
"Hiks hiks ibu" isak Rere, gadis itu tidak dapat menahan tangis dan depresi yang dia rasakan saat ini.
"Apa kau juga ingin menyusul Ibu dan Nenek mu ke surga, aku akan membantu mu sekarang" ujar Felix berdiri di depan Rere.
Pria tua itu menodong kan pistol nya tepat di kepala gadis itu tepat di tengah tengah penglihatan nya.
Cklak..
Suara pistol di pompa berbunyi. Peletuk pistol itu siap di tembakan kepada gadis itu. Rere yang dirinya di todong dengan pistol itu, hanya bisa gemetar dan menahan suara tangis nya karena ketakutan, kepala nya menggelang dengan kuat pertanda ia memohon belas kasihan kepada pria yang ada di depan nya itu, Felix hanya tersenyum menangapi ekspresi Rere yang membuat nya puas itu, pria itu sudah gila tidak ada rasa belas kasihan bagi diri nya sedikit pun kali ini, logika nya saat ini tidak berpikir jernih yang ada di dalam pikiran nya saat ini menembak mereka semua yang ada di sana dan membunuh nya satu persatu.
'Matilah' batin Felix
"Katakan selamat tinggal untuk keluarga mu yang ada disini" ujar Felix kepada Rere.
*Cklak..
Dor.. dor*..
Dua suara tembakan terdengar keras di dalam ruangan kosong itu, Rere memejamkan mata nya dengan kuat. Tenang, itu lah yang Rere rasakan saat ini, Rere berpikir apa dia sudah mati? apa hanya sampai disini rasa bahagia nya bersama Varo? apa secepat ini dia harus menyusul ibu dan nenek nya di surga. Tetapi pikiran aneh nya itu seketika buyar kala mendengar suara Felix yang menjerit kuat di dalam ruangan itu.
Akhh..
"Baj*ngan, s*alan" umpat Felix memegang kaki nya dan menahan rasa sakit.
Sebuah tembakan itu mengenai tepat di kedua kaki kiri dan kanan Felix, pria itu tersungkur ke lantai karena tidak tahan menahan beban badan nya karena kaki nya yang sakit dan tidak dapat menopang nya.
"Dasar pria tua b*doh aku tidak akan nekat datang kesini tanpa rencana" ujar Varo yang tersenyum dengan bangga.
__ADS_1
"Apa itu sakit? aku ingin sekali menembak tepat di kepala mu tetapi tuan Varo tidak mengizinkan nya" tutur Samuel dengan sedikit raut wajah kecewa meniup ujung pistol seolah-olah seperti di film aksi.
"Tuan apa anda baik-baik saja" ujar Reno mendekat kepada majikan nya itu.
Reno melepaskan ikatan orang yang satu persatu ada disana secara bergantian, Rere yang di landa rasa takut itu seketika mendapat pelukan hangat dari suami nya yang datang mendekat dan memeluk nya dengan erat.
"Maafkan aku, maafkan daddy sudah terlambat datang untuk kalian" bisik Varo ke telinga istri nya.
Tangis Rere seketika pecah, bukan karena sedih atau pun takut, tapi karena suami nya sangat mengkhawatirkan diri nya, dan rasa sayang itu sangat jarang di terima oleh Rere, Varo bagi nya menjadi suami sekaligus teman hidup nya yang berbagi cerita.
"Tidak apa-apa mas, terimakasih sudah datang dan menjemput kami" ujar Rere menenggelam kan wajah nya ke dada bidang suami nya itu.
Varo memegang pipi istri nya lalu mencium bertubi-tubi seluruh wajah istri nya itu dengan bahagia, rasa khawatir nya saat ini berganti menjadi perasaan lega dan bahagia.
Ekhem...
Adrel berdehem dengan keras agar anak nya itu mendengar suara nya.
Varo mengalihkan pandang nya itu kepada Mommy nya itu, Varo melihat dengan kesal kepada Mommy dan Daddy nya, bagaimana mereka bisa mengusik kemesraan anak mereka sedang kan mereka sendiri sekarang ini tengah berpelukan, apalagi Shinta yang memeluk Adrel dengan sangat posesif seperti sekarang ini.
"Mom berceminlah terlebih dahulu baru menyindir kami" celetuk Varo kepada Mommy nya itu.
"Anak durhaka kalo Mom dan Dad tidak apa-apa karena kami pasangan senior, iya kan Daddy? apa wajah mu sakit? aku akan meniup nya untuk mu hufttt" ujar Shinta mengelus luka yang ada di wajah suami nya itu dengan manja dan meniup nya.
Adrel yang di perlukan sepertin itu hanya diam, bagi nya sifat Shinta yang seperti ini masih batas wajar bagi nya, biasanya wanita itu lebih bertindak berlebihan.
"Mana bisa seperti itu Mom, kami juga pasangan sejak kami di takdirkan" ujar Varo yang merasa kesal dengan perbandingan itu.
__ADS_1
"Kalo Mommy juga pasangan dengan Daddy sejak dalam kandungan" sulut Shinta memancing emosi Varo.
"Kalo aku sejak masa nenek nenek nenek nenek buyut!" tutur Varo dengan suara menantang.
"Kalo Mom sejak masa zaman batu dimana belum ada orang di muka bumi ini!!" tutur Shinta dengan suara meninggi dan membuang muka.
"Kalo--" perkataan Varo terpotong oleh Adrel.
"Cukup!!" ujar Adrel dengan suara tegas dan meninggi.
Perkataan Varo dan Shinta terpotong akibat Adrel menyela percakapan mereka yang tidak berguna bagi nya itu. Adrel tidak habis pikir melihat anak dan istri nya itu sama-sama mempermasalah kan hal kecil seperti ini, memang benar kata orang buah tidak jatuh jauh dari pohon nya, Adrel hanya bisa menggeleng menetap mereka berdua.
"Nyonya dan tuan William percakapan tadi itu bisa kita lanjutkan di rumah, sebaiknya tuan Varo anda berpikir mau anda apakan orang seperti ini?" ujar Samuel berjongkok di depan Felix yang sedang terduduk menahan rasa sakit.
"Kau benar Sam" Varo mendekat kepada Felix dan siap menyiksa pria itu dengan tangan nya tapi tangan nya itu di tahan oleh Samuel.
"Tuan aku rasa aku pernah mendegar perkataan di negeri anda tidak baik bagi seorang suami menyakiti atau membunuh sesuatu saat istri nya hamil" ujar Samuel menahan lengan Varo yang sudah tergengam kuat siap untuk memukul Felix.
"Sam benar Varo, tahan emosi mu" ujar Adrel menenangkan anak nya itu.
"Daddy bagaimana aku tidak tenang saat tau siapa orang yang membunuh adik ku yang polos dan periang seperti Sea, gadis itu tidak memilik salah sedikit pun tetapi dia malah imut terjebak dalam permainan bodoh pria ini" tunjuk Varo dengan rahang mengeras menahan amarah.
Rere mendekat kepada suami nya dan mengengam jari-jari pria itu ke dalam tangan nya.
"Mas" tatap Rere memberi pengertian agar Varo bisa sabar.
Tatapan hangat istri nya itu mampu membuat Varo tenang dan berpikir dengan jernih saat ini.
__ADS_1
"Kau benar Varo, dan betapa jahat nya kita sudah menuduh Rian selama ini, aku sudah mengatakan banyak hal buruk kepada adik ku itu" sambung Adrel menatap sendu kala mengigat perlakuan nya ini kepada Rian yang terus menuduh adik nya itu tanpa mau mempercayai perkataan nya.
"Sam tolong kau lampiaskan kekesalan ku ini kepada nya, kau bebas bermain dengan nya tetapi jangan sampai mati, karena aku ingin menjebloskan pria itu ke penjara dan membuat dia menderita selama hidup nya"