
Alice yang merasakan tepukan di bahu nya itu seketika membalikan badan nya menatap pria yang menyapa nya, dengan senyum nya Alice membalas sapaan pria itu.
"Rion, kau ini, mana Degava?"tanya gadis itu karena hari ini mereka memang ada kelas Akuntansi bersama.
Pria itu melihat ponsel nya sekilas setelah Alice bertanya lalu memperlihatkan pesan singkat nya dengan Degava.
"Dia sudah di kelas, si ambis itu,"ujar Rion memasukan kembali ponsel nya ke saku celana.
"Ambis si ambis tapi kau menyukai nya kan,"ujar Alice mengoda pria itu menaik turunkan alis nya.
"Ekhem, jangan asal deskripsi kan masalah hidup ku Nyonya Alice Antara,"ujar pria itu mengatakan nya kepada Alice.
Gadis itu tertawa mendengar penuturan Rion seperti yang menyangkal tapi juga seperti seseorang yang tidak menolak penuturan itu, mereka berjalan menuju kelas beriringan.
"Wajah mu tidak bisa menyangkal bod0h,"ujar Alice mengatakan itu dengan setengah mengejek.
Saat mereka tengah berjalan menuju ruangan kelas mereka, Alice dan Rion melewati beberapa gerombolan perempuan yang seperti nya mengelilingi sesuatu itu, saat gadis itu mengabaikan gerombolan itu tiba-tiba tangan nya di cekat seseorang.
"Al,"ujar seorang pria memanggil nama Alice.
Seketika Alice yang berjalan lurus, tapi tiba-tiba di tarik itu tentu tubuh nya oleng tidak dapat menahan langkah kaki nya, dan menabrak tubuh pria yang menarik nya itu.
Bruk...
"Oi, sakit!"teriak Alice mendongkak kan wajah nya melihat siapa yang menarik nya.
Gerombolan wanita itu seketika juga mengelilingi nya, membuat Alice baru paham kenapa orang ramai-ramai karena itu ulah Teo si dosen tampan baru mereka itu.
"Astaga Kak Teo, apaan sih sakit njir,"ujar Alice menepuk bahu pria itu dengan kuat tanpa ampun.
"Haha maaf habisnya kau tidak mendengar ku memanggil mu,"ujar Teo tertawa renyah sehingga membuat para mahasiswi berteriak histeris melihat wajah tampan itu tertawa.
Keadaan ini tidak jauh bedanya saat pria itu menjadi ketua osis dahulu, sungguh membuat Alice tidak suka dengan keramaian yang di sebabkan oleh Teo, para wanita sangat penasaran dengan pria itu.
__ADS_1
"Al, apa kau mengenal dosen ini,"
"Wah emang kak Alice kenalan nya pria tampan semua yah,"
"Kak Al tanyakan apa pak Teo sudah memiliki kekasih,"
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh para pengemar Teo itu, sedangkan pria itu hanya cuek mendengar pertanyaan itu Dia hanya fokus kepada Alice yang menatap semua perempuan yang mengerubungi nya dengan wajah cemberut dan mengembung nya itu.
"Tanyakan saja sendiri, Aku sibuk,"ujar Alice dengan kesal kepada para mahasiswi itu.
Grep..
Tangan seseorang menarik Alice keluar dari gerombolan itu, tapi di tahan oleh Teo, membuat kedua pria itu saling menatap.
"Pak dosen, sikap Anda sangat berlebihan untuk menyapa seorang mahasiswa Anda, apa sikap Anda pantas?"ujar Rion yang ternyata menarik tangan Alice keluar rombongan itu.
"Iya kak Teo, lepasin dulu deh, di sini kita dosen sama mahasiswi nanti ada rumor yang buruk loh, sikap nya harus tetap cool,"ujar Alice melepaskan tangan pria itu.
'Apa Dia sudah memiliki kekasih? Bisa-bisa nya Aku kecolongan, siapa pacar nya itu,' gumam Teo meninggalkan rombongan para mahasiswi itu memasang ekspresi yang tidak terbaca.
Sedangkan Rion setelah menjauh melepaskan pergelangan tangan Alice, entah kenapa Rion merasa tidak menyukai Teo itu yang di ketahui adalah dosen di kampus mereka.
"Al kau kenal dosen baru itu?"tanya Rion berjalan berbarengan dengan Alice.
"Iyah ion, itu kakak kelas Aku dulu,"ujar Alice bercerita dengan apa adanya.
Rion tampak berpikir, entah kenapa sikap Teo kepada Alice sangat berbeda, sikap nya yang di tunjukan kepada Alice dan mahasiswa lain nya sangat berbeda.
"Aku tidak menyukai dosen itu, apa kau memberitahu kepada suami mu, jika kau bertemu dengan nya?"tanya Rion memastikan itu.
"Sudah ion, emang kenapa? Apa kak Teo itu aneh?"tanya Alice dengan memasang raut wajah penasaran nya.
Rion hanya diam setelah mendengar jawaban itu, pria itu tampak berpikir.
__ADS_1
'Mungkin itu hanya perasaan ku saja, mungkin saja Dia memang hanya ingin menyapa teman lama,' batin Rion.
"Al jika ada masalah ceritakan kepada ku dan Degava jika suami dokter mu tidak ada,"ujar Rion yang entah kenapa hanya ingin mengatakan hal seperti itu.
"Oke deh, kau ini kenapa sih, tapi yasudah itu Degava!"teriak Alice dengan keras membuat si pemilik nama langsung menoleh karena sedang fokus membaca novel nya itu.
Akhirnya kelas pun di mulai, Alice yang memperhatikan pelajaran itu hanya mendengus kesal, pelajaran yang sudah Dia ketahui lagi.
'Seperti nya Aku akan menyelesaikan kuliah ku dalam beberapa bulan ini dengan kepintaran ku hehe,' batin Alice mengatakan itu.
9.40
Kelas Alice selesai gadis itu pergi menuju rumah mertua nya dengan di antarkan oleh Rion dan Degava, mereka memakai mobil Rion karena memang Alice memaksa ikut mengenali teman-teman nya itu.
"Kalian mampir yah, kan ga ada kerjaan,"ujar Alice merengek kepada teman nya.
"Iya iya,"tutur Degava yang kesal karena gadis itu terus berceloteh untuk meminta nya menemani diri nya di rumah sang mertua.
Mobil Rion akhirnya sampai di sebuah komplek perumahan mewah, rumah dengan lantai dua bewarna Mocha itu, Alice turun terlebih dahulu dengan diikuti oleh Degava dan Rion.
"Mom, are you here!"teriak Alice tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam rumah itu.
Yang pertama di lihat Alice adalah Daddy Michele yang sedang baca koran dan duduk santai di sofa utama ruangan itu, pria paruh baya itu mendengar teriakan menantu nya tersenyum, Alice langsung mendekati Dokter Antara itu.
"Daddy, i miss you, di mana Mommy?"ujar gadis itu memeluk pria itu dengan gemas dan mengerakan tubuh nya seperti anak kecil.
"Kau ini. Seperti nya rumah ini akan ramai jika kau dan Michele tinggal di sini karena suara mu,"ujar pria itu melepas pelukan nya menatap istri anak nya yang masih muda dan tingkah nya yang seperti itu.
"Hehe maafkan Al Dad, hari ini Al akan ke RS membawa makanan kesukaan Kak Michele, Mommy bilang akan mengajari Al membuat makanan kesukaan nya, dari semalam kami sangat jarang bertemu karena tugas nya yang banyak di rumah sakit,"ujar Alice dengan wajah sedih.
"Sabar Al begitu lah jadi dokter setiap hari harus siap 24 jam,"ujar sang mertua memberitahu menantu nya.
"Alice!"
__ADS_1