Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Rasa yang Sulit Diartikan


__ADS_3

Nara dan Mas Leo sampai di kamar Jaden. Mereka berdua melihat Jaden yang sedang menikmati makan paginya dengan di suapi oleh Sandra.


"Bagaimana, Tuan Jaden, apa masakan buatanku enak?" tanya wanita yang sedang menyuapi Jaden.


"Lumayan, aku menyukai masakan kamu." Jaden melirik pada Nara dan Leo yang di tangan Nara sudah membawa masakan buatannya.


Nara sebenarnya sudah membuat masakan, tapi dia bilang jika belum selesai agar Jaden mau makan masakan buatan Sandra, dan rencananya berhasil walaupun hatinya ada rasa tidak terima.


"Kalau begitu aku bawa kembali saja makanan ini. Mas Leo belum sarapan, Kan? Sebaiknya Mas Leo makan dulu dan aku juga akan memanggil para penjaga di luar."


"Leo, aku nanti saja bicara dengan kamu, sebaiknya kamu sarapan dulu. Aku akan menyelesaikan sarapanku dengan Sandra."


"Baik, Tuan." Leo mengangguk perlahan dan pergi dari sana.


Nara berjalan dengan diam menuju arah dapur. "Mas Leo, Mas Leo makan dulu, aku akan memanggil para penjaga."


"Biar aku yang memanggilnya, kamu makan saja dulu."


Leo berjalan ke arah luar dan Nara menyiapkan makanan di meja. Tidak lama para penjaga dan Mas Leo menuju meja makan, tapi tidak menemukan Nara di sana.


"Pak Leo, mari kita makan sama-sama," ajak salah seorang penjaga di sana.


Leo yang sebenarnya menunggu Nara datang tersentak kaget dan akhirnya mereka makan bersama.


"Kenapa hatiku sakit begini? Ada apa sih sebenarnya sama aku. Apa aku mau datang bulan? Tapi bulan ini aku sudah datang bulan. Ih ...." Nara mengamuk sendiri di dalam kamar mandinya sambil menyeka air matanya beberapa kali.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Nara diketuk oleh seseorang. Nara yang sedang berbaring di kamarnya segera menuju pintu kamarnya dan saat membuka, dia agak terkejut melihat ada Leo di depan kamarnya.


"Mas Leo, ada apa?"


"Nara, aku menunggu kamu tadi. Kamu kenapa tidak makan pagi? Malah kamu berada di dalam kamar. Apa kamu sakit?"


"Em ... aku sedang tidak enak badan saja tadi. Kepalaku agak sedikit pusing."


"Kamu pusing? Telapak tangan Leo langsung memeriksa dahi Nara. " Tidak panas."

__ADS_1


"Memang tidak panas. Aku hanya merasa pusing saja karena semalam aku tidak bisa tidur nyenyak gara-gara mimpi yang menakutkan."


"Kamu mimpi apa?"


"Mimpi yang tadi aku diceritakan pada Mas Leo, tentang aku yang dijual di mucikari, dan aku juga bermimpi tentang seorang pria yang bersimbah darah di depanku dan aku sampai menangisinya."


"Mimpi kamu aneh sekali. Ya sudah kalau begitu aku akan mencoba memijit kepala kamu." Tiba-tiba Leo menggandeng tangan Nara dan mengajak Nara ke balkon yang ada di dekat kamar Nara. Leo menyuruh Nara duduk santai di sofa.


"Mas Leo mau apa?"


"Mau memijit kepala kamu. Ibuku sering memijit kepalaku jika sedang sakit dan tidak lama sakitnya hilang."


"Tapi aku hanya seorang pelayan, tidak sepatutnya Mas Leo memijat kepalaku."


"Ahaahahha! Kamu itu lucu. Kamu kira aku di sini siapa? Aku juga hanya asisten pribadi Tuan Jaden. Aku bahkan tidak pernah menganggap kamu pelayan di sini. Kamu aku anggap temanku di sini. Sekarang kamu duduk santai dan pejamkan kedua mata kamu."


Nara menurut dan memejamkan kedua matanya. Leo mulai memijit kepala Nara pelan-pelan.


"Pijatan Mas Leo enak sekali. Aku menyukainya, rasanya lebih membuat aku tenang."


Tampak kedua rahang tegas itu mengeras melihat apa yang dilakukan oleh Nara dan Leo.


"Kamu rilek saja dan rasakan saja pijatanku, Nara." Sekarang Leo berpindah tempat dan duduk di depan Nara. Leo memijit bagian depan kepala Nara. Tampak wajah charming itu terpaku menatap wajah Nara yang tengah terpejam.


"Mas Leo, kapan-kapan aku mau bertemu dengan ibu Mas Leo. Pasti orangnya sangat lembut dan baik seperti Mas Leo." Nara bicara dengan masih memejamkan kedua matanya.


"Ibuku sangat baik dan lembut. Seperti kamu," pada bagian itu Leo memelankan suaranya.


"Mas Leo bicara apa?" Nara seketika membuka kedua matanya dan mata indahnya menangkap manik mata coklat yang dimiliki oleh Leo.


Nara terdiam sejenak. Mereka berdua saling mematri satu sama lain.


"Apa-apan mereka berdua?" Seketika Jaden mematikan tabletnya. Wajahnya tampak kesal.


Sandra yang melihat hal itu tampak heran. Jaden marah dengan siapa?

__ADS_1


"Tuan Jaden? Apa ada yang sakit saat aku memijit kaki Tuan?" Jaden hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Sandra. "Tuan Jaden, apa ada yang salah?" tanyanya sekali lagi, dan sekarang menggoyangkan kaki Jaden membuat pria itu seketika melihat pada Sandra.


"Sandra, kita berhenti dulu terapinya. Aku mau minum dulu dan istirahat sejenak. Nara juga lupa memberikan obat padaku."


Bukannya seharusnya Jaden bersyukur Nara lupa tidak memberikan dia obat?


"Obat kamu di mana? Biar aku yang memberikan sama kamu."


"Biar saja Nara yang melakukan karena itu sudah tugasnya."


Sandra mendekat ke arah Jaden. "Tuan Jaden, aku juga bisa menjadi perawat untuk Tuan Jaden, kalau Tuan Jaden mau. Kasihan Nara harus mengurus rumah dan Tuannya yang sakit sekalian."


Jaden hanya melirik pada Sandra. "Bukannya tugas kamu setelah dari rumahku masih ada lagi?"


"Aku bisa mengganti jadwalnya dan akan aku prioritaskan diri Tuan karena bagiku, Tuan adalah pasien yang istimewa. Aku ingin membuat Tuan Jaden bisa segera pulih seperti sedia kala." Tangan Sandra mengusap lembut pipi Jaden.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Selama kamu melakukan terapi padaku, kamu boleh tinggal di sini. Nara akan menyiapkan kamar untuk kamu."


"Benarkah?" Kedua mata Sandra tampak berbinar.


"Tentu saja, nanti Leo akan mengantar kamu pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barang yang kamu butuhkan, setelah itu kamu akan diantar kembali ke sini."


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencari Nara untuk meminta obat kamu."


"Katakan juga agar menyiapkan kamar untuk kamu, dan suruh Leo untuk menemui aku di sini."


"Baiklah." Sandra segera beranjak dari tempatnya untuk mencari Nara.


Pria yang duduk di atas ranjang itu menunjukkan wajah datarnya. "Aku tidak mau Sandra mengira jika aku ada hubungan dengan Nara seperti yang dia bilang tadi. Nara tidak pantas untukku, kenapa juga aku harus memikirkan dia," Jaden berdialog sendiri.


Waktu Sandra datang ke kamar Jaden untuk menawarkan masakan dia. Jaden menolaknya dan mengatakan dia akan makan masakan buatan Nara.


"Aku sudah membuatkan dengan sungguh-sungguh masakan ini dan ini sangat baik untuk kesembuhan kamu, Tuan Jaden. Apa Tuan tidak ingin menghargai apa yang sudah saya lakukan?" ucapnya memelas.


"Tapi aku tidak minta untuk kamu membuatkan itu. Lagipula Nara juga sudah susah payah membuat masakan di rumah ini. Kasihan jika aku tidak memakannya."

__ADS_1


"Nara sangat spesial buat kamu ya,Tuan Jaden. Tidak mungkin kalian tidak ada hubungan apa-apa." Sekali lagi Sandra melirik Jaden curiga.


__ADS_2