Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Ulang Tahun Sandra


__ADS_3

Nara keluar dari kamar Jaden dengan berderai air mata, tapi Jaden tidak melihat hal itu. Pria itu malah terdiam beku di tempatnya.


Nara berdiri di dekat wastafel dengan menahan rasa sakit di hatinya 9. "Nara bodoh ... bodoh ... bodoh. Seharusnya kamu tau bagaimana sifat Tuan Jaden. Dia itu tidak memilik hati, bahkan cinta. Apa yang kamu harapkan dari dia? Ciuman itu kamu anggap dia mencintai kamu? Kamu hanya seorang pelayan." Nara mengomel pada dirinya sendiri


Nara sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba terbesit tentang hal itu? Apa karena dia teringat film yang pernah dia lihat di rumah saat tidak ada pekerjaan? Film tentang adegan pria mencium wanita yang menjadi kekasihnya, dan ciuman itu lembut.


"Mulai sekarang aku tidak mau melihat film romantis begitu. Cinta itu bikin sakit, walaupun di film terlihat sangat indah."


"Nara, kamu sedang apa?" Tiba-tiba ada tangan menepuk pundak Nara. Nara secepat kilat menghapus air matanya yang masih tersisa.


"Mas Roy? Mas Roy ada apa ke sini?"


"Aku membantu membawa barang-barang milik Mba Sandra. Ini." Roy menunjukkan barang yang dibawa olehnya.


"Banyak sekali. Mba Sandra habis belanja barang-barang ini?" Nara membantu mas Roy mengeluarkan semua yang ada di dalam goodie bag itu. Ternyata isinya bermacam-macam makana, seperti salad, ayam panggang dan kue-kue.


"Ada acara apa memangnya? Kenapa mba Sandra membeli banyak sekali makanan?"


"Aku sendiri tidak tau, Nara. Mba Sandra tidak bilang apa-apa tentang semua ini. Aku hanya membantunya saja.


"Lalu di mana mba Sandra?" Nara celingukan mencari di mana Mba Sandra berada.


"Katanya, mba Sandra ke kamar tidur Tuan Jaden."


"Ya sudah kalau begitu aku mau pergi sebentar. Mas Roy biarkan saja, nanti biar aku yang merapikan."


"Nara!" Tangan Nara tiba-tiba ditahan oleh mas Roy.


Nara tampak terkejut dan melihat bingung pada pria yang sedang memegang tangannya. "Mas Roy, jangan seperti ini, aku tidak enak jika dilihat orang lain." Nara melepaskan tangan Mas Roy.


"Nara, apa kamu sengaja menghindariku?"


"Aku tidak menghindari kamu, hanya saja aku harus melakukan pekerjaanku lainnya."


"Nara, jangan marah atau membenciku. Apa yang aku lakukan itu hanya ingin agar kamu tau jika aku memiliki perasaan sama kamu. Aku serius sama kamu."

__ADS_1


"Iya, tapi hal itu belum bisa aku terima. Aku masih mau menikmati hidupku seperti ini." Nara berjalan pergi dari sana.


Di dalam kamarnya, Jaden sudah siap setelah dibantu oleh Sandra. "Nara itu bagaimana? Aku minta tolong untuk mengurus Tuan sebentar, tapi malah tidak peduli."


"Aku yang memang meminta Nara tidak membantuku karena aku mau berusaha sendiri. Pekerjaan Nara masih banyak yang harus dia kerjakan."


"Keadaan Tuan semakin membaik, saya sangat senang dengan perkembangan Tuan Jaden."


"Itu semua berkat kamu."


"Tuan, setelah Tuan sembuh aku pasti akan merindukan Tuan Jaden." Jemari Sandra mulai mengusap perlahan wajah Jaden. Si pemilik rahang tegas itu tampak terdiam membiarkan Sandra mengusap rahangnya. "Tuan, jujur saja, aku ingin sekali kamu masih membutuhkan diriku, agar aku bisa terus dekat dengan kamu di rumah ini."


"Apa kamu benar-benar menyukaiku?"


"Tentu saja, bahkan aku mau melakukan apapun yang kamu inginkan."


"Sandra, apa kamu tau siapa aku sebenarnya, dan bagaimana dengan sifatku yang sesungguhnya?"


"Aku tidak peduli dengan siapa kamu, yang aku tau bahwa aku sudah jatuh cinta denganmu." Sekali lagi Sandra malah duduk di pangkuan Jaden dan sekarang Sandra lebih berani dengan mengecup perlahan leher Jaden. Dia sepertinya sengaja melakukan hal itu untuk membuat Jaden menginginkan dirinya.


"Apa kamu tidak bisa membuka hati kamu untukku, Tuan?"


Tangan Sandra seketika terhenti dan turun perlahan dari wajah Jaden. "Siapa? Apa kamu sebenarnya sudah memiliki kekasih?"


"Dia bukan kekasihku, tapi dia sudah memiliki hatiku."


"Apa Nara yang kamu maksud?" Kedua mata Sandra tampak menatap serius pada Jaden.


"Siapapun dia, kamu tidak perlu tau. Aku hanya ingin agar kamu tidak berharap lebih denganku karena aku tidak bisa memberi kamu sesuatu yang kamu harapkan."


"Tuan Jaden, aku tidak peduli jika hatimu sudah milik orang lain. Aku ingin berada di samping kamu." Sandra memeluk Jaden dengan erat.


Nara yang baru saja ingin masuk kamar Jaden mendadak terhenti langkahnya dan terdiam di depan pintu.


Sekali lagi Nara merasakan sakit di hatinya. Sakit yang tadi belum sembuh mendadak ditambah lagi sakitnya.

__ADS_1


"Lebih baik aku tidak mengganggu mereka sekarang. Aku pergi saja." Nara memutar badannya dan pergi kembali ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian Nara yang sedang berada di dapur ingin membuat sesuatu melihat Tuan JLnya dan Mba Sandra yang mendorong kursi roda tampak terlihat bahagia.


Dalam hatinya, Nara menduga jika mereka berdua mungkin sudah menjadi sepasang kekasih. Nara benar-benar hanya dianggap sebagai boneka yang bisa Jaden mainkan.


"Nara, sudah kamu tata semua makanannya?" tanya Mba Sandra.


"Sudah, Mba. Mba, sebenarnya ada acara apa hari ini? Kenapa Mba Sandra banyak sekali memesan makanan?"


"Hari ini adalah hari yang spesial buatku, dan aku ingin merayakan hari ini dengan semua orang yang ada di sini."


Please! Nara tidak mau mendengar jika hari ini Tuan JL dan Mba Sandra resmi sebagai sepasang kekasih karena Nara tidak akan bisa mendengarnya, walaupun Nara juga berharap Jaden memiliki kekasih. Membingungkan ih, Nara.


"Hari spesial?"


"Iya, hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku ingin merayakan dengan Tuan Jaden dan para pengawal di sini. Nanti dokter Will juga akan datang ke sini."


"Will juga akan datang?" tanya Jaden.


"Iya, aku sudah menghubunginya, lagipula dokter Will juga hari ini libur bertugas."


"Selamat ulang tahun ya, Mba Sandra. Semoga apa yang di cita-citakan Mba Sandra dapat terwujud."


"Terima kasih, Nara." Sandra memeluk Nara. "Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, Nara. Tuan Jaden," ucapnya berbisik pada Nara.


Mata Nara membulat sempurna mendengar hal itu, tapi dia harus mencoba tersenyum. Ini juga, kan, yang Nara harapkan?


"Selamat sekali lagi Mba Sandra."


"Kalau begitu kamu coba panggilkan para pengawal lainnya agar kira bisa makan bersama."


"Iya." Nara berjalan keluar untuk memanggil para penjaga di luar. Tidak lama Nara melihat ada mobil dokter Will berhenti dan pria dengan setelah kemeja putih celana hitam itu keluar dari dalam mobil berjalan dengan gagahnya menghampiri Nara.


"Hai, Nara," sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Halo Dokter Will. Aku tadi hampir tidak mengenali Pak Dokter tadi."


"Kenapa? Aku terlihat ganteng ya dengan baju seperti ini?" Alis dokter yang rada selengean itu naik turun membuat Nara malah tertawa dengan senangnya.


__ADS_2