Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pembuktian part 1


__ADS_3

Tami merasa dua orang ini sedang tidak baik-baik saja hubungannya. "Mba Nara, aku pergi dulu supaya kalian bisa bicara dengan nyaman."


"Pintar juga kamu, gadis manis."


Tami mendekat pada Nara dan berbisik pada telinga Nara. "Mba Nara, kalau ada apa-apa, aku siap membantu mba Nara."


"Tidak akan ada apa-apa, Tam." Nara tersenyum. Setelah Tami pergi, Nara segera bertanya apa yang Renata inginkan sampai ada di tempat Nara.


"Aku ke sini untuk memberitahu kamu tentang Jaden. Jangan kamu coba dekati Jaden lagi karena aku dan dia akan segera bertunangan."


"Apa? Kamu bertunangan dengan suamiku? Kamu sudah gila, Renata? Jaden itu adalah suamiku? Mana mungkin dia akan bertunangan sama kamu?"


"Kamu lupa jika Jaden hilang ingatan. Dia bahkan tidak kenal kamu. Jaden sudah melupakan kamu, Nara."


Nara mengkerutkan kedua alisnya. "Dia tidak melupakan aku, tapi dia hanya lupa sementara, dan nanti jika ingatannya pulih dia akan ingat siapa wanita yang dia cintai."


Renata malah tertawa dengan puasnya. "Jika ingatannya pulih. Dia akan melupakan kamu karena aku akan menjadi istrinya, bahkan aku akan memberinya seorang putra."


"Jadi ini maksud kamu waktu itu sengaja membuat aku keguguran? Kamu ingin memiliki Jaden?"


"Pintar. Aku ingin membuat Jaden tunduk di kakiku dan menghancurkan dia sampai tidak tersisa. Namun, semua itu dapat terlaksana jika kamu jauh dari sisi Jaden. Jadi, kamu jangan dekati Jaden lagi atau aku akan membunuh suami kamu itu dengan meracuninya."


"Kamu benar iblis betina, Renata."


"Camkan yang aku katakan, Nara karena aku tidak suka main-main seperti Renata yang kamu lihat selama ini." Renata berjalan pergi dari restoran Paijo.


Nara seketika lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Renata. Dia harus bagaimana sekarang? Melawan Renata pun sepertinya tidak bisa selama Jaden kehilangan ingatan.


Malam itu restoran Paijo sudah tutup. Nara masih berada di depan meja kasir mengurusi isi dari mesin kasir.


"Sudah pas, sekarang aku sudah bisa pulang."


"Ehem! Rajin sekali anak perawan satu ini," celetuk Paijo yang tiba-tiba ada di depan Nara.


"Paijo! Kamu sudah kembali?" Nara tampak bahagia.


"Tentu saja. Apa kamu merindukan aku?"


"Rindu ... Mana oleh-olehnya." Tangan Nara menengadah.


Paijo memutar bola matanya jengah. "Malah minta oleh-oleh. Kamu kira aku sedang pergi untuk rekreasi? Aku sedang bertarung untuk masa depan aku."

__ADS_1


Nara malah terkekeh. Entah kenapa setiap Nara sedih, si Paijo alias Panjul alias Jo ini bisa membuat suasana hati Nara bahagia dengan celetukannya yang asal.


Nara berjalan mengitari meja mesin kasirnya dan tepat berdiri di depan Paijo. "Ceritakan padaku, Jo. Bagaimana pertemuan kamu dengan gadis yang akan dijodohkan oleh mama kamu?"


"Biasa saja," jawab Paijo enteng.


Nara memukul lengan tangan Paijo. "Jangan menghina seorang wanita seenaknya, Jo. Aku juga seorang wanita."


"Siapa yang menghina? Aku hanya mengatakan biasa saja, memangnya aku harus jawab apa?"


"Bilang dia manis, cantik, baik, suka menabung atau apa begitu."


"Dia manis kayak gula-gula. Puas!" Paijo merangkul kepala Nara dan menariknya pergi.


"Panjul, sakit!" Nara berusaha melepaskan pitingan kepalanya dari lengan Paijo.


"Aku akan mengajak kamu makan dulu sebelum pulang. Kamu pasti belum makan."


"Aku tidak mau. Di rumah aku sudah memasak dan sayang kalau tidak dimakan."


"Kamu hangatkan saja buat besok, Nara. Aku mau kita makan bersama lalu nanti aku antar kamu pulang."


"Jo, aku ingin beristirahat. Hari ini sangat melelahkan, semoga kamu tau akan hal itu," ucap Nara dengan mata sayunya.


Nara dengan Paijo berjalan menuju pintu utama restoran dan menguncinya. "Aku harus profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaan aku, Pak Paijo."


"Aku tau, Ratu Cerewet, tapi aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa. Apa lagi kamu sedang mengandung."


"Aku akan menjaganya, Jo, bahkan dengan nyawaku."


"Kalau begitu besok aku akan ke rumah kamu untuk menjemput kamu. Kita akan memeriksakan kandungan kamu ke rumah sakit. Kamu pasti kangen ingin melihat anak kamu."


"Tapi bagaimana dengan restoran kamu?"


"Restoran aku tidak akan hilang," jawabnya asal sekali lagi.


Paijo akhirnya mengantar Nara pulang ke kontrakannya, tapi tidak sampai di depan rumah Nara. Paijo setelah berpamitan pergi dari sana.


Nara masuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuhnya yang lelah di atas sofa seukuran tubuhnya.


Tok ... Tok ... Tok.

__ADS_1


Pintu rumah kontrakan Nara diketuk oleh seseorang dari depan. "Siapa, ya? Apa Paijo yang melupakan sesuatu?" Nara segera beranjak dari tempatnya dengan malas. Dia berjalan menuju pintu.


Kedua mata Nara mendelik melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya.


"Jaden?"


Jaden tidak menjawab, tapi malah langsung menyelonong masuk ke dalam rumah Nara. Dia mengamati isi rumah Nara yang sangat sederhana sekali.


"Apa ini yang kamu dapatkan dari pria yang menjadi selingkuhan kamu?"


Nara bingung dengan ucapan Jaden. "Apa maksud kamu?"


"Kamu bukannya adalah istriku, tapi kamu berselingkuh dan pergi untuk memilih dengan mantan kekasih kamu saat SMU."


"Berselingkuh? Dengan Paijo?"


"Tentu saja. Siapa lagi? Aku melihatnya beberapa kali, bahkan hari ini aku melihat kamu mesra di restoran sampai dia mengantar kamu pulang. Kenapa tidak kamu ajak tidur saja sekali pria itu di sini?"


Plak!


Sekali lagi Jaden mendapat tamparan dari Nara. "Beraninya kamu menamparku!" Tangan Jaden menarik lengan tangan Nara dengan kasar.


"Seorang suami tidak seharusnya mengatakan hal buruk pada istrinya." Nara terdiam sejenak. "Maaf, aku lupa jika kamu bukan suamiku."


"Aku suami kamu, Nara! Dan nenek sudah mengatakannya padaku." Jaden menatap Nara dengan tajam.


"Apa? Nenek mengatakan jika kamu dan aku adalah sepasang suami istri?" Nara tampak bahagia.


Jaden melepaskan cengkramannya dari lengan tangan Nara. "Iya, tapi aku sangat terkejut bisa menikahi wanita seperti kamu yang ternyata suka berselingkuh."


"Aku tidak pernah berselingkuh! Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa kamu."


"Pembohong! Lihat foto-foto ini." Jaden melempar banyak foto Nara dan Paijo di depan Nara. Nara hanya terdiam saja.


"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku tidak bisa memaksa. Nara tidak mau menekan ingatan Jaden.


"Apa kamu sudah tidur juga dengannya?" Jaden mencengkeram dagu Nara.


"Hanya kamu yang tidur denganku."


"Apa benar? Buktikan jika memang hanya aku yang pernah menyentuh kamu."

__ADS_1


Nara terdiam di tempatnya. "Kenapa terdiam? Jika kamu memang istriku, lakukan tugasmu sebagai seorang istri, mungkin aku bisa mengingat setiap inci dari tubuh kamu jika memang benar kamu istri yang sangat mencintaiku."


Tangan Nara perlahan melepaskan kancing kemeja seragam kerjanya. Jaden yang melihat seketika jantungnya berdegup kencang.


__ADS_2