Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Saling Merindukan


__ADS_3

Jaden malam ini tidur di rumah sakit menemani Nenek Miranti. Bahkan, Renata juga ikut tidur di sana.


Malam itu nenek terbangun karena dia memikirkan di mana Nara berada. Dia yang ingin beranjak dari tempat tidurnya di urungkan karena kedua matanya menangkap sesuatu yang baginya tidak seharusnya begitu.


Nenek melihat Renata duduk di samping wajah Jaden yang sedang tertidur. Entah apa yang sedang Renata lakukan. Nenek tidak tau karena terhalang punggung Renata


"Renata, apa yang kamu lakukan di sana?" tegur nenek dan Renata yang tadinya berjongkok di samping wajah Jaden beranjak dan seolah habis mengelap air matanya.


"Nek, Nenek kenapa terbangun? Apa Nenek butuh sesuatu?" Renata menghampiri nenek Jaden.


"Kamu habis menangis? Lalu, apa yang kamu lakukan di dekat Jaden?" Nenek melihat curiga.


"Aku memang habis menangis, Nek. Aku melihat wajah Jaden kenapa ingin menangis? Nara benar-benar tega sudah meninggalkan Jaden seperti ini. Seharusnya dia mengatakan semua yang dia alami pada Jaden, jangan malah main pergi saja."


"Nara itu punya alasan yang kuat melakukan ini. Dia hanya ingin melihat suaminya tidak menderita meskipun hatinya sekarang pasti sangat sakit karena merindukan Jaden." Pandangan nenek melihat pada cucunya yang tengah tertidur.


"Aku benar-benar kasihan sama Jaden, Nek. Dia tadi sampai bermimpi sambil memanggil nama Nara."


"Benarkah, Renata?"


"Iya, Nek." Renata mengangguk beberapa kali. "Makannya tadi aku duduk di sampingnya untuk mencoba menenangkannya. Apa aku salah, Nek?"


"Tentu saja kamu tidak salah. Kamu sangat baik terhadap Jaden." Miranti memeluk Renata.


"Jaden dalam hatinya pasti sangat merindukan Nara, Nek. Kasihan dia."


"Renata, apa kamu mencintai Jaden?"


Renata yang berada dipelukan nenek seketika menarik tubuhnya dan menatap lekat wanita paruh baya yang baru saja memeluknya.


"Nenek kenapa bertanya seperti itu?"


"Aku hanya ingin tau saja. Tidak mungkin seorang sahabat yang sangat perhatian dengan sahabatnya tidak memiliki perasaan apapun."


"A-aku dan Jaden memang hanya bersahabat baik, Nek. Lagi pula aku tidak mungkin menyukai Jaden karena dia sudah memiliki Nara dan bahkan sangat mencintai Nara."


"Nenek sebenarnya senang kamu dan Jaden bisa sangat berteman baik seperti ini, tapi nenek juga mengingatkan kamu untuk menjaga hati kamu agar tidak menyukai Jaden. Bagaimanapun cucuku sangat mencintai istrinya. Nenek tidak mau kamu memendam rasa sakit yang pastinya tidak enak." Tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala Renata.


"Iya, Nek, aku tau akan hal itu."


Nenek lega sudah mengatakan hal itu. Nenek tidak mau Renata menjadi orang ketiga dalam pernikahan cucunya dan Nara.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kamu tidur saja, Renata."


"Aku akan tidur, tapi nenek tidur lagi karena nenek harus banyak beristirahat."


Renata menyelimuti nenek Miranti dan dia kembali ke tempat tidurnya. Renata yang duduk di atas tempat tidurnya melihat nenek dengan senyuman yang entah artinya apa?


***


Keesokan harinya Nara yang sudah terbangun dari tidurnya, walaupun sebenarnya dia tidak dapat tidur nyenyak karena kangen sama Jaden. Biasanya dia tidur dalam pelukan besar Jaden Luther.


"Aku harus berusaha kuat, semua yang aku lakukan untuk suamiku. Aku bisa melihatnya bahagia itu sudah lebih dari cukup buatku," dialog Nara sendiri melihat foto yang dia tempel di cermin. Foto siapa lagi kalau bukan suaminya.


Nara sudah bersiap dan dia keluar dari rumahnya untuk berjalan menuju tempat kerjanya yang tidak jauh dari tempat dia mengkontrak rumah.


Saat berjalan, Nara mendengar suara berisik di belakangnya. Suara bel sepeda membuatnya dia kesal.


"Kamu mau apa sih?" teriak Nara kesal, tapi beberapa detik kemudian dia melongo kaget melihat siapa yang ada di belakangnya.


"Hai," sapa seseorang dengan senyum manisnya.


"Paijo? Kamu kenapa naik sepeda seperti ini? Apa mobil kamu hilang?" tanya Nara khawatir.


"Ahaahah! Dasar lemot, pantas saja tuan mafia itu selalu memarahi kamu saat bekerja."


"Hm! Dia pamer lagi kemesraan dengan suaminya." Paijo memutar bola matanya jengah.


Nara menahan senyumnya. "Makannya cari pasangan biar tidak iri melihat kemesraan orang lain."


"Aku sama sekali tidak iri, Nara. Banyak wanita yang bisa dengan mudah aku dapatkan sekarang, hanya saja aku mencari sosok tulus mencintaiku tanpa melihat apa yang aku miliki."


"Suatu saat pasti kamu akan menemukannya?"


"Memangnya ada lagi stok calon istri seperti kamu?"


"Aku?" Tangan Nara menunjuk pada dirinya sendiri.


"Iya, seperti kamu yang baik dan setia. Satu lagi, tidak mata duitan."


"Kamu diam-diam menyukaiku, Ya?" Nara mendekatkan wajahnya pada Paijo.


"Tidak menyukai hanya mengangumi kamu. Bagaimanapun aku ini sahabatan sama kamu sudah lama, dan aku tau sifat kamu. Aku menyukainya."

__ADS_1


"Jujur, sebenarnya aku juga sangat mengangumi sifat kamu, Paijo." Nara memegang tangan Paijo. "Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku dan tidak berubah sifat kamu walaupun sekarang kamu bukan Paijo lagi yang dulu."


"Hm! Kenapa memegang tanganku? Kalau aku jatuh cinta sama kamu bagaimana?"


Nara seketika melepaskan tangan Paijo. "Masak pegangan tangan bisa langsung jatuh cinta?"


"Bisa saja Nara. Ayo sekarang naik, kita akan ke tempatku dengan boncengan sepeda."


"Kamu serius?"


"Serius. Aku kangen masa-masa kita sekolah dulu, Nara."


"Baiklah." Nara tiba-tiba naik ke belakang.


"Ya Tuhan! Kenapa sekarang rasanya kamu berat sekali?"


"Berisik. Ayo jalan! Tubuh kamu itu juga tambah berisi. Masak memboncengku saja tidak kuat?"


Paijo akhirnya mengayuh sepeda pergi ke restoran miliknya. Pas naik bukit dia seperti orang mau lahiran.


"Sudah, aku tidak sanggup kalau begini."


"Salah sendiri, orang tau jalannya menanjak, malah naik sepeda." Nara turun dari sepeda. "Sekarang kita jalan saja naiknya."


"Terus sepedaku bagaimana?"


"Tinggalkan saja di sini."


"Enak saja, ini sepeda yang selalu menemaniku selama ini. Ini kenangan masa sekolah kita, Nara."


"Kamu serius? Kenapa terlihat bagus begini?" Nara memperhatikan sepedanya dan benar itu sepeda yang selalu membawa Nara ke sekolah. Buktinya ada tanda tangan Nara di plang sepedanya yang tidak terkena cat baru.


"Ini sepedaku yang dulu. Aku perbaiki pada bagian yang rusak saja."


"Kalau begitu bawa naik sambil di tuntun saja pelan-pelan. Bagaimana?"


"Ide yang bagus."


Mereka akhirnya jalan berdua dengan Paijo menuntun sepeda miliknya, dan di sampingnya Nara berjalan.


"Jo, kamu kenapa bisa memikirkan untuk membuka restoran di sini? Di sini masih sepi penduduknya. Kenapa tidak membangun restoran di tempat yang lebih menguntungkan?"

__ADS_1


"Aku senang menjelajah tempat baru, Nara, apa lagi tempat yang masih belum banyak terjamah oleh orang lain. Di sini nantinya akan ramai karena di sini memiliki pemandangan yang indah. Kamu pasti menganggapku sombong, tapi aku yakin tempatku ini akan menjadi restoran satu-satu yang terkenal di tempat ini."


"Yakin sekali." Nara melirik pada Paijo yang menunjukkan wajah songongnya pada Nara.


__ADS_2