
Sandra menghabiskan makanannya. Nara yang melihatnya sangat senang melihat hal itu.
"Nara, kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk bisa mencuri hati tuan kamu itu?"
"Aku tidak tau, Mba." Nara sembari mengedikkan bahunya ke atas.
"Kamu tidak tau? Maaf, aku lupa kalau kamu tidak pernah terlibat dalam hal seperti ini, jadi kamu pasti tidak tau."
"Iya," jawab Nara lirih.
"Tapi aku lihat kenapa kamu sama tuan kamu itu sangat akrab dan seperti sepasang kekasih."
Kedua mata Nara mendelik. "Aku bukan kekasihnya, Mba. Siapa juga yang mau jadi kekasih pria dingin seperti dia. Tuan Jaden bahkan tidak ada dalam daftar calon kekasih idaman buatku."
"Benarkah? Tapi Jaden itu tampan dan kaya raya. Apalagi dia memiliki pesona yang kuat. Apa kamu tidak pernah terlintas tertarik pada Tuan kamu itu?" Sandra seolah menelisik.
Nara dalam hati mengakui jika tuannya itu memang sama persis seperti apa yang dikatakan oleh sang terapis ini, tapi mba Sandra tidak tau siapa Jaden. Nara yang sudah tau tidak akan mau menjadi kekasih Jaden, lebih baik dia cari aman saja.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama Tuan Jaden, di sini aku hanya bertugas melayani kebutuhan dia sehari-hari saja. Lagipula aku masih ingin memikirkan tentang menabung agar dapat kuliah. Meskipun hal itu dapat terjadi atau tidak," pada bagian itu Nara melirihkan ucapannya.
"Kamu bicara apa, Nara?"
"Oh! Tidak bicara apa-apa." Nara meringis.
"Kalau begitu mau tidak kamu melakukan sesuatu yang aku inginkan?"
"Melakukan apa, Mba?" tanya Nara penasaran.
"Maksud, Mba Sandra? Aku kan tiap hari harus melayani kebutuhan sehari-harinya, jadi mau tidak mau aku harus dekat dengan Tuan."
"Iya, aku tau, tapi jangan terlalu dekat sekali seperti sepasang kekasih begitu. Aku jadi cemburu sama kalian."
"Jadi, Mba serius mau dekat dengan Tuan Jaden?"
"Serius, Nara. Aku tidak tau kenapa langsung menyukai Tuan kamu itu. Rasanya menyenangkan saat melakukan terapi berdua seperti tadi."
__ADS_1
Nara hanya dapat mengangguk perlahan melihat ekspresi wajah mba Sandra yang terlihat bahagia.
"Jadi seperti itu wajah orang yang jatuh cinta? Aneh sekali?" gerutunya pelan.
Tidak lama baju yang dibelikan oleh Jaden datang dan Sandra berganti baju di kamar Nara. Nara yang menunggu di luar membersihkan meja makan.
"Kamar Nara nyaman juga. Aku jadi ingin bisa tinggal di sini dan lebih dekat lagi dengan si tampan yang baik hati itu. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan malaikat tampanku yang selama ini aku cari." Sandra memandang dirinya di depan cermin.
"Mba Sandra, mau pulang sekarang?"
"Iya, aku mau pulang dulu dan besok pagi aku akan datang ke sini. Nara, kamu ingat apa yang aku katakan, jangan terlalu dekat dengan Jaden karena aku ingin mendekati Tuan kamu itu, tapi kamu jangan bilang pada Tuan Jaden. Kamu mau membantuku, Kan?"
Nara mengangguk perlahan. "Aku akan membantu Mba Sandra, Mba Sandra tenang saja."
"Terima kasih, Nara." Supir pribadi Jaden mengantar Sandra pulang ke rumahnya. Nara yang agak lelah seketika merebahkan tubuhnya di atas sofa sebentar.
"Nara, ikutlah denganku? Aku akan menjaga kamu dengan sangat baik." Sebuah tangan menjulur tanpa Nara ketahui wajah pemilik tangan itu.
__ADS_1