Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
PART 79 - KENYATAAN


__ADS_3

Shinta mendongkak kan kepala nya keatas dan mengerjapakan mata nya berulang kali agar dia bisa menormalkan penglihatan nya. Siapa orang yang ada di depan nya, mata Shinta terbuka lebar serta wajah dan kening yang mengerut, betapa terkejutan nya Shinta.


"Ka ka kau--" ujar Shinta dengan suara bergetar.


Suara Shinta tersendat entah kenapa mulut nya sangat susah membuka mulut kala melihat siapa orang yang di depan mereka berdua. Pria itu tersenyum penuh kemenangan.


"Hei Shinta apa kabar mu?" seringai Felix dengan santai duduk di depan Shinta sambil menyesap minuman nya.


"Felix!!! apa maksud semua ini!" bentak Shinta dengan wajah memerah kepada orang tua yang ada di depan nya itu.


Felix mendekati Shinta dan mencengkram kuat pipi nyonya William itu hingga memerah, dia memutar ke samping dan ke kiri wajah Shinta.


"Hei hei tenanglah, aku sangat menyukai ekspresi mu ini" ujar Felix tersenyum smirk menatap wajah Shinta yang ketakutan dan penuh emosi itu.


Cuih...


Shinta meludahi Felix pria yang sedang memegang wajah nya itu.


"Baj*ngan, cepat lepaskan kami, apa begini cara mu kepada istri sahabat mu sendiri!" teriak Shinta dengan suara serak yang menggema di ruangan itu.


Brak...


Felix menendang kuat kursi yang di tempati Shinta yang sedang di ikat itu hingga terlempar ke samping dari beberapa langkah, pria itu tepat menendang Shinta di bagian tulang rusuk nya dengan hentakan kuat.


Akh..


Shinta berteriak dengan kuat hingga ruangan itu sekarang penuh dengan suara tangisan serta rintihan. Felix mendekati Shinta dan berjongkok di depan wanita itu, lalu menjambak rambut nya dengan kuat.


"Bersikaplah dengan sopan selagi aku punya kesabaran" tatap Felix dengan wajah menghunus seperti ingin mencabik-cabik mangsa nya itu.


"Felix rambut ku sa sa sakit" ujar Shinta dengan bibir bergetar menahan rasa sakit akibat tarikan yang di lakukan Felix kepada nya.

__ADS_1


"Sakit kau bilang? lebih sakit hati adik ku yang kalian permainkan!!" ujar Felix melepaskan tarikan itu dan kembali duduk.


Para pengawal kembali membenarkan letak kursi Shinta dan kembali berhadapan dengan pria itu, sekarang pria itu berganti menatap Rere yang dari tadi menangis tetapi tidak bersuara itu. Rere sedari tadi yang melihat adegan di depan nya sangat ketakutan dan kasihan melihat ibu mertua nya dilakukan buruk seperti itu.


"Apa kau Rere?" tanya Felix menatap Rere.


Rere hanya terdiam dan menundukan kepala nya ke bawah. Rambut Rere di tarik paksa oleh pengawal itu sehingga wajah nya mendongkak ke atas dengan paksa, lalu terlihat lah wajah Rere yang di penuhi air mata.


"Kalo tuan kami berbicara, sebaiknya kau menatap nya" ujar pengawal yang menarik rambut Rere.


"Hei kau lepaskan tangan mu" perintah Felix kepada pengawal nya itu.


"Baik tuan" ujar pengawal menuruti permintaan majikan nya itu, lalu melepaskan tangan nya dari cengkraman rambut Rere.


"Rere kau sangat mirip sekali dengan Risa, kalian sama persis dan cantik, bukan begitu Shinta?" tatap Felix kepada Shinta yang masih merasakan sakit di bagian tulang rusuk nya akibat tendangan tadi.


"Jangan sentuh menantu ku bajingan!!" teriak Shinta saat melihat Felix berusaha mendekati tubuh Rere yang gemetaran.


"Rere apa kau suka bermain ayunan? aku akan membuatkan ayunan untuk mu seperti ayunan yang sama untuk Chelsea" tutur Adrel dengan senyum aneh nya yang membuat orang merinding.


"Ah apa kau tidak tahu? saat di rumah sakit waktu itu, aku membuat ayunan untuk anak mu, tetapi ayunan itu sangat berbahaya sekali hingga membuat dia harus meregang nyawa haha" tawa Felix dengan puas.


"Hiks hiks baj*ngan, pria g*ila!!!" teriak Shinta kepada Felix.


"Apa kau mau mendengar cerita nya? aku sedang berbahagia hari ini, aku akan menceritaka--" perkataan Felix terpotong saat beberapa orang pengawal nya menangkap dan membawa dua orang pria yang sangat dia kenal.


"Tuan saya membawa dua orang yang berusaha menyelinap ke dalam sini" ujar pengawal itu menghempaskan tubuh dua orang pria yang sudah babak belur dan lebam mengeluarkan darah.


"Wah wah apa ini? sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampui" tatap Felix dengan senang kepada dua orang yang baru datang itu.


"Mas Varo!"

__ADS_1


"Daddy!"


teriak Shinta dan Rere secara bersamaan melihat kedua orang yang mereka sayangi itu terluka parah.


"Sayang apa kau tidak apa-apa?" tanya Varo melihat keadaan istri nya yang terlihat masih baik baik saja, hanya bagian rambut nya yang terlihat acak acakan itu.


"Aku tidak apa-apa, hik hiks aku takut mas, aku takut" teriak Rere kepada Varo sambil menangis dan berurai air mata.


Adrel juga melihat ke arah Shinta, betapa terkejut nya saat dia melihat keadaan Shinta yang cukup terluka dan banyak lebam di wajah nya walaupun tidak separah diri nya saat ini.


"Apa yang kau lakukan kepada istri ku!!" bentak Adrel dengan emosi yang mengebu gebu.


"Seperti nya ini adalah hari paling bahagia bagi ku Adrel William" tatap Felix dengan senyum miring.


"Felix apa kau g*ila? apa salah keluarga ku sampai kau melakukan ini kepada mereka" ujar Adrel berkata dengan mulut pecah mengeluarkan darah akibat hantaman pukulan itu.


"Keluarga mu? Ah mereka tidak salah, yang salah itu kalian bertiga, Kau shinta, Adrel dan Risa semua ini bermula dari kalian, ah tapi sangat di sayang kan sekali Risa sudah kembali terlebih dahulu karena suami nya sendiri. Haha Deren sangat bodoh pria tua itu hanya demi harta dia rela melakukan apa pun walaupun aku yang menghasut dia terlebih dahulu untuk bertindak di luar batas" kata Felix dengan tatapan mengintimidasi semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Semua orang yang berada di ruangan itu sangat terkjut dengan perkataan yang di lontarkan oleh Felix, betapa kejam dan menakutkan orang yang berada di depan mereka saat ini, entah apa yang di pikirkan pria itu hingga dia tega melakukan semua ini.


"Om apa maksud mu? jadi ini bukan salah ayah ku, jadi kau membunuh ibu ku" tangis Rere dengan suara bergetar mulai membuka suara karena yang menyangkut ibu nya itu di bahas.


"Kalian semua jangan menangis dulu seperti ini, aku akan menceritakan nya kepada kalian, simpan air mata kalian untuk penghujung cerita ku ini Haha" tawa Felix dengan puas melihat keadaan keluarga William yang kacau seperti sekarang ini, dia sangat puas memprovokasi keadaan dan semakin mengcengkram.


"Rere ibu mu mati bukan karena aku tetapi karena ayah mu dan ibu tiri mu itu sendiri yang membunuh nya dengan tangan kotor nya" sambung Felix dengan wajah yang serius.


"Hiks hiks ibu" isak Rere, gadis itu tidak dapat menahan tangis dan depresi yang dia rasakan saat ini.


"Apa kau juga ingin menyusul ibu dan nenek mu ke surga, aku akan membantu mu sekarang" ujar Felix berdiri di depan Rere.


Pria tua itu menodong kan pistol nya tepat di kepala Rere.

__ADS_1


Cklak..


Suara pistol di pompa berbunyi.


__ADS_2