
Wanita dengan punggung terbukanya mengecup leher Jaden, dan pria yang memiliki tatapan tajam itu tampak biasa saja dengan apa yang wanita itu lakukan.
"Apa kamu menginginkan aku, Sayang?" tanya wanita cantik dengan rambut panjangnya.
"Apa hubungan kamu dengan dia, Mauren?" tanya Jaden datar.
"Dia menginginkan aku, Sayang. Dia sangat perhatian dan mencintaiku, kamu terlalu sibuk dengan urusan balas dendam kamu."
"Apa kamu mencintainya?" Wanita itu tidak menghentikan gerakannya membuka kancing kemeja Jaden. "Hentikan, Mauren!" bentak Jaden dan dengan cepat mencengkeram kedua tangan wanita yang dia panggil Mauren.
"Aku mencintai kamu, tapi aku lebih nyaman dekat dengannya."
Jaden mematikan air mandinya dan menutupi bagian bawahnya dengan handuk. Dia berjalan keluar mencari minumannya. Seteguk whiskey membahasi kerongkongannya yang terasa kering.
"Bi, panggil gadis itu untuk datang ke dalam kamarku."
"Baik Tuan Muda. Segera akan saya lakukan."
Tidak lama Bi Ima datang ke dalam kamar Nara. Di sana Nara sedang asik membaca buku cerita miliknya.
"Ada apa, Bi?"
"Tuan Muda Jaden memanggil kamu dan menyuruh kamu datang ke kamarnya."
__ADS_1
"Aku di suruh datang ke kamarnya? Tapi untuk apa?"
"Tentu saja untuk memberitahu kamu akan tugas yang harus dilakukan."
"Tapi kenapa aku di suruh ke kamarnya?" Nara tampak heran.
"Sudah, Nara. Sebaiknya kamu cepat ke sana dan bawa kue ini untuk tuan muda. Dia sangat suka dengan kue ini."
Nara mengambil baki berisi kue seperti bakpao dan dia berjalan menuju kamar Jaden. Pintu di ketuk oleh Nara dan tidak lama dibuka oleh Jaden dari dalam.
Nara terdiam melihat ada tubuh tanpa atasan dan hanya terbalut handuk putih bagian bawahnya berdiri tepat di depan Nara.
"Apa aku kecepatan ke kamar kamu, Tuan? Kalau begitu nanti saja aku ke sini setelah kamu memakai baju kamu." Nara berbalik badan dan hendak pergi, tapi langkahnya terhenti karena bajunya ditahan oleh Jaden.
"E... e..." Jaden menarik baju Nara masuk ke dalam kamarnya, dan pendengaran Nara menangkap suara bunyi pintu dikunci.
"Kenapa pintunya dikunci?"
"Kamu tidak berhak bertanya apapun. Sekarang letakkan baki itu dan ambilkan aku baju untuk aku gunakan."
"Aku mengambilkan baju untuk kamu?"
"Iya, Pelayan Nara. Bukannya kamu yang menerima untuk menjadi pelayan pribadiku?"
__ADS_1
Andai Nara bisa memilih, dia tidak akan memilih menjadi pelayan pribadi Jaden juga. "Aku ingin amnesia saja kalau begini," gerutunya pelan, tapi Jaden masih bisa mendengarnya.
"Hentikan menggerutu kamu, Nara. Telingaku sakit mendengar hal itu."
"Bicara saja tidak boleh."
"Kamu tidak ada hak untuk bicara tanpa ada izin dariku." Jaden melihat Nara dengan tajam.
"Iya, aku ambilkan, Tuan JL." Nara meletakkan baki di atas meja dan berjalan menuju walk in closet milik Jaden.
Nara bingung melihat baju Jaden yang sangat banyak di dalamnya. Dia berpikir baju apa yang akan dia pilihkan untuk Jaden.
"Nara, mana baju yang aku berikan untuk kamu? Bukannya Bi Ima sudah memberikan baju itu sama kamu."
Nara menoleh pada Jaden yang ternyata sudah ada di depannya.
"Baju itu aku letakkan di dalam kamarku. Apa bisa aku tidak perlu memakai baju itu? Walaupun aku tidak memakai baju itu. Aku akan tetep menjadi pelayan kamu."
"Ambil baju itu dan bawa ke sini."
"Untuk apa?"
Jaden tidak menjawab, dia hanya memberikan isyarat pada Nara melalui matanya yang melotot melihat pada Nara.
__ADS_1