Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Merasa Ingin Menyerah


__ADS_3

Jaden mengakhiri panggilan teleponnya, dia tidak tetap tidak mengatakan jika dirinya sedang bersama Nara, dan terpaksa lagi berbohong dengan neneknya mengatakan dia masih di luar kota.


"Nek, ada apa?" tanya Renata yang melihat nenek tampak terdiam.


"Jaden," ucapnya.


"Ada apa dengan si muka dingin, Nek?"


Nenek menceritakan jika Jaden baru saja bertemu dengan seseorang yang mengenal Jaden dan Nara sebagai suami istri.


"Lalu?"


"Jaden bertanya apa benar Nara adalah istrinya di masa lalu?"


"Apa?" Renata terkejut. "Lalu, apa yang Nenek katakan?"


"Nenek tidak mengatakan apa-apa, hanya bilang agar Jaden pulang saja dan tidak perlu mendengarkan ucapan orang lain, kalau ada apa-apa, dia bisa bertanya langsung padaku."


Renata tampak berpikir sejenak. "Nek, apa aku susul saja Jaden ke tempat dia mengurusi urusan bisnisnya? Aku akan ajak dia pulang kalau perlu."


"Jangan, Jaden tidak suka jika kita memperlakukan hal seperti itu. Dia akan semakin curiga."


"Kalau begitu rencana kita untuk mencarikan seseorang untuk Jaden kita percepat saja, Nek, supaya Nara tidak memiliki kesempatan mendekati Jaden lagi. Kasihan jika nanti Jaden berusaha mengingat Nara yang telah meninggalkannya."


Nenek Miranti terdiam sejenak. "Sebenarnya nenek berharap bisa bertemu dengan Nara dan bicara langsung pada Nara. Nenek ingin tau apa maksud dia meninggalkan Jaden dan bersama pria lain?"


Renata mengkerutkan kedua alisnya. Dia tidak boleh membiarkan kalau nenek sampai bertemu dengan Nara. Rencana dia dan Jacob akan gagal.


"Aku sudah bilang sama Nenek jika pria itu adalah mantan kekasih Nara waktu mereka masih sekolah. Nara ternyata masih mencintainya."


Manik mata berwarna coklat itu melihat seolah masih belum yakin jika Nara benar-benar berselingkuh. "Kalau dia masih mencintai mantan kekasihnya, kenapa dia memilih bersama Jaden?"


"Kita tidak tau pasti alasannya. Bisa saja dia tidak mau jadi pelayan Jaden terus."


"Padahal Jaden sangat mencintai Nara, Renata. Apa yang harus kita lakukan?"


"Lakukan sesuai rencanaku. Setelah Jaden pulang, kita akan menyiapkan acara pernikahan untuk dia. Kalau kita belum menemukan wanita yang cocok dengan Jaden. Aku yang akan menjadi pendamping Jaden."


"Kamu?"


"Iya, Nek. Dulu kakekku dan mendiang suami Nenek pernah menjodohkan aku dengan Jaden, tapi hal itu belum sampai terjadi karena suatu hal. Apa salahnya kita wujudkan itu sekarang."


Nenek Miranti terdiam. Dia memang ingat suaminya pernah berencana akan menjodohkan Jaden dengan Renata, tapi setelah itu dia tidak tau kelanjutannya.

__ADS_1


"Apa Jaden akan mau menerima kamu?"


"Nenek lihat saja nanti. Nenek juga tidak perlu khawatir karena aku akan membuat Jaden melupakan Nara dan mencintai aku."


"Nenek hanya berharap Jaden bisa bahagia. Itu saja."


Renata memeluk Nenek Miranti dengan bahagia.


Di rumah, dua orang yang adalah sepasang suami istri itu masih saling melihat dalam diam.


"Apa yang dikatakan oleh Nenek?" tanya Nara.


"Nenek tidak menjawab pertanyaanku dengan jelas, tapi seolah memberi isyarat jika aku belum menikah dan mungkin aku hanya mengenal kamu."


"Nenek? Kenapa Nenek berbuat seperti itu?" kata Nara lirih. Nara teringat tentang ucapan Leo yang bilang nenek mulai percaya dan membenci Nara karena foto yang di tunjukkan oleh Renata.


"Aku tidak akan percaya lagi sama kamu, Nara."


Nara mendekat dan menyentuhkan telapak tangannya pada dada bidang Jaden yang polos.


"Di sini ada namaku, Jaden. Kamu sangat mencintaiku. Aku tau kamu kehilangan sebagian ingatan kamu, tapi bukan berarti hati kamu juga lupa akan cinta kamu," Nara berkata dengan bibir bergetar dan air mata pun tak hentinya menetes.


Jaden yang melihatnya seolah ada benda keras menghantam hatinya. Dia ingin sekali memeluk wanita di depannya itu, tapi seolah ada penghalang yang menghalangi niatnya itu.


"Mas Leo," ucap Nara.


"Leo? Ada apa dengan Leo?"


"Dia tau segalanya. Bicaralah dengannya."


Salah satu alis Jaden naik ke atas. "Kamu kenal juga dengan Leo? Kamu benar-benar wanita pemikat."


"Hubungi dia. Mas Leo orang yang sangat baik. Dia akan mengatakan kejujuran padamu jika aku benar adalah istri kamu."


"Baiklah!" Jaden mencoba menghubungi Leo. Beberapa kali panggilan Jaden tidak dijawab.


"Bagaimana?" tanya Nara penasaran.


"Leo tidak menjawab panggilanku."


"Oh Tuhan! Di mana Mas Leo?"


"Dia sedang mengurusi urusanku. Mungkin dia sedang sibuk. Nara, bagaimana jika terbukti kamu bukan istriku. Apa hukuman yang pantas aku berikan sama kamu?"

__ADS_1


"Terserah, kamu mau membunuhku pun aku tidak peduli karena buat apa aku hidup jika orang satu-satunya yang aku miliki di dunia ini sudah melupakan aku."


Tidak lama ponsel Jaden berbunyi dan ada nama Leo di sana.


"Halo, Tuan Jaden, ada apa?"


"Leo, apa kamu kenal dengan wanita bernama Nara?"


"Nara? Apa maksud Tuan yang bekerja di restoran itu?"


"Iya. Kamu mengenalnya?"


"Sa-saya." Leo terdiam sejenak.


"Apa kamu mengenalnya atau tidak, Leo?" bentak Jaden marah.


Leo bingung harus menjawab apa? Dia takut jika nanti Tuannya akan bertanya banyak hal tentang Nara.


Nara yang melihat hal itu dengan cepat merebut ponsel Jaden dan bicara dengan Leo.


"Mas Leo, aku Nara dan aku sedang bersama dengan suamiku."


"Nara? Kenapa kamu bisa bersama dengan Tuan Jaden?"


"Mas Leo nanti saja aku jelaskan, yang terpenting sekarang aku mau Mas Leo mengatakan hal sebenarnya jika aku adalah istri dari Jaden."


"Nara, kamu jangan berbuat hal yang bisa membahayakan nyawa Tuan Jaden. Apa kamu mau dia kenapa-napa?"


Terdengar suara isak tangis Nara. "Aku sangat mencintai suamiku dan aku tidak mau dia kenapa-napa, tapi aku juga tidak mau dianggap sebagai wanita yang ingin merayu atau penggoda. Aku hanya ingin dia ingat betapa dia mencintaiku dulu, Mas Leo."


"Aku tau Nara, tapi keadaan Tuan Jaden saat ini sedang tidak baik. Nara, kalau kamu mencintai Tuan Jaden, sebaiknya kamu bersabar dulu dan jangan sampai membuat Tuan Jaden dalam bahaya."


Nara mengerti maksud Leo, tapi Nara hanya ingin Jaden ingat dia. Nara memberikan ponselnya pada Jaden.


"Ada apa, Leo?"


"Tuan, tolong maafkan Nara jika dia sudah mengaku sebagai istri Tuan."


"Jadi dia hanya mengaku." Tertarik senyum devil pada bibir Jaden. Nara yang berdiri di sana hanya bisa pasrah.


"Tuan, jangan menyakiti dia. Dia adalah wanita yang baik dan hanya merindukan seseorang yang sangat dia cintai saat dia cerita denganku di restoran. Wajah orang yang dia rindukan hampir mirip dengan Tuan."


"Baiklah! Aku juga tidak terlalu mengurusinya." Jaden menutup panggilannya.

__ADS_1


Nara hanya terdiam menunduk. Dia seolah sudah kalah saat ini untuk meyakinkan Jaden.


__ADS_2