Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Keberanian Nara


__ADS_3

Malam ini Nara tampak cantik dengan balutan dress berwarna hitam dengan banyak Glitter menebar di seluruh bagian dress selututnya.


Sedangkan Jaden tampil sangat tampan dengan kemeja berwarna hitam dan dasi merahnya.


"Sayang, kenapa kamu mengajak makan malam mendadak seperti ini?"


"Tidak apa-apa, aku suka saja hal yang tidak perlu di rencanakan karena takut gagal, hanya saja aku sudah memikirkan hal ini jauh hari. Jika nanti kita kembali ke sini, aku mau mengajak kamu makan malam."


"Sebentar. Kita makan malam di restoran yang ada pengunjung lainnya, kan? Bukan di restoran sepi yang sudah kamu beli semua tempatnya?" Nara memicingkan matanya.


"Memangnya kenapa kalau aku memboking tempat itu hanya untuk kita?"


"Huft! Aku tidak mau hal itu. Pertama, hal itu membuang uang percuma. Kedua, rasanya aneh kalau kita hanya makan berdua, kalau ada orang lain kan kesannya lebih natural."


"Ya sudah! Aku akan membatalkan saya tempatnya dan kita akan mencari restoran lainnya."


Jaden menghubungi seseorang untuk mengganti rugi uangnya dan membiarkan restoran itu membukanya untuk umum.


Nara tidak percaya jika seorang Jaden Luther sangat menurut padanya.


Mereka turun ke lantai bawah, dan ternyata ada sekitar tiga orang teman nenek yang usia mereka ada yang terpaut 1 tahun dari nenek.


"Miranti, ini cucu kamu?" Wanita tua yang baru datang dari luar negeri itu memindai Jaden dari atas bawah.


"Iya, dia cucuku, namanya Jaden Luther."


"Cucumu sangat tampan, Miranti. Andai usiaku sama dengannya, aku akan mati-matian untuk mengejarnya." Beberapa teman nenek yang ada di sana tertawa mendengar ucapan wanita dengan rambut hitam yang tanpa ada uban sedikit pun.


"Kamu bisa saja. Cucuku memang tampan, tapi dia tidak mudah luluh dengan rayuan atau wanita cantik. Dia hanya akan tertarik dengan seseorang yang bisa membuat hatinya tergerak tiba-tiba, dan hal itu hanya bisa di lakukan oleh cucu menantuku Nara."


Sekarang pandangan mereka jatuh pada sosok cantik yang menggandeng tangan Jaden tepat di sebelah Jaden berdiri.


"Halo, Nek. Perkenalkan saya Nara."


"Cantik juga." Wanita tua itu sekarang gantian memindai Nara dari atas sampai bawah. "Tapi kamu kalau cantik dibandingkan saat aku masih muda," ucap wanita tua itu sombong.

__ADS_1


"Iya, aku percaya jika nenek sangat cantik saat masih muda." Nara memberikan senyum tulusnya.


"Miranti, apa kamu tidak punya stok cucu menantu seperti dia? Aku mau jodohkan dengan cucuku yang bandelnya minta ampun."


"Tidak ada, Nek. Naraku cuma satu di dunia ini," jawab Jaden. Mereka semua tertawa di sana.


Setelah berkenalan dan menyapa teman-teman neneknya, Jaden dan Nara pergi dari sana untuk menuju restoran.


Nara dan Jaden makan malam berdua dengan sangat bahagia. Mereka tidak tau jika dari kejauhan rupanya ada yang sedang melihat mereka berdua.


"Tidak menyangka akan bertemu di sini." Tertarik senyum miring dari bibir wanita dengan baju dress model kembennya.


"Kamu mau menyapa mereka?"


"Tentu saja. Akan sangat menyenangkan hal itu. Apa lagi setelah kejadian yang menimpa Jacob, aku benar-benar menyesal sudah pergi dari pria mempesona itu."


Wanit cantik yang sedang duduk itu branjak dari kursinya dan berjala dengan elegant menuju meja milik Nara dan Jaden.


"Halo, semua, selamat malam," sapanya dengan lembut dan di tangannya sedang memegang gelas dengan leher panjang dan ada red wine di dalamnya.


"Aku sedang makan malam dengan kakakku, dan karena aku melihat kamu di sini makannya aku ingin menyapa kamu dan pelayan kamu." Mauren melirik menghina pada Nara.


"Nara bukan pelayanku, dia adalah istriku." Jaden menggenggam tangan Nara.


"Apa? Istri? Bukannya kalian tidak jadi menikah waktu itu? Aku mendengar berita tentang batalnya pernikahan kalian. Miris sekali sang pengantin mengalami insiden dan akhirnya pernikahannya batal."


"Itu memang benar, tapi setelah itu aku sudah menikah dengan Nara. Mauren, kamu sebenarnya tidak ada urusan di sini, jadi pergilah."


Mauren yang tidak menyerah malah berjalan mendekat pada Jaden, bahkan jemari satunya menelusuri pundak pria yang sedang duduk dengan tegas itu.


Mauren menunduk dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jaden. "Sayang, aku tau, sebenarnya kamu hanya bermain-main, kan dengan pelayan kecilmu ini? Kalau kamu sudah puas bermain-main dengannya, datanglah padaku. Aku akan dengan senang hati membuka hatiku lagi untuk kamu."


Mauren meletakkan gelas bekas bibirnya di depan Jaden. Nara yang darahnya sudah mendidih dengan cepat mengambil gelas minuman Mauren dan menyiramkannya saat Mauren berdiri di samping Jaden.


"Dasar siluman rubah! Berani sekali kamu merayu suamiku di tempat umum. Apa kamu tidak malu dengan penampilan dan kehormatan kamu?"

__ADS_1


Jaden tampak kaget melihat kemarahan Nara yang sangat Jaden tidak menyangka jika istrinya akan seberani itu


"Dasar pelayan tidak tau diri! Berani kamu menyiramku seperti ini!"


Mauren yang marah dan ingin menyerang Nara, tapi Nara sepertinya sudah bisa membaca apa yang akan Mauren lakukan. Dia kemudian menahan tangan Mauren dan memlintirnya ke belakang. Walaupun tubuh Nara lebih kecil dari Mauren, tapi Nara bisa melawan Mauren.


"Lepaskan! Sakit!" teriaknya.


Damian yang melihat hal itu segera berlari menuju meja Jaden. "Jangan ikut campur, Damian!" Telunjuk Jaden langsung mengarah pada pria yang wajahnya tampak marah.


Damian berhenti dari gerakannya, beberapa pengawal Damian pun ikut masuk ke sana.


"Lepaskan adikku."


"Bilang sama adikmu, jangan pernah menggoda suamiku. Jaden Luther adalah suamiku dan aku tidak akan membiarkan rubah licik seperti adik kamu ini menggodanya."


Nara mendorong tubuh Mauren sampai menabrak pada tubuh Damian.


Beberapa pengawal Damian akan mengeluarkan pistolnya, tapi dengan cepat dicegah oleh Damian karena di sana tempat umum dan pastinya akan berbahaya baginya.


"Aku tidak akan takut denganmu meskipun kamu membawa beberapa pengawalmu. Pengecut," ucap Jaden tegas.


"Ini belum selesai, Jaden Luther." Damian menatap tajam pada Jaden. Pun dengan Jaden juga memberikan tatapan tajamnya pada Damian.


"Kamu akan menerima balasannya pelayan bodoh!"


"Ambil gelasmu!" Nara melemparkan gelas milik Mauren dan jatuh berkeping-keping di lantai.


Tampak napas Nara naik turun melihat kepergian dua kakak beradik yang menyebalkan itu.


Beberapa orang melihat ke arah mereka dan malah bertepuk tangan atas diri Nara yang membela suaminya dari seorang wanita penggoda.


"Kamu hebat sekali. Keberanian kamu aku acungi jempol," Puji salah satu pengunjung di sana.


Nara malah tersenyum aneh mendengar pujian itu. "Terima kasih." Pandangannya sekarang beralih pada suaminya yang malah berdiri berseidekap melihat pada dirinya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat? Ada yang aneh?" tanya Nara heran.


__ADS_2