Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sandra Menyukai Jaden


__ADS_3

Nara bingung harus menjawab antara gelengan kepala atau anggukan kepala. "Aku tidak tau," jawaban itu yang akhirnya keluar dari mulut Nara.


"Bukannya Will sudah memberitahu kamu."


Mata Nara mendelik kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jaden.


"Dokter Will tidak bermaksud mengatakan hal itu. Jangan menyalahkannya Tuan JL." Nara tampak ketakutan.


"Aku tidak mau memikirkan tentang pernikahan atau keluarga karena aku tidak mau membuat orang terdekatku dalam masalah nantinya."


"Tapi benar juga apa kata nenek Tuan, Tuan suatu saat akan membutuhkan orang yang akan mendampingi Tuan nantinya."


"Tidak perlu membahas ini lagi. Ambilkan aku makanan lagi." Mereka berbicara dengan Nara yang terus menyuapi Jaden. "Aku juga mau kue yang kamu buat tadi. Kenapa kamu malah memberikan kue buatan kamu pada para penjaga, dan kamu tidak memberikan padaku."


Nara agak melongo mendengar apa kata Jaden barusan. Nara memang sudah mengetahui jika Jaden pasti tau semua apa yang dia lakukan di rumah ini, tapi dia tidak menyangka akan diawasi sampai hal kecil seperti saat dia duduk santai bersama para penjaga.


"Kue itu sudah habis, Tuan," ucap Nara agak takut.


"Habis? Berani sekali kamu memberikan semua pada para penjaga, bukannya aku majikan di rumah ini. Kamu seharusnya harus menunjukkan padaku dulu." Tiba-tiba Jaden menjadi marah.


"Kenapa Tuan semarah itu? Itu hanya kue yang aku saja baru mencobanya. Aku tidak berani memberikan pada Tuan, takutnya aku nanti malah kena marah gara-gara memberi kue yang baru aku coba membuatnya."


"Lain kali, apa-apa itu harus tetap menunjukkan atau memberitahuku. Aku yang memiliki kuasa di rumah ini. Kamu paham?" Nara hanya bisa mengangguk.


Tidak lama Sandra masuk ke dalam kamar Jaden yang memang tidak ditutup. "Nara, maaf aku mau mengembalikan baju kamu."


"Kenapa bajunya tidak dipakai, Mba Sandra?" Nara dan Jaden melihat Sandra masih memakai baju seragamnya sendiri.


"Baju kamu tidak muat denganku, dan saat aku paksakan untuk memakainya yang ada malah bajunya sobek."


Sandra menunjukkan bagian ketiak dress putih itu yang memang bolong karena sobek.


"Bajunya sobek?"


"Nara, aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat baju kamu sobek, tapi tadi aku coba memakainya, tapi malah begini."


Nara melihat ke arah Jaden. "Tapi baju itu pemberian dari Tuan Jaden."


"Tuan Jaden, saya minta maaf sudah tidak sengaja membuat baju itu sobek," ucap Sandra dengan wajah melasnya.

__ADS_1


"Tidak masalah, kamu buang saja baju itu, nanti aku bisa membelinya lagi."


"Jangan dibuang! Berikan saja padaku, nanti aku bisa memperbaikinya. Aku akan menjahitnya." Nara beranjak dari tempatnya dan mengambil dress itu dari tangan Sandra.


"Buang saja, Nara, nanti biar aku belikan lagi."


"Jangan, inikan belinya menggunakan uang, jadi jangan menghambur-hamburkan uang begitu saja."


Sandra memutar bola matanya jengah mendengar apa yang Nara katakan.


"Terserah kamu saja. Lalu, sekarang kamu mau memakai baju apa, Sandra? Atau aku akan menyuruh pengawalku membelikan baju untuk kamu, jadi kamu tunggu dulu di sini."


"Mba Sandra bisa makan siang dulu di sini."


"Ide yang bagus, lagipula aku melihat Tuan Jaden menyukai masakan kamu, buktinya piring Tuan Jaden terlihat habis tidak bersisa, pasti masakan kamu enak. Hebat sekali kamu, Nara."


"Hebat apanya, Mba?"


"Kamu masih muda, dan kamu juga pandai memasak. Kelak seseorang yang menjadi suami kamu pasti senang memiliki istri seperti kamu."


Nara hanya memberikan senyum kecilnya, dan Jaden seolah tidak peduli dengan ucapan Sandra.


Jaden mengikuti instruksi dari Nara. Obat pun akhirnya berhasil ditelan oleh Jaden tanpa terjadi drama.


"Ternyata aku tidak merasakan obat yang aku minum. Ide kamu bagus juga."


"Kalau begitu, Tuan istirahat dulu, aku akan membereskan semua yang ada di dapur dan menemani Mba Sandra makan siang. Mari, Mba."


Jaden dibantu Nara berbaring dan Nara menyelimuti tubuh Jaden. Kemudian kedua wanita itu keluar dari dalam kamar Jaden.


Nara menyuruh Sandra duduk dan Nara menyiapkan makan siang untuk Sandra. Nara juga duduk di sebelah Sandra.


"Aku coba masakan kamu ya, Nara?"


"Iya, coba Mba, apa masakan aku sudah pas?"


Sandra mencoba satu sendok sayur asam buatan Nara dan ikan gorengnya. "Rasanya biasa saja. Kamu kurang menambahkan bumbunya, jadi rasanya kurang kuat."


"Benarkah?" tanya Nara memastikan.

__ADS_1


"Iya, coba lain kali aku akan membuat masakan, dan kamu coba nanti cicipi masakan aku."


"Iya, boleh Mba, aku pasti akan senang bisa mencicipi masakan Mba Sandra."


"Oh ya, Nara, apa kamu tau makanan kesukaan Tuan Jaden?"


"Aku sebenarnya tidak tau, Mba. Aku bekerja di sini juga masih baru, tapi waktu itu aku membuatkan nasi goreng resep dari mendiang mamaku dan Tuan Jaden menyukainya."


"Nasi goreng? Aku bisa membuatkan nasi goreng yang lebih enak dan aku yakin Tuan Jaden akan menyukainya."


"Mba Sandra menyukai Tuan Jaden, Ya?" Nara bertanya seperti itu karena mendengar ucapan Sandra.


"Ah, kamu itu. Kenapa berpikiran begitu? Tapi tidak salah, kan kalau aku menyukainya?"


"Tidak salah sama sekali."


"Aku tidak tau ini hanya perasaan senang atau hanya kagum saja. Sejak pertama bertemu tadi, entah kenapa aku melihat Jaden itu sosok pria yang bisa membuat aku kagum dan penasaran dibalik sifat dinginnya. Dia pasti orang yang menyenangkan."


"Menyenangkan dari mananya?" gerutu Nara pelan.


"Kamu bicara apa, Nara?" tanya Sandra yang heran melihat mulut Nara komat-kamit tidak jelas.


"Aku tidak bicara apa-apa, Mba. Mba Sandra memangnya belum memiliki kekasih?"


"Aku baru saja putus dengan kekasihku, Nara. Aku dikhianati oleh kekasihku, dia selingkuh dengan mantan pacarnya, dan aku dicampakkan begitu saja," ucapnya sedih.


"Mba Sandra sabar saja. Aku selama ini tidak pernah memiliki kekasih, jadi aku tidak begitu mengerti tentang perasaan seperti ini."


"Jadi kamu belum pernah memiliki pacar?" Nara menggeleng. "Polos sekali kamu. Eh, tapi, Nara. Apa Tuan Jaden mempunyai kekasih?"


Nara ingat apa yang Jaden katakan tadi, dia tidak ingin membina keluarga, jadi mungkin dia tidak memiliki kekasih selama ini.


"Setahuku Tuan Jaden tidak memiliki kekasih, Mba."


"Bagaimana kalau aku mencoba mendekati Tuan kamu itu?"


Nara agak bingung menjawabnya. Dalam hati Nara seolah ada hal yang menahan Nara mengatakan tidak, tapi kenapa dia harus melakukan hal itu?


"Boleh saja, Mba, siapa tau jika Tuan Jaden memiliki seorang kekasih, Tuan Jaden bisa lebih hangat tidak dingin seperti sekarang" Nara tersenyum

__ADS_1


__ADS_2