapa? Kamu malu? Dia tidak akan berani marah denganku."
"Dasar!" Nara tersenyum dipaksakan pada pelayan yang wajahnya tampak aneh.
"Ini sepatunya." Pelayan itu memberikan sepatu pada Nara, Nara segera memakainya.
"Memangnya kita mau ke mana, Tuan? Kenapa aku harus berpenampilan seperti ini?"
"Aku akan mengajak kamu makan malam di restoran terbaik yang ada di sini, Nara."
"Apa? Makan malam?"
"Iya, kamu pasti belum pernah makan malam romantis bukan?"
"Makan malam romantis?"
Jaden memberi isyarat pada pengawalnya untuk mengambil barang belanjaan Nara. Kemudian pria itu menggandeng tangan Nara dengan erat dan membawanya keluar dari toko besar itu.
Nara tampak senang bisa jalan-jalan ke mall yang dulu dia palingan beberapa kali dalam hidupnya karena dia tidak berani masuk ke mall sebab dia tidak memiliki uang. Mau apa terus di dalam mall kalau tidak berbelanja.
"Nara, kamu mau ke mana setelah kita makan malam?" tanya Jaden dengan masih menggandeng tangan Nara.
"Memangnya kamu belum pernah nonton bioskop?" tanya Jaden melihat pada Nara. Nara menggeleng pelan. "Kenapa? Bukannya masa sekolah SMU itu biasanya anak seusia kamu pergi jalan-jalan, hang out dan nonton."
"Huft! Aku cuma bisa mendengar cerita mereka di sekolah. Aku tidak pernah seperti apa yang Tuan bilang. Aku tidak memiliki uang untuk melakukan semua itu."
Jaden seketika menghentikan langkahnya. Nara yang bingung melihat pada Tuannya yang malah diam di tempatnya.
"Tuan, ada apa?"
"Setelah makan malam aku akan mengajak kamu menonton bioskop. Apa kamu mau?" Jaden melihat dan tersenyum pada Nara.
"Kita nonton bioskop?"
"Iya, anggap saja kita sedang kencan."
"Kencan? Memangnya kita pacaran?" gerutu Nara.
Jaden kembali berjalan dengan Nara dan mereka masuk ke sebuah restoran di sana. Nara yang masih digandeng oleh Jaden tampak canggung saat dirinya masuk ke restoran yang tampak mewah itu.
Jaden disambut oleh pelayan yang berada di depan pintu dan dia mengatakan ingin tempat khusus di dalam restoran itu.
"Baik, silakan Tuan berjalan mengikuti saya."
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan melewati beberapa meja tamu di sana.
"Tuan Muda Jaden," sapa seorang pria yang mejanya di lewati oleh Jaden dan Nara.
Seketika mata Nara mendelik melihat siapa yang menyapa Jaden.
"Tuan tampan itu!" seru Mona pelan, matanya tampak berbinar melihat sosok Jaden Luther yang dia kagumi.
"Tuan Muda juga makan di sini? Dan ini siapa?" tanya Benu yang tidak mengenali Nara.
Jaden malah menyeringai. "Paman tidak tau diri, sama ponakan kamu sendiri, kamu sudah lupa?"
Mata Benu dan keluarganya yang sedang makan malam di sana tampak mendelik kaget.
"Apa? Dia Nara?" Mona kaget sampai berdiri dari tempatnya.
"Kak Nara!" Si kecil Lisa langsung memeluk pinggang Nara.
Nara yang sebenarnya merindukan Lisa segera menunduk dan balas memeluk gadis kecil itu.
"Lisa, bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik, Kak. Kak Nara ke mana saja? Sejak Kak Nara pergi dari rumah, tidak ada yang mengajari aku mengerjakan tugas sekolah," terang gadis kecil itu.
"Maafkan kakak, Lisa." Nara melihat pada Jaden. Kakak tidak bisa pulang ke rumah karena Kakak--."
"Kak Nara sudah menikah denganku, jadi dia harus tinggal dengan suaminya." Tangan Jaden mengusap lembut kepala gadis kecil itu.
Kedua orang tua Lisa bahkan Mona tampak tercengan dengan apa yang Jaden baru saja katakan. Nara juga langsung terdiam di tempatnya.
"Jadi, Kak Nara sudah menikah? Wah! Sebentar lagi Lisa mau punya ponakan yang lucu, kalau begitu!" seru gadis kecil itu senang.
"Po-ponakan lucu?" Nara tampak bingung.
"Iya, kalau Kak Nara sudah menikah tidak lama Kak Nara akan hamil dan aku punya adik bayi kecil yang lucu soalnya Kak Nara dan suami Kak Nara sangat cantik dan ganteng."
Nara tersenyum aneh mendengar apa yang dikatakan oleh Lisa.
"Jadi, kalian benar sudah menikah?" tanya Mona memastikan.
"Tidak mungkin! Kalau kalian sudah menikah, Nara harus memanggilku untuk menjadi wali Nara."
Jaden mendekatkan wajahnya pada Benu. "Memangnya siapa diri kamu? Bagi Nara dia sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini setelah kamu menjual dia padaku," Jaden menekankan kata-katanya.
Nara berdiri dari tempatnya. "Lisa, kapan-kapan kalau kak Nara ada waktu, Kak Nara akan menemui Lisa." Gadis kecil itu mengangguk dengan cepat.
__ADS_1