Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Diculik part 1


__ADS_3

Pagi itu di rumah Nara. Gadis pemilik mata indah itu sepertinya hari ini sedang tidak enak badan. Nara yang biasanya bangun lebih awal untuk membuat makanan, tapi sekarang dia masih saja berbaring di atas tempat tidur.


"Nara, bangun! Ini jam berapa? Kenapa kamu masih tidur?" Sebuah tangan dengan kasar menarik tangan Nara sampai gadis itu terpaksa membuka kedua matanya dengan lebar.


"Bi, aku tidak enak badan. Badanku rasanya demam," ucap Nara lirih.


"Aku tidak peduli yang jelas sekarang kamu bangun dan buatkan kami sarapan pagi seperti biasa. Kalau kamu tidak bangun, kami semua bisa tidak sarapan."


"Bi, aku minta tolong hari ini Bibi saja yang membuat makanan, atau kita membelinya saja."


"Kamu menyuruhku memasak? Enak saja kamu bilang. Aku tidak bisa memasak karena aku sudah tampil sangat rapi dan bersih, setelah dari sekolah Mona, aku mau pergi arisan dengan teman-temanku."


"Bibi, kan, libur kerja, jadi apa salahnya gantian denganku untuk memasak? Atau kalau tidak kita beli saja makanan untuk sarapan, Bi. Maaf, aku benar-benar tidak enak badan," ucapnya sekali lagi dengan suara lirih


"Kita tidak punya uang untuk membeli makanan, lagian kemarin kamu sudah membeli bahan makanan, dan sekarang kamu lebih baik bangun dan segera membuat makanan," bentaknya kasar.


Nara melihat jam di dinding kamarnya, dia juga sebenarnya berat jika hari ini dia tidak masuk sekolah karena hari ini ujiannya akan dibagikan dan dia berharap mendapat nilai yang bagus.


Nara berdiri dengan menguatkan dirinya sendiri. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi agar badannya lebih segar dan berharap setelah mandi keadaannya lebih baik.


"Dingin sekali airnya. Apa aku cuci muka dan gosok gigi saja? Lagian tidak ada yang akan tau jika aku belum mandi." Nara memilih menggosok gigi dan cuci muka saja. Setelah itu dia bergegas berganti baju seragam.


"Kak Nara, hari ini Kak Nara mau masak apa? Aku mau membantu Kak Nara," suara gadis kecil yang sangat menyayangi Nara berdiri tepat di sebelah Nara yang sedang memotong sayuran.


"Aku mau memasak sup ayam saja Lisa karena tadi Kak Nara bangunnya kesiangan."

__ADS_1


"Aku suka sup ayam. Mana? Biar aku bantu Kak Nara."


"Tidak perlu Lisa, kamu duduk saja di meja, dan tidak akan lama sup ayamnya akan segera siap." Nara sengaja hari ini membuat sup ayam karena dulu waktu mamanya masih hidup, dan saat Nara sakit, Nara selalu dibuatkan sup ayam oleh mamanya. Nara masih ingat resep sup ayam yang dibuatkan oleh mamanya karena Nara sering membantu mamanya memasak walaupun dia masih kecil.


"Kak Nara demam, Ya? Tangan Kak Nara hangat aku sentuh."


"Kakak hanya kurang enak badan saja. Lisa duduk saja di sana, biar Kak Nara bisa menyelesaikan pekerjaan Kak Nara." Nara tersenyum pada gadis kecil yang memegang lengan tangannya.


Saat Nara sedang mengaduk supnya, Lisa yang sebenarnya sangat ingin membantu Nara malah mengambil pisau dan mencoba memotong wortel yang Nara tinggalkan untuk mengaduk sup. Tidak lama terdengar suara tangis Lisa yang sangat keras.


"Lisa, kamu kenapa?" Nara sangat kaget melihat ada darah yang keluar dari jari kecil tangan Lisa.


"Tanganku sakit, Kak Nara," ucapnya sesenggukan.


"Ya ampun, Lisa! Tadi Kak Nara sudah bilang tidak perlu membantu memasak kamu duduk saja." Nara segera mengambil kotak obat dan dengan cepat menempelkan plester untuk menghentikan darahnya.


"Bi, tadi Lisa mencoba membantuku memasak, tapi jarinya malah teriris pisau."


"Kamu itu bagaimana sih, Nara. Anak sekecil ini kamu suruh membantu memasak? Kamu sengaja ya mau melukai anakku karena marah aku suruh membuat makanan saat kamu sakit?" ucapnya marah.


"Tidak sama sekali, Bi. Aku sudah menyuruh Lisa duduk saja, tapi Lisa malah mengambil pisau untuk memotong wortel."


Paman Benu dan Mona yang mendengar keributan di dapur segera menuju dapur. Soraya menjelaskan hal yang bukan sebenarnya.


"Kamu memang tidak tau terima kasih, Nara."

__ADS_1


"Ayah, Kak Nara tidak salah, aku yang salah sudah tidak mau mendengarkan Kak Nara. Kalian jangan menyalahkan Kak Nara."


"Sekarang kamu buat sarapan dan segera berangkat sekolah, aku juga tidak mau terlambat untuk menemui seseorang karena ada bisnis penting hari ini yang harus segera aku selesaikan."


"Mungkin lebih baik kami dulu tidak membesarkan kamu kalau nyatanya akan menyusahkan," gerutu Soraya.


Nara yang mendengarkan hal itu merasa sangat sakit di dalam hatinya. Dia juga tidak mau hidup seperti ini, tapi kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal juga bukan inginnya.


"Kak Nara, tidak makan?" tanya Lisa.


"Kak Nara membawa untuk bekal saja, nanti Kak Nara makan di sekolah." Nara memasukkan bekal makanannya ke dalam tas sekolahnya.


"Ini uang jajan untuk kamu, dan jangan meminta tambahan karena paman tidak ada uang."


"Kamu minta saja sama orang yang sudah membayar uang sekolah kamu, Nara. Aku tidak menyangka kamu diam-diam memiliki simpanan om-om kaya yang mau membayar uang sekolah kamu," ucap Mona mengejek.


"Aku sudah jelaskan jika aku sendiri tidak tau siapa yang membayar uang sekolahku, Mona. Kenapa kamu malah berpikiran aku seperti itu?" Kedua alis Nara mengkerut kesal.


"Kalau bukan om-om yang memberikan kamu uang, lantas siapa? Tidak akan ada orang baik memberi sesuatu jika tidak ada balasannya." Mona seolah mengarah jika Nara sudah menjual dirinya.


"Terserah kamu bilang apa, dipikiran kamu itu hanya ada hal buruk. Pantas kamu tidak pernah dapat pacar," ucap Nara yang langsung pamit untuk berangkat sekolah. Padahal Nara sendiri juga tidak pernah punya pacar, tapi kata-kata Nara barusan langsung mengenai mental Mona yang memang sering curhat tengah malah dengan Rachel karena dia menyukai seseorang, tapi tidak terbalas.


"Awas kamu, Nara!" geram Mona. Lisa yang melihat wajah kakaknya kesal malah terkekeh.


Nara berjalan menuju sekolahnya. Dia tidak mungkin naik ojek online atau angkutan umum karena uangnya tidak cukup. Hari ini pamannya memberi dia uang saku yang lebih sedikit dari biasanya. Padahal biasanya juga sedikit.

__ADS_1


"Kenapa juga aku marahan dengan Paijo. Sekarang aku sendiri yang susah karena harus berjalan kaki tiap berangkat dan pulang sekolah," omel Nara sambil berjalan menyusuri taman yang agak sepi karena memang hari ini bukan hari libur.


Nara menghentikan langkahnya saat mobil van hitam berhenti tepat di depannya, dan saat pintu terbuka, tiba-tiba seragam Nara ditarik oleh sebuah tangan besar masuk ke dalam mobil itu. Nara yang tidak siap apalagi dia sedang tidak enak badan terkejut dan berontak sebisanya. Mobil van itu membawa Nara pergi dari sana.


__ADS_2