Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bertemu Malaikat Penolong Nara


__ADS_3

Nara menarik wajahnya dari ceruk leher Jaden, dia tampak aneh melihat wajah pria itu.


"Maksud Tuan apa?"


"Nara, aku adalah anak yang mengemudikan mobil dalam kecelakaan mobil keluargamu waktu itu."


Dada Nara seketika terasa sesak mendengar apa yang baru saja Jaden katakan saat ini.


"Ka-kamu yang menabrak mobil ayahku, Tuan?"


"Iya, aku yang menabraknya waktu itu. Usiaku masih sangat muda waktu itu dan aku ingin sekali bisa mengemudi mobil. Orang tuaku sudah melarangnya, tapi aku tidak peduli. Diam-diam aku membawa mobil kakekku dan mengajak Jacob untuk pergi ke sebuah club malam."


"Kamu terpengaruh minuman keras saat mengemudi mobil itu?" tanya Nara dengan tangan yang sudah dia tarik dari leher Jaden.


Jaden terdiam. "Aku baru tau jika anak di dalam mobil itu adalah kamu. Gadis yang aku anggap sebagai saksi yang ingin aku biarkan terpanggang di dalam mobil karena aku sangat ketakutan, tapi Jacob malah turun dan dia tanpa rasa takut mencoba menolong kamu."


Nara benar-benar terkejut dan dia beranjak dari pangkuan Jaden. Nara sekarang seolah takut melihat wajah Jaden. Dia memilih duduk di bangkunya kembali dengan wajah bingung.


"Ini tidak mungkin.Tuan bukan penyebab kedua orang tuaku meninggal, Kan?" Nara menatap nanar pada Jaden. Bahkan bibirnya pun tampak bergetar.


"Itu benar, Nara. Aku minta maaf," ucap Jaden dengan wajah datarnya.


"Ternyata dari dulu kamu memang suka membunuh. Bagimu membunuh seseorang adalah mainan yang kamu sukai. Apa kamu tau? Gara-gara kebodohan yang kamu lakukan, aku harus merasakan kehidupan yang sangat buruk. Hidup dengan paman dan bibi yang bahkan tidak mencintaiku, mereka mau merawatku hanya karena harta warisan yang kedua orang tuaku tinggalkan. Setelah itu mereka hanya menganggapku sampah yang bisa diinjak-injak seenaknya. Apa kamu tau itu?" bentak Nara dengan keras.


Jaden terdiam di tempatnya. Dia dapat melihat kemarahan pada kedua mata Nara.


"Nara, aku--."


Nara langsung mengangkat tangannya meminta Jaden tidak bicara lagi. "Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri." Terlihat air mata Nara menetes perlahan dari kelopak mata cantiknya.

__ADS_1


Jaden yang tau Nara sekarang dalam keadaan tidak baik memilih berdiri dari bangkunya dan berpindah duduk di kabin satunya. Jaden meninggalkan Nara yang sekarang meringkuk memeluk kedua lututnya yang dia angkat ke atas bangku.


"Tidak mungkin ... ini tidak mungkin." Nara menangis dengan kerasnya. Nara seolah merasakan kesedihan yang teramat dalam. Dia teringat saat kecelakaan itu sampai akhirnya dia harus tinggal dengan paman dan bibinya. Nara kecil kerap kali di jadikan pembantu di rumahnya sendiri, bahkan dia juga sering mendapat tamparan dari bibinya jika melakukan kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh putri kesayangannya si Mona.


Nara berusaha tetap kuat dan menerima semuanya, walau kadang hatinya sedih, dan ingin pergi saja menemui kedua orang tuanya.


Andai Jaden tidak melakukan kesalahan dengan mengemudi dalam keadaan mabuk. Kedua orang tua Nara tidak akan meninggal, dan hidupnya akan terus bahagia ditemani oleh kedua orang tuanya.


Suasana di dalam pesawat itu pun berubah dingin dan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Nara tetap duduk. dibangkunya dengan menatap keluar jendela. Sedangkan Jaden berada di kamar pribadinya.


"Tuan, Nona Nara tidak menyentuh makanannya sama sekali. Saya sudah tawarkan apa mau makan yang lainnya, tapi nona Nara menolaknya."


"Biarkan saja dia kalau begitu."


"Tuan, apa Tuan mau saya ambilkan makanan?"


"Tidak perlu, bawakan saja aku sebotol whiskey ke kamarku."


Malam itu Nara yang lelah karena menangis seharian sampai tertidur dengan posisi duduk. Jaden memutuskan keluar dari kamarnya dan melihat Nara yang sudah terlelap. Pria itu mengambilkan selimut dan menyelimuti tubuh gadis yang dia cintai. Jaden duduk di bawah kaki Nara dengan menatap gadis itu dengan lekat.


"Maafkan aku, Nara. Aku tidak tau jika kita akan dipertemukan dengan takdir seperti ini." Terlihat penyesalan di wajah Jaden.


Perjalanan tidak terasa telat sampai pada negara yang di tuju. Nara yang sudah bangun tampak duduk masih dengan menatap pada jendela.


Sekarang Jaden sudah menunggu Nara di dalam mobil dan tidak lama Nara masuk ke dalam mobil. Dua orang itu tampak seperti tidak kenal. Nara masih menata hatinya untuk menerima semua ini.


Di dalam mobil, Jaden dan Nara duduk saling berjauhan di bangku belakang. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah besar dengan di dominasi warna coklat dan gold. Rumah itu sungguh indah dan megah.


"Nara, ayo kita turun." Tangan Jaden menjulur, tapi Nara hanya memandangi dan dia keluar sendiri tanpa menerima uluran tangan Jaden.

__ADS_1


Jaden hanya terdiam dan dia berjalan masuk diikuti oleh Nara. Nara tampak memperhatikan dalam rumah itu. Saat dia sampai di ruang utama yang cukup besar. Nara melihat foto Jaden dan keluarganya, dan ada sosok seorang pria yang wajahnya juga sangat tampan, dia memiliki senyum yang indah.


"Selamat datang, Nara. Kamu pasti Naraya Sabila." Seorang wanita cantik dengan rambut ikalnya memeluk Nara dengan hangat.


Nara yang terkejut hanya dapat membalas menerima pelukan wanita cantik itu. "Selamat datang, Nara," sapa seorang pria dengan kacamata putihnya.


"Mama percaya, jika Jaden yang melakukan tugas ini. Pasti dia akan segera menyelesaikannya. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah membawa Nara ke sini." Wanita cantik itu tersenyum pada Jaden.


"Maaf, tolong jelaskan ada apa semua ini?" Nara tidak sabar ingin mengetahui semua ada apa ini.


"Nara, aku tadi mengatakan ingin mempertemukan kamu dengan anak laki-laki yang sudah menyelamatkan kamu waktu itu. Anak itu adalah Jacob. Adikku, Nara."


Tidak lama seorang pria muncul dengan menggunakan kursi roda tepat di hadapan Nara. Nara menatap pria itu yang terlihat tersenyum pada Nara.


"A-apa dia adalah, Jacob?" Nara melihat bingung pada Jaden, kemudian dia melihat lagi pada Jacob.


"Iya, dia Jacob. Dia malaikat penyelamat kamu waktu itu."


"Hai, Nara. Apa kabar?" sapa pria yang duduk di kursi rodanya pada Nara.


Deg!


Nara tampak tertusuk hatinya melihat keadaan Jacob yang dulu rela mengorbankan nyawanya untuk menolong Nara.


Jaden tampak berdiri tegap melihat mereka berdua yang saling berpandangan. "Perkenalkan namaku Jacob, Nara." Tangan Jacob menjulur mengajak Nara berjabat tangan.


Nara tidak membalas uluran tangannya, tetapi malah menunduk memeluk Jacob dengan erat. "Terima kasih, Jacob karena kamu waktu itu sudah menyelamatkan nyawaku."


Ada pisau yang seketika menancap dengan kuat tepat mengenai jantung Jaden.

__ADS_1


"Nak, terima kasih sekali lagi. Ayah bangga dengan kamu." Tangan pria yang memiliki tinggi hampir sama dengan Jaden itu menepuk pundak Jaden.


__ADS_2