
"Clara, berangkat sekarang gih, biarin bunda yang ngurusin makanan adik-adik" teriak seorang wanita paruh baya dari sebalik pintu dapur tersebut.
"Belum telat kok Bunda, Clara bantu sebentar aja kok, Bunda kan banyak kerjaan" tutur gadis itu yang masih dengan cekatan menyiapkan makanan nya.
Di dapur yang sudah terlihat tua dan peyot itu, gadis kecil itu sangat bersemangat membuat makanan sederhana untuk para adik-adik panti nya. Clara Nandine Putri seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang sudah hampir menamat kan sekolah SMA nya pada tahun ketiga itu, Clara adalah anak yatim piatu kedua orang tua nya meninggal akibat kecelakaan yang menimpa mereka saat Clara masih berumur tiga tahun, di kejadian itu hanya Clara yang bisa selamat. Tetapi hal itu tidak mengecil kan semangat gadis itu dalam hidup, walaupun Dia tahu kenyataan pahit yang menimpa nya, tetapi Dia tetap sangat semangat dalam belajar dengan giat dan rajin agar tidak mengecewakan Ibu panti yang sudah merawat diri nya sejak kecil itu.
"Cla, udah kata Bunda kamu nakal, sana sekolah" ujar Bunda Eti kepala panti asuhan itu.
"Bundaaaa, biarin bentar lagi selesai kok" ujar Clara meneruskan masakan nya itu.
Beberapa menit Clara berkutik dengan alat masak nya, hingga makanan sederhana beberapa telur ceplok dan tumis kangkung itu siap di sajikan, serta ada beberapa ikan goreng, Clara meletakan nya di atas karpet yang sudah di sediakan di ruang tengah panti yang terlihat sangat sederhana itu, mereka semua memang lebih suka makan lesehan bersama entah itu menambah rasa kesan kekeluargaan.
"Kak Clara hari ini makanan nya enak lagi" tutur gadis kecil bernama susi berkisar umur 10 tahun itu.
"Kak Clara memang ga pernah kecewain kita" ujar anak laki-laki yang bernama Erdi yang ikut menimpali perkataan gadis itu.
"Makasih kak Clara" ucap para adik panti itu kembali kepada Clara secara bersamaan.
"Sama-sama, kalian kan adik kakak semua" tutur Clara tersenyum senang dan bangga mendapat pujian seperti itu.
Dari belakang Bunda Eti menghampiri Clara yang masih berdiri padahal waktu sudah menunjukan pukul 7.10 Clara masuk pukul 7.15 biasanya, dengan tepukan yang perlahan Bunda Eti mengejutkan gadis itu.
"Cla udah jam segini loh, berangkat gih" tutur Bunda Eti menatap gadis itu.
__ADS_1
Seketika mata Clara berbelok menatap ke arah jam dinding yang sudah usang itu, serta dinding yang sudah terlihat kusam itu. Lalu Clara membulat kan mata nya kaget melihat jam dinding yang sudah menunjuk kan pukul 7.10 pagi itu.
"Astaga, Clara udah telat bundaaa" teriak gadis itu melepas celemek nya dan meletakan nya di atas meja.
"Tas mana tas" ujar Clara yang panik itu.
Clara berlari masuk kamar keluar dapur, semua ruangan Dia jelajahi untuk mencari tas nya itu padahal Dia sedang sangat panik, kebiasaan Clara saat Dia sangat menikmati memberikan perhatian kepada adik-adik nya itu hingga sampai lupa waktu, walaupun mereka tidak sedarah tetapi ikatan mereka lebih kuat dan darah mereka lebih kental dari apapun.
"Kak Clara tas disini" tutur Susi yang berteriak kepada Clara yang masih panik itu.
Clara berhenti mendadak, lalu melihat tas nya yang ada di samping adik-adik yang sedang makan itu, betapa bodoh nya Clara saat Dia baru sadar saat tadi habis memasak Dia meletakan tas nya di samping adik-adik nya itu, saat itu lah Clara langsung menyambar tas nya dan mencium tangan Bunda Eti untuk berpamitan.
"Assalamualaikum Bunda" ujar Clara langsung berlari menuju pintu.
"Walaikumssalam" tutur Eti yang menggeleng kan kepala nya melihat kebiasaan gadis itu.
"Duh gimana nih, mana hari ini ada acara penyambutan kepsek baru lagi" tutur Clara dengan tremor yang melanda nya itu.
"Apa Gua manjat aja yah? tapi Gua bukan Rere, kalo ada Rere baru berani" tutur Clara yang masih dilema itu.
Tiba-tiba sebuah mobil masuk ke dalam gerbang sekolah, Clara memiliki ide yang cerdas Dia berlari dan mengikuti laju mobil yang melambat itu, saat satpam membuka gerbang Clara dengan sigap berlari ke belakang mobil itu sambil mengendap endap.
"Yes, berhasil hore wit rit rit" teriak Clara sambil berjoget ala dora dengan heboh.
__ADS_1
Dengan bodoh nya gadis itu malah mengundang suara keras nya untuk satpam datang menghampiri nya, satpam itu menoleh kepada Clara dan meneriaki gadis itu dengan keras.
"Hei kamu, telat yah! sini!" teriak satpam itu menunjuk Clara.
"Mati gua, mati gua" ujar Clara dengan panik melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat persembunyian itu.
Lalu Clara melihat pintu mobil yang Dia ikuti tadi terbuka sedikit di bagian pintu pengemudi, tanpa berpikir panjang Clara langsung masuk ke dalam mobil itu dan menutup pintu nya dengan rapat. Tanpa Clara sadari Dia merasa menduduki paha seseorang itu dengan kaget Clara memutar kepala nya, mata Dia dengan seorang pria bertemu, tatapan tajam dan dingin Pria itu menusuk.
Bruk..
Tubuh Clara di dorong kuat ke arah kursi penumpang itu, hingga Clara mencium pintu kaca mobil akibat terhempas itu.
"Aduh sakit" ujar Clara mengusap wajah nya yang tertabrak kaca mobil itu dengan kuat.
"Siapa kamu? turun dari mobil saya sekarang!" tegas Pria itu menatap Clara dengan tajam.
Bukan nya menjawab pertanyaan Pria itu Dia malah terpana dengan ketampanan pria yang di depan nya, hidung yang mancung, alis mata yang tebal kulit putih seperti orang bule umum nya ada pada pria yang sedang duduk di samping Clara itu. Axel yang di tatap itu mulai kesal, Dia menatap Clara dari atas sampai bawah dan melihat ternyata gadis itu memakai baju putih abu-abu. Sontak Axel langsung menjewer telinga gadis itu.
"A a aduh sakit Om" ujar Clara memegang tangan Axel agar melepaskan jeweran itu.
"Panggil saya Pak Axel atau saya tidak akan pernah meluluskan mu, apa begini kelakuan mu telat dan malah masuk ke mobil guru" tegas Axel melepas jeweran itu.
Clara yang merasa heran itu, saat pria yang ada di depan nya malah mengaku diri nya guru, sedangkan Clara tidak pernah sama sekali melihat pria itu.
__ADS_1
'Jangan jangan kepsek baru lagi anjir' batin Clara dengan wajah mulai gugup.
"Maaf pak maaf" tutur Clara dengan nyali yang mulai ciut dan berlari keluar mobil dengan cepat menuju kelas nya itu.