Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hampir Saja


__ADS_3

Nara hanya terdiam mendengar apa yang pria di atas tubuhnya sedang tanyakan, dan entah kenapa dia merasa sangat marah dan kesal dengan pertanyaan Jaden.


"Bahkan tubuh kamu pun tidak akan dapat melunasi hutang-hutang paman kamu."


"Aku juga tidak akan sudi menyerahkan tubuhku pada pria seperti kamu."


Seketika sorot mata Jaden menyipit. "Apa maksud perkataan kamu? Pria seperti apa maksud kamu?"


"Pria yang tidak punya hati, arogan, dan kejam. Pantas saja kamu hidup sendirian tidak ada yang menemani," cerca Nara kesal.


"Berani sekali ucapan kamu. Kamu hanya seorang pelayan bodoh yang tidak punya harga diri lagi. Dan aku ingin lihat apa yang akan kamu lakukan jika pria yang kamu katakan tidak punya hati dan hal buruk lainnya menyentuh kamu."


Nara seketika tau arti maksud kata-kata Jaden. "Kamu mau apa, lepaskan!" Nara berteriak, tapi hal berikutnya, mulut Nara sudah di bungkam dengan bibir Jaden. Jaden hanya dengan satu tangan mencengkeram dua tangan kecil Nara dan meletakkannya di atas kepala Nara. Tangan satu Jaden yang masih bebas masuk ke dalam rok seragam pelayan Nara.

__ADS_1


Nara tidak bisa berteriak karena bibirnya dicium secara liar oleh Jaden dia hanya bisa meronta dengan cara menggeliatkan tubuhnya yang tidak ingin disentuh oleh Jaden.


Nara ingin sekali berteriak sekencangnya mengatakan agar pria di atasnya ini berhenti melakukan hal yang tidak Nara inginkan.


"Sekarang kamu mau apa, Pelayan pembangkang? Aku berkuasa atas tubuh kamu."


"Lepaskan... aku mohon jangan melakukan ini padaku. Aku minta maaf, Jaden," suara Nara terdengar serak karena dia menahan tangis.


"Panggil aku Tuan Muda Jaden, dan aku ingin kamu tidak berbicara sembarangan lagi mengenai diriku karena aku adalah majikan kamu, jadi kamu harus hormat padaku."


"Tolong ... teriak Nara yang tidak dipedulikan oleh Jaden. Nara berteriak, tapi seolah teriakan dia tidak ada gunanya karena orang-orang lainnya yang ada di luar pun tidak akan dapat melakukan apa-apa.


Sekarang Nara benar-benar ketakutan sampai dia akhirnya menangis dengan kencang. "Tuan Muda Jaden, aku minta maaf, aku sudah lancang mengatai kamu, aku mohon jangan lakukan hal ini," ucapnya terbata sambil terisak.

__ADS_1


Jaden seketika menghentikan gerakannya dan dia melihat kedua mata Nara yang sembab dan ada rasa iba Jaden melihat wajah memelas Nara. Dia bangkit dari tubuh Nara dan berdiri dengan dingin di hadapan Nara.


Nara yang masih ketakutan segara beranjak dari tempatnya dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.


Jaden tidak berkata apa-apa, mereka berdua saling menatap dengan pikiran masing-masing. Jaden berjalan pergi dari kamarnya meninggalkan Nara yang terlihat berantakan.


Jaden turun ke bawah dan mengambil minuman kemudian meneguknya sampai habis.


"****! Ada apa denganku? Aku seperti sangat menginginkan gadis itu, tapi ada sesuatu yang menahanku. Aku tidak bisa melakukan hal itu padanya," Jaden berdialog dengan kesal.


"Tuan," sapa Leo yang berdiri di belakang Jaden.


"Ada apa, Leo?"

__ADS_1


"Semua sudah saya bereskan. Tuan, apa Tuan Jaden baik-baik saja? Apa saya perlu memanggilkan dokter untuk memeriksa Tuan Jaden?"


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Leo, aku mau ke tempat nenekku, tolong urus saja pekerjaanku." Jaden meminta kunci mobilnya pada Leo dan malam itu dia pergi dari rumahnya.


__ADS_2