Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kembalinya Nara


__ADS_3

Renata akhirnya pergi dari rumah sakit sakit setelah berpamitan pada Nenek. Nenek yang melihat hal itu merasa sangat bersalah karena bagaimanapun Renata selama ini sangat baik pada nenek.


"Sayang, apa benar apa yang sudah kita lakukan pada Renata? Nenek jadi kasihan kamu mengusirnya seperti itu."


"Nek, aku minta maaf jika membuat Nenek bersedih, tapi aku lebih percaya pada istriku. Renata lebih baik kembali saja ke Kanada."


Wanita tua itu menarik napasnya pelan. "Nenek sebenarnya juga tidak meragukan Nara. Nara juga tidak mungkin menuduh Renata begitu saja, Nara tidak memiliki alasan menjelekkan Renata. Kalau cemburu, itu tidak mungkin karena Nara tau yang kamu cintai hanya dirinya. Namun, jika benar Renata yang membuat Nara keguguran dan bahkan mengancamnya, itu berarti dia sangat jahat."


"Iya, Nek."


"Tapi kamu belum ada bukti. Itu yang membuat Nenek kasihan sama Renata."


Jaden duduk di samping ranjang wanita yang sangat dia cintai itu dan memeluknya hangat. "Nenek jangan memikirkan tentang masalah ini karena aku yang akan mengurusnya."


"Iya, Nenek juga tidak mau sakit karena nenek akan memiliki cicit dari kamu dan Nara."


Jaden tersenyum pada Neneknya. "Nek, aku sudah mengurus kepulangan Nenek hari ini atau Nenek masih mau di sini dulu beberapa hari lagi."


"Dasar cucu nakal. Kenapa malah senang neneknya tinggal di rumah sakit? Nenek lebih senang di rumah, nenek bisa membuat kue, menanam bunga dan mengobrol santai dengan teman-teman nenek."


"Hem! Itu yang membuat aku ingin Nenek di rumah sakit saja karena nenek bisa beristirahat dengan tenang biar tidak kecapek."


"Nenek tidak capek. Apa lagi nanti nenek memiliki cicit dari kamu. Kalau perempuan nenek bisa mengajari dia membuat kue dan berkebun. Kalau laki-laki--?" Nenek Miranti langsung melirik pada Jaden yang sedang menunggu neneknya menyelesaikan ucapannya.


"Kalau laki-laki kenapa, Nek?"


"Nenek ajari apa?"


Jaden tersenyum. "Akan aku ajari cara memegang pistol dan bela diri karena dia sebagai seorang laki-laki


"Nenek membayangkan jika nanti kamu memiliki seorang putra. Nenek tidak mau dia seperti kamu. Huft! Pasti akan membuat ibunya bingung."


Jaden kembali tersenyum. "Nenek ini. Kalau anakku tidak mirip aku, aku tidak akan mengakuinya."


"Sifatnya, Sayang." Wanita tua dan pria tampan nan dingin itu saling berpelukan.


Jaden menunggu Nenek sampai dia mengantarkan neneknya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Jaden, kenapa Nara tidak kamu bawa pulang sekarang? Kenapa besok?"


"Aku ingin menghabiskan waktu dulu dengan Nara di sana, Nek. Nara pernah bilang jika di rumah itu aku dan dia pertama kali bertemu. Mungkin ingatan aku akan kembali pulih."


"Baiklah kalau begitu. Sampaikan salam nenek pada istrimu dan nenek meminta maaf sudah meragukan dia." Wajah Nenek tampak sedih.


"Nara sama sekali tidak marah pada Nenek. Malahan dia khawatir mengetahui Nenek di rumah sakit."


"Ya sudah, kamu temui dia dan nenek mau membuat kue untuk cucu menantu nenek."


"Jangan capek-capek, Nek." Jaden mengecup pipi neneknya. "Aku sayang Nenek."


"Nenek juga menyayangi kamu."


Jaden pergi dari rumah nenek menuju ke rumah persembunyiannya. Di dalam mobil Jaden tersenyum bahagia, seolah di dalam hatinya dia merasa suatu kelegaan dan kebahagian.


"Selamat sore, Tuan Jaden," sapa Leo yang melihat Jaden baru saja memasuki rumah.


"Iya, Leo. Leo, di mana Nara?"


"Nara sedang berada di kolam renang, katanya dia ingin berenang."


"Iya, katanya dia ingin berenang dan minta tolong jangan ada pengawal di sana."


"Kenapa dia ceroboh sekali? Dia sedang hamil. Leo, terima kasih kalau begitu."


Jaden dengan langkah besarnya melangkah menuju arah kolam renang. Di sana dia melihat istrinya yang sedang berdiri bersandar pada tepi kolam sambil memejamkan kedua matanya.


"Apa yang kamu lakukan, Nara?"


Nara seketika membuka kedua matanya saat mendengar suara Jaden.


"Kapan kamu datang?" Nara berjalan naik ke atas permukaan. Jaden dengan cepat memberikan handuk pada Nara.


"Aku baru saja datang." Jaden menggendong Nara ala bridal style. "Aku akan membawa kamu ke kamar." Wajah tampan pria itu tampak terlihat kesal.


"Kamu marah padaku? Kenapa wajahnya begitu?" Nara yang sudah paham akan karakter suaminya bertanya pada Jaden.

__ADS_1


Jaden tidak menjawab dia membawa Nara ke kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur. Jaden mencari baju milik Nara yang memang masih ada di dalam walk in closet miliknya.


"Jaden, kenapa diam saja?" Nara beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju lemari besar Jaden.


"Ganti baju kamu dengan yang hangat." Jaden memberikan dress babyterry dengan lengan panjang.


"Tidak mau! Katakan dulu kamu marah padaku kenapa?"


"Ganti baju dulu, Nara," ucapnya dingin.


"Tidak mau! Bicara dulu kamu marah kenapa?"


Jaden yang tidak mau istrinya kedinginan membuka handuk dan melepas baju renang model one piece milik Nara.


Nara diam saja berdiri dengan keadaan polos di depan suaminya yang sedang mengeringkan tubuhnya. Jaden berjongkok tepat di depan perut Nara yang mulai terlihat sedikit buncit. "Semoga ayah bisa mengingat kembali semua ingatan ayah tentang cinta ayah pada mama kamu." Jaden mencium perut Nara.


Seketika ada sesuatu yang menyentil hati Nara hingga dia tidak dapat menahan air matanya. Nara menangkup pipi suaminya dan mengecup lembut bibir Jaden.


"Aku tau, walaupun kamu belum ingat tentang kenangan kita. Aku percaya jika cinta kamu untukku dan calon bayi kita tidak dapat dihilangkan dari ingatan kamu."


Jaden tidak jadi memakaikan baju untuk Nara, tapi malah sekali lagi dia menjenguk bayi dalam perut Nara.


"Perlahan saja."


"Iya, aku akan melakukanya dengan perlahan. Ayah tidak akan menyakitimu." Jaden sekali lagi berbicara dengan perut Nara.


Wanita di bawah Jaden tampak menggigit bibir bawahnya karena gemas dengan tingkah suaminya yang padahal seorang mafia yang kejam dan dingin, tapi bisa bersikap semanis itu.


Nara membaringkan kepalanya pada pundak suaminya sambil memeluk tubuh Jaden. Mereka masih berada di dalam selimut.


Jaden menceritakan tentang dirinya yang sudah menyuruh Renata kembali ke Kanada dan Nenek ingin Nara kembali ke rumah.


"Benarkah! Terima kasih sudah mempercayai aku. Aku ingin sekali bisa bertemu dengan nenek dan meminta maaf pada nenek karena meninggalkan nenek sendirian."


"Lupakan saja masalah itu. Sekarang yang kita pikirkan adalah masa depan yang akan kita lalui dengan calon anak kita dan nenek, Nara."


Nara mengangguk beberapa kali. "Aku mencintai kamu." Nara memberi kecupan kecil pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara bunyi ponsel milik Jaden dan saat Jaden lihat. Panggilan itu berasal dari mata-matanya.


"Nara, aku terima panggilannya dulu." Jaden memakai celana pendeknya dan berdiri agak jauh dari tempat Nara berbaring.


__ADS_2