Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Menjadi Perawat Jaden part 1


__ADS_3

Nara masih duduk di sebelah Jaden dengan memeluk tubuh pria itu dari samping. Dia sebenarnya tidak iklhas melakukan hal itu, tapi dia terpaksa melakukannya karena suara petir dan guntur yang dari tadi hanya terjeda beberapa detik bersahutan, di tambah suara bunyi dari dedaunan yang menambah suasana semakin seram.


Jaden hanya duduk tegap terdiam tubuhnya di peluk oleh gadis mungil yang tangannya tidak sampai memeluk Jaden dengan sempurna.


"Kenapa takutnya berlebihan? Ini hanya suara petir, Nara. Suara ini tidak akan melukai tubuh kamu," ucap Jaden santai.


Nara tidak peduli dengan ucapan Jaden, dia malah memejamkan kedua matanya dan menyembunyikan mukanya pada lengan kekar Jaden.


Jaden hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nara.


"Apa kamu tidak punya rumah lagi selain di tempat aneh ini? Kenapa memilih tinggal di sini, sih?" kesalnya Nara dengan wajah yang sekarang terangkat melihat pada Jaden.


"Tidak semua hal kamu harus tau alasannya, lagipula tempat ini sangat indah, dan kapan-kapan kamu harus keluar untuk melihat keindahan tempat ini, tapi harus denganku."


"Aku sudah melihat tempat ini, dan berakhir kita jatuh dari bukit." Nara kembali menelungsupkan mukanya pada lengan Jaden karena lagi-lagi suara petir yang tiba-tiba menyambar dengan keras.


"Kamu belum melihat semuanya, Nara, apalagi kamu berjalan ke arah yang salah."


"Tidak peduli, yang jelas sekarang aku takut dengan tempat ini apalagi waktu hujan seperti ini."


Terdengar suara kekehan tawa kecil dari Jaden yang akhirnya membuat Nara penasaran dan kembali mengangkat wajahnya. "Kamu aneh," ucap Jaden singkat.


"Aneh apanya? Kamu kenapa malah tertawa di atas ketakutan orang lain. Dasar! Tidak punya hati."


"Kamu sepertinya gadis yang kuat, kenapa sama petir takut?"


"Tentu saja takut, setiap wanita itu takut mendengar suara petir begini. Dulu waktu ada mama, setiap hujan deras dan terdengar suara petir serta guntur seperti ini, mama selalu menemaniku, dan suasana seperti ini mengingatkan aku akan kecelakaan yang menimpah kedua orang tuaku," ucap Nara sedih.


Jaden tidak berkata apa-apa lagi. Dia malah terdiam dan Nara juga terdiam untuk beberapa menit.


Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Jaden yang membuat mereka berdua yang terhanyut dalam pikiran masing-masing menjadi tersadar.


"Masuk," titah Jaden.

__ADS_1


Pintu segera dibuka dan tampak seorang pria yang tak lain adalah Leo agak kaget melihat Jaden satu ranjang dengan Nara, apalagi Nara memeluk lengan tangan Jaden dengan memakai baju milik Jaden.


"Mas Leo!" seru Nara senang.


"Nara? Tuan Muda, kalian kenapa bisa satu ranjang begini?"


Jaden melirik pada Nara yang wajahnya tampak berubah sumringah melihat Leo di sana.


"Jangan banyak tanya dulu, Leo. Mana dia?"


Tidak lama masuk seorang pria dengan kacamata putihnya dan stetoskop menggantung pada lehernya.


"Oh my God! Kamu benar-benar keterlaluan, Jaden. Kenapa kamu malah menyuruh Leo menjemputku? Aku sedang ingin bersenang-senang dengan kekasihku menikmati liburan." Pria itu berkacak pinggang di depan Jaden.


"Nanti kamu bisa liburan lagi setelah kamu memeriksaku, atau kalau kamu masih mengeluh, aku dapat menghubungi Kelli untuk mengajaknya minum kopi bersama sambil mengobrol tentang seorang pria yang tidak bisa setia dengan pasangannya," ucap Jaden santai melihat tegas pada teman dokternya itu.


"Dasar! Baiklah. Aku akan memeriksa kamu." Teman Jaden yang seorang dokter umum itu berjalan mendekat ke arah Jaden. Nara melepaskan tangannya dan agak menjauh dari Jaden. Dia yang hendak beranjak dari tempat tidur Jaden, tangannya ditahan oleh Jaden.


Will sang dokter bingung melihat ini kenapa dua orang malah saling melihat begini?


"Jade, aku mau memeriksa kamu," ucap temannya.


"Nara kamu di sini saja dan tetap duduk di dalam selimut. Kaki Nara sebenarnya saat pindah duduk di sebelah Jaden berada di bawah selimut.


"Tapi aku mau membuatkan kalian minuman. Mas Leo bisa menemani aku di dapur agar aku tidak takut."


"Aku bilang temani aku di sini. Apa kamu tidak mendengar ucapanku?" Jaden menekankan kata-katanya.


Nara sebal. Kenapa Jaden seolah mengajaknya ribut saja? Dia akhirnya menuruti apa kata Tuannya dan duduk manis di sebelah Jaden.


Will segera melakukan tugasnya. Dia bertanya pada Jaden kenapa hal ini sampai bisa terjadi? Jaden menceritakan.


Will melakukan pemeriksaan pada tubuh Jaden. "Jade, mungkin kamu harus menggunakan kursi roda dalam beberapa hari sampai keadaan punggung kamu sembuh. Aku akan memberikan obat juga dan kamu nanti harus melakukan terapi di rumah sakitxle2 untuk menerapi punggung dan kaki kamu, Jade."

__ADS_1


"Bawa saja terapis itu ke sini karena aku tidak mau melakukan terapi di rumah sakit."


"Apa kamu yakin?" Kedua mata Will melihat aneh pada Jaden.


"Tentu saja, aku bisa mengurusnya nanti. Kamu siapkan saja semua agar aku bisa secepatnya sembuh dari sakit ini."


"Baiklah, dan aku juga akan memberikan beberapa info tentang makanan apa saja yang boleh kamu makan selama penyembuhan ini. Aku nanti akan berikan pada Bi Ima."


"Berikan saja pada Nara karena Bi Ima beberapa hari ini tidak akan bekerja di sini, dan tugas Bi Ima semuanya akan dilakukan oleh Nara." Jaden melihat pada Nara yang agak terkejut mukanya.


"I-iya, berikan saja padaku, Pak Dokter."


"Jangan panggil Pak Dokter, Nara. Memangnya aku setua itu? Aku saja belum menikah. Kamu panggil saja namaku atau dokter Will. Nara aku akan memberitahu kamu tentang apa yang harus kamu lakukan pada Jaden."


Nara mengangguk walaupun dia tidak yakin dapat melakukannya. Nara tiba-tiba di tuntut untuk merawat orang sakit. Sebenarnya, dari kecil Nara memang suka sekali main dokter-dokteran, tapi dia juga menyukai dunia memasak. Dia ingin bisa menjadi dokter sekaligus seorang chef dan memiliki sebuah restoran kecil dengan dia yang menjadi chefnya.


Namun, sekarang semua impiannya itu harus dipendam dalam-dalam.


Hujan di luar sudah agak reda, dan Will diantar oleh Leo pulang ke rumahnya. Nara yang masih duduk di sana menunggu perintah dari Tuannya.


"Kamu kenapa masih di sini? Apa kamu tidak mau menyiapkan makan malam untukku?"


"Huft! Aku justru menunggu perintah dari kamu, Tuan JL. Apa aku sekarang sudah boleh pergi?"


"Kamu boleh pergi, dan aku sudah menyuruh Leo mengambil baju baru untuk kamu di butik langgananku. Setelah baju itu datang kamu langsung berganti baju."


"Jadi, kamu sudah membelikan aku baju?"


"Iya, nanti setelah keadaanku membaik, akan aku ajak kamu untuk memilih baju yang ingin kamu beli."


Nara mengangguk dan dia turun dari ranjang Jaden. Jaden sekali lagi dapat melihat penampilan Nara yang benar-benar membuatnya susah untuk menelan salivanya.


"

__ADS_1


__ADS_2