Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara yang Super Sensitif


__ADS_3

Jaden masih memperhatikan Nara yang berdiam menatapnya dengan tangan masih tetap menyilang pada dadanya.


"Kamu kenapa?"


"Apanya?" Nara tampak heran.


"Kenapa menutupi tubuhmu begitu? Bukannya aku sudah melihat bahkan merasakannya semua."


"Itu--?" Nara bingung sekarang. Memang Jaden, kan, sudah tau luar dan dalam Nara, bahkan mereka akan memiliki anak.


"Tuan JL menyebalkan!" Nara berjalan menuju handuk yang di kaitkan di dekat pintu.


"Kamu mau ke mana? Bukannya kamu belum selesai mandinya. Aku akan menggosok punggung kamu." tangan Jaden menahan tangan Nara, dan menarik perlahan mendekat padanya.


Pria itu memberi kecupan kecil pada leher Nara. Nara terdiam merasakan kecupan kecil yang jujur saja dia merindukannya.


"Aku membencimu, Tuan JL," ucap Nara terdengar parau karena kecupan yang Jaden lakukan.


"Tapi aku mencintaimu, calon istriku," Jaden memberi tanda kecil pada leher Nara.


Nara tersenyum mendengar panggilan yang Jaden baru ucapkan untuknya.


"Apa kamu tidak merindukan aku?" Jaden masih menelusuri setiap jengkal tubuh Nara.


"Sangat, tapi apa yang kita hadapi beberapa hari ini benar-benar membuatku harus memendam kuat rinduku sama kamu."


Sekarang kedua pasang mata itu saling menatap lekat. Mereka berdua berciuman dengan sangat mesra dan dalam dengan diguyur air shower yang hangat.


"Apa boleh aku melakukannya lagi?" tanya Jaden di mana hal penting miliknya merindukan milik Nara.


Nara terdiam sejenak. "Aku sedang hamil muda, Tuan JL, dan aku pernah baca di artikel bisa sangat berbahaya jika kita melakukan hal itu. Kemungkinan keguguran juga bisa."


"Apa? Ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan meminta hal itu karena kalau sampai terjadi apa-apa pada bayi kita, bisa-bisa aku dibunuh nenekku sendiri."

__ADS_1


Nara langsung terkekeh kecil. "Kenapa nenek? Apa kamu juga tidak menyayangi dia?" Nara menunjuk pada perutnya.


"Tentu saja aku sangat menyayangi dia, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku untuk kalian berdua."


Telapak tangan Nara langsung membungkam mulut Jaden. "Jangan berkata seperti itu, Tuan JL. Tuan JL, apa kamu mau jika suatu hari nanti setelah bayi kita lahir kamu meninggalkan dunia hitam kamu? Aku ingin memiliki keluarga yang tenang dan damai dengan kamu dan anak-anak kita."


Jaden terdiam mendengar apa yang diinginkan oleh Nara. "Aku belum bisa mengatakan apapun tentang hal itu sama kamu, Nara. Aku sendiri tidak yakin jika aku keluar dari dunia hitam ini hidup kita akan bisa tenang atau tidak karena musuhku juga terlalu banyak."


Nara memeluk Jaden dengan erat. "Aku takut sekarang, Tuan JL. Bukan untukku, tapi untuk anak kita."


"Jangan takut, kamu percaya, kan, jika aku akan melindungi kalian?" Nara mengangguk perlahan.


Jaden dan Nara akhirnya hanya mandi biasa dengan Jaden yang tersiksa karena menahan sesuatu, tapi dia tidak mau egois dan yang akhirnya nanti bisa membahayakan bayi mereka.


Setelah mandi Jaden dan Nara berganti baju. Jaden menggendong Nara membawanya ke kabin depan untuk menikmati makan malam yang sudah pramugari pesawat Jaden siapkan.


Nara duduk tepat di depan Jaden dan tampak mata Nara berbinar melihat ada sup ayam hangat di depannya. "Sup?"


"Iya, ternyata ada bahan makanan yang bisa di buat sup di sini. Aku harap kamu menyukainya. Bayiku menyukainya maksudnya."


Jaden tampak senang melihat Nara lahap sekali makannya, tapi di tengah-tengah mereka makan, Nara merasakan perutnya yang tidak enak serasa diaduk dengan keras.


Nara segera berlari ke kamar mandi dan sontak saja Jaden menjadi kaget dan panik.


"Nara, kamu kenapa?"


Jaden sekali lagi melihat Nara muntah-muntah di kamar mandi. "Tuan JL, ambilkan air minum hangat."


"Iya, sebentar." Baru kali ini Jaden diperintah oleh seseorang.


Jaden memberikan segelas air hangat dan membawa Nara berbaring di atas ranjang.


"Kenapa muntah-muntah lagi? Kalau muntah terus perut kamu tidak ada isinya, bayiku makan apa?"

__ADS_1


Nara yang merasa dimarahi oleh Jaden, kembali mukanya di tekuk kesal. "Kenapa marah-marah padaku? Bukan aku yang tidak mau makan, tapi perutku yang memang tidak mau menerima makanan yang masuk," sergah Nara kesal.


"Kenapa tidak mau masuk? Bukannya itu tadi makanan yang kamu inginkan?"


"Tidak tau! Kenapa Tuan JL mengesalkan sekali?" Nara yang berbaring kemudian membalikkan badan dan membelakangi Jaden dengan menutup tubuhnya dengan selimut. Nara kembali marah dengan Jaden.


"Kenapa kamu jadi mudah marah seperti ini?"


Nara menoleh pada Jaden. Menatapnya kesal. "Kamu tidak tau yang aku rasakan karena hamil ini. Badanku tidak enak dan kamu hanya bisa memarahiku. Lebih baik kamu pergi saja, aku sudah tidak mau makan." Nara kembali membelakangi Jaden dan sekarang menyelimuti dirinya sampai kepalanya.


"Nara, Oh God!" Jaden mengusap wajahnya kasar dan dia pergi dari sana.


Jaden menuangkan segelas Vodka dan segera duduk dengan wajah menahan marah. "Kenapa Nara jadi seperti ini?"


Jaden, kan, memang bukan pria yang bisa selalu bersikap manis dan sabar. Dia terbentuk keras dan dingin.


"Aku ingin segera sampai dan biar nenek yang nanti bicara dengan Nara. Mungkin jika Nara bicara dengan nenek dia akan lebih tenang."


Jaden duduk sendiri di dalam pesawat, tapi pikirannya masih memikirkan Nara yang belum makan. Dia khawatir dengan bayi di dalam perut Nara.


Jaden memutuskan ke kamar untuk mengajak Nara makan. Saat di depan pintu kamar yang tidak tertutup rapat, Jaden melihat Nara yang duduk di atas ranjang dengan tersenyum sambil mengelus-elus perutnya.


"Mama senang sekali kamu bisa tumbuh di dalam perut mama, Nak. Kamu adalah cinta mama dan cinta ayah kamu yang menyebalkan itu." Nara mengerucutkan bibirnya.


Jaden yang melihat di balik pintu tersenyum kecil. "Kamu tau, Nak? Kalau kamu itu memiliki ayah yang sangat tampan, tapi agak dingin dan mukanya jarang senyum. Mama yakin jika kamu nanti lahir, kamu pasti bisa membuat ayah kamu banyak senyum di wajahnya. Sehat terus di dalam perut mama, Ya?"


Jaden tidak menyangka jika Nara akan bercerita tentang dirinya pada calon anak mereka. Sepertinya kesabaran Jaden harus banyak di pupuk untuk menghadapi Nara yang sekarang mungkin akan sering sensitif."


Jaden masuk ke dalam kamar. Kedua mata Nara langsung melirik kesal pada pria yang dari tadi dia puji dan dia keluhkan.


Jaden tidak berkata apa-apa, dia langsung berbaring di samping Nara dan menyandarkan kepalanya pada perut Nara. Tangan Jaden pun memeluk perut gadisnya itu.


"Kamu mau apa?"

__ADS_1


"Aku mau tidur dengan memeluk bayiku."


Jaden memejamkan kedua matanya. Nara yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Dia sendiri bingung kenapa sekarang dia kesal sekali jika Jaden mengatakan hal yang agak menyebalkan.


__ADS_2