
"Kamu jangan berbuat hal yang dapat membuatku marah. Kalau kamu lakukan hal itu, aku tidak akan segan-segan memotong tubuh kamu dan aku berikan pada buaya peliharaanku. Dengarkan itu!" Setelah memberi ancaman pada Nara. Jaden bangkit dari tubuh Nara dan berjalan menuju pintu.
Jaden membuka pintu dan berdiri dengan santai di depan pintu. "Maaf, Tuan--." Leo melihat Nara yang duduk dengan wajah ketakutan di atas ranjang Jaden dengan menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Jaden yang tidak memakai atasan, hanya celana yang tadi dia pakai untuk berolahraga.
"Ada apa Leo?"
"Mm... maaf Tuan Jaden. Saya hanya mau memberitahu jika nenek Anda ingin Tuan Jaden menemuinya sekarang. Tadi nenek mencoba menghubungi ponsel Tuan Jaden, tapi tidak diangkat."
"Huft! Ya sudah. Kamu siapkan saja mobilku dan jangan lupa belikan bunga kesukaan nenekku. Aku akan bersiap-siap dulu."
"Baik, Tuan Jaden." Leo sekilas melirik pada Nara.
Jaden menutup pintunya dan melihat pada Nara yang masih duduk di atas ranjangnya dengan memeluk kedua lututnya dan menangis.
"Apa yang kamu tangisi?" Jaden berdiri di depan Nara dengan kedua tangan dilipat ke depan.
__ADS_1
"Tuan, atau siapapun kamu. Aku mohon untuk melepaskan aku. Kamu jangan menjualku untuk menjadi penari di klub malam. Aku tidak mau menjadi wanita penghibur. Aku masih mau memiliki masa depan yang baik."
Jaden yang mendengar hal itu malah tersenyum devil. "Kamu pikir, kamu masih punya masa depan. Akulah sekarang yang menentukan masa depan kamu."
Nara beringsut dari tempat tidurnya. "Apa ada yang dapat aku lakukan asal kamu tidak menjadikan aku wanita di klub malam?" Nara sangat takut membayangkan dirinya menjadi wanita penghibur para lelaki hidung belang. Dia sama sekali tidak menginginkan hal itu.
"Katakan? Memangnya apa yang dapat kamu lakukan untuk menghasilkan uang untukku sehingga hutang-hutang yang paman kamu lakukan dapat kembali padaku?"
Nara berpikir sebentar. "Aku mau bekerja di restoran kamu karena aku pandai membuat masakan."
"Kenapa tidak buka saja? Uang kamu pasti banyak dan aku bisa menjadi chefnya." Sebenarnya ini salah satu keinginan Nara yang memang dari dulu punya cita-cita ingin terjun di dunia kuliner.
Jaden mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Nara. "Aku tidak suka berbisnis seperti itu," ucap Jaden yang sebenarnya ingin tau apa saja ide yang ada di kepala gadis yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Memangnya kamu punya bisnis apa? Kamu terlihat seperti bos-bos kaya raya yang sering aku lihat di film-film.
__ADS_1
"Klub malam, tempat perjudian di luar negeri dan bisnis senjata," terang Jaden santai.
"Apa? Kamu berbisnis senjata? Bukannya itu melanggar?"
"Aku bisa menanganinya."
"Lalu, aku bekerja sebagai apa kalau begitu?" gerutu Nara pelan yang masih dapat di dengar oleh Jaden.
"Kalau hanya itu kemampuan kamu, tidak ada pilihan lain selain kamu menjadi wanita penghibur di klub malam milikku.".
"Aku tidak mau, Tuan Dingin. Jangan jadikan aku sebagai wanita penghibur."
"Panggil namaku Jaden Luther. Jangan memanggilku tuan dingin."
"Aku minta maaf." Nara menunduk dan dia berpikir enaknya dia melakukan apa untuk pria dingin di depannya ini agar dirinya tidak di jual.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau menjadi wanita penghibur di klub malam milikku. Kamu harus menerima menjadi pelayan pribadiku. Bagaimana?" tanya Jaden dengan nada dingin