Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kedekatan Nara dan Jacob


__ADS_3

Nara kesal mendengar ucapan salah satu pengunjung di sana yang mengatakan jika kasihan melihat Nara dengan kekasih yang tidak bisa berjalan, padahal Nara gadis yang cantik.


"Jacob, aku mau pulang saja, tidak perlu belanja baju-baju di sini, kita cari tempat lain saja. Aku kesal mendengar mereka menghina kamu seenaknya."


"Nara, dulu aku sangat takut jika nanti keluar dengan kursi roda dan mereka akan mengatai, tapi sekarang aku tidak peduli." Tangan Jacob sekali lagi memegang Nara yang sekarang posisinya duduk bersimpuh di depan kursi roda Jacob.


Nara melihat pada tangan Jacob yang memegangnya. "Tega sekali wanita yang meninggalkan kamu hanya karena keadaan kamu seperti ini. Kamu baik dan sangat sabar."


"Untuk menjadi seperti ini tidak mudah, Nara. Aku juga harus berjuang untuk kuat dan mau menerima semua yang terjadi padaku, Nara."


Nara beranjak berdiri dari tempatnya. Dia mengepalkan tangannya terangkat ke atas seolah memberi semangat. "Kamu benar, kita tidak boleh sedih dengan apa yang terjadi dengan hidup kita. Kita harus terus menatap ke depan. Seperti aku sekarang, aku tidak mau mengingat masa laluku."


"Ya sudah sekarang kita pergi berbelanja untuk kamu."


"Masih berlanjut?"


"Tentu saja, Nara." Terlukis senyum bahagia Jacob.


Nara akhirnya mau dan mereka masuk ke salah satu toko baju di sana. Jacob dengan senang mengomentari baju pilihan Nara. Jika tidak cocok atau cocok untuk Nara. Jacob akan menunjukkan dengan ekspresi wajahnya.


"Jacob, sudah ya kita belanja bajunya, jangan banyak-banyak. Uang kamu, sayang kalau dibelikan banyak baju."


"Ya sudah, kalau begitu kita beli sepatu, tas dan make up untuk kamu."


"Untuk apa?"


"Kamu akan masuk kuliah, dan kamu pasti membutuhkan semua itu."


Nara berpikir sejenak. Benar apa yang dikatakan oleh Jacob. Dia akan kuliah dan barang-barang itu akan dia butuhkan.


"Jacob, apa boleh aku bicara sesuatu sama kamu?"


"Tentu saja boleh. Memangnya kamu mau bicara apa?"


"Sebenarnya aku mau bicara dengan kedua orang tua kamu juga tentang keinginan aku ini, Jacob."


"Ada apa sih, Nara? Kelihatannya kok serius sekali, apa ada masalah?" tanya Jacob penasaran.

__ADS_1


"Jacob, selama aku tinggal di rumah kamu, apa boleh aku mencari pekerjaan di sini? Aku tidak mau hanya tinggal dan menumpang hidup di rumah kamu. Jacob, aku tidak enak kalau seperti itu."


"Apa? Kamu mau bekerja? Kenapa kamu minta bekerja? Kamu sudah dianggap oleh kedua orang tuaku seperti putri mereka sendiri, jadi kamu tidak perlu bekerja, Nara dan ini bukan hutang budi. Ini malah kami yang ingin membalas kesalahan keluargaku pada apa yang terjadi sama kedua orang tua kamu."


"Kalian tidak perlu seperti ini. Semua ini bukanlah kesalahan kamu, tapi kakak kamu yang dari kecil suka sekali membuat masalah. Kalian jadi yang menanggung semuanya."


Jacob terdiam sejenak dan memandang wajah sedih Nara. "Maaf, aku mengingatkan kamu masalah itu. Kakakku dari dulu memang suka berbuat semaunya sendiri, tapi bagaimanapun aku sangat menyayangi dia."


"Kenapa aku tidak bertemu dengan kamu pertama kali? Kenapa aku harus bertemu dan jatuh cinta lebih dulu dengan Tuan JL," gerutu Nara pelan.


Jacob yang melihat mulut Nara komat kamit tidak jelas membuatnya bingung. "Nara, kamu bicara apa?"


"Aku tidak bicara apa-apa." Nara meringis lucu.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi untuk mencari tas dan sepatu buat kamu."


Nara menahan tangan Jacob. "Jacob, Bagaimana dengan permintaanku tadi?"


"Aku sebenarnya tidak setuju dengan keinginan kamu itu, tapi kalau kamu memaksa. Nanti kita akan bicarakan dengan ayah dan mamaku."


"Memangnya kamu mau bekerja di mana?"


"Terserah. Cafe, restoran atau di manapun yang terpenting aku mampu dan pekerjaannya tidak melanggar prinsipku."


Jacob mengangguk. "Nanti aku akan coba bicara sama Mama dan ayahku."


"Terima kasih, Jacob." Mereka melanjutkan berbelanja. Setelah itu Jacob ingin mengajak Nara makan ice cream di cafe favoritnya."


Mereka berdua tampak berbicara dan saling bercanda. "Cafe ini sangat luas dan banyak sekali menu makanannya."


"Iya, tapi di sini yang paling enak dan terkenal adalah ice creamnya. Kamu pasti suka."


"Aku mau bekerja di sebuah cafe. Sebenarnya dulu aku mau bekerja sambil kuliah agar aku bisa membiayai kuliahku sendiri, tapi hal itu tidak terjadi."


"Cita-cita kamu memangnya apa, Nara?"


"Menjadi seorang tim medis atau dokter kalau bisa dan memiliki sebuah cafe atau restoran. Ahahaha! Keinginanku sangat tinggi, Ya?".

__ADS_1


"Kamu akan bisa mencapai semua keinginan kamu itu. Kebetulan tempatku mengajar jurusannya seperti yang kamu inginkan. Aku yakin kalau kamu rajin dan bersungguh-sungguh, aku yakin kamu akan memiliki gelar seorang dokter."


"Ya ampun, Jacob!" seru Nara bahagia. "Kenapa kamu seolah memberikan aku angin yang membawa kabar bahagia."


Jacob tersenyum senang melihat wajah bahagia Nara.


"Soal cafe atau restoran yang kamu inginkan, ayahku bisa membukakan usaha untuk kamu di sini."


Nara teringat akan cafe minimalis yang Jaden waktu itu tunjukkan dan di bangun oleh Jaden untuk Nara.


"Tidak perlu, Jacob. Aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu."


Tidak lama ice cream pesanan mereka datang. Nara tampak menyukai ice creamnya dan benar apa kata Jacob jika ice creamnya enak sekali.


"Pelan-pelan kalau makan, Nara." Tangan Jacob tiba-tiba mengelap mulut Jaden dengan tisu.


Nara yang agak kaget agar mundur ke belakang. "Jacob, aku bisa sendiri." Nara mengambil tisu dari tangan Jacob.


"Kalian pasangan yang serasi sebenarnya jika kekasih kamu memiliki kaki yang bisa dia gunakan untuk berjalan berdua dan bergandengan tangan," celetuk salah seorang pengunjung di sana yang melihat mereka.


"Memangnya kenapa kalau kekasihku kakinya tidak bisa digunakan untuk berjalan? Aku sama sekali tidak malu karena bagiku dia sempurna terlepas dari kakinya yang tidak bisa dia gunakan. Jangan suka menghina orang lain. Pikirkan jika hal itu terjadi pada kamu dan keluarga kamu," ucap Nara dengan bahasa Inggrisnya.


"Nara, sudah, biarkan saja." Jacob menarik tangan Nara untuk duduk saja tidak perlu memperdulikan mereka.


"Kita pulang saja, aku malas bertemu orang-orang yang suka menghina orang lain."


"Ya sudah kita pulang."


Nara mendorong kursi roda Jacob dan mereka berjalan menuju pintu utama untuk ke tempat parkir mobil.


"Siapa yang menghubungiku?" Jacob melihat pada layar ponselnya nama Jaden di sana. "Halo, ada apa, Kak?"


"Maaf, dengan Tuan Jacob?"


"Iya, saya sendiri. Ini siapa? Dan kenapa kamu menghubungi dari ponsel kakakku?"


"Saya dari rumah sakit dan ingin mengabarkan jika kakak kamu Tuan Jaden Luther mengalami kecelakaan. Saya harap kamu bisa datang ke sini.

__ADS_1


__ADS_2