
Sebagai seorang kepala sekolah tentu Axel hanya menjalankan tugas dokumen dari sekolah, untuk seorang Axel arnloda berkas sekolah tidak ada apa apa nya. karena Dia juga sering berkutat dengan dokumen perusahaan yang Dia miliki, yah Daddy Axel lulusan terbaik dari universitas nya ini sungguh memiliki banyak kelebihan yah, Daddy sugar idaman banget kalo kata-kata orang yang kenal dengan Axel lewat perusahaan nya, Axel tipe pria yang tidak suka berurusan dengan publik, maka dari itu Dia hanya melakukan secukup nya pekerjaan nya, soal uang jangan di tanya walaupun perusahaan Axel tidak sekaya sahabat nya Varo William, uang Axel ngalir terus.
Saat Dia sedang mengerjakan dokumen, tiba tiba telpon dari pembantu nya bubi Ani menelpon.
Drt..drt..
"halo?" ucap Axel mengambil HP itu dan melihat nama penelpon yang tertera di layar HP nya.
"Tuan apakah Nona Alisa sudah menemui Anda?" kata bi Ani dari seberang telpon.
"Bibi bicara apa? Alisa ada disini?" ujar Axel mulai memberhentikan kerjaan nya lalu serius mendengar perkataan pria itu.
"Iya tuan, kata nya Nona ingin bertemu dengan Anda" tutur Bibi Ani yang juga mulai khawatir dengan majikan kecil nya itu.
"Terus kenapa sampai sekarang dia belum ada di ruangan ku?" ujar Axel mengusap wajah nya dengan gusar.
"Pak Entis bilang Dia sudah mengantar sampai pintu ruangan Anda tuan, Anda yakin Nona belum masuk?" Tanya bi Ani yang juga mulai penasaran.
Pria itu terdiam, dan memikir kan kemana gadis kecil nya kali ini kabur lagi, tiba tiba Axel yang sedang berpikir itu pun, tujuan nya mengarah ke Clara, siswi nya yang sangat suka di ajak Alisa untuk berbicara.
"Sudah dulu bi, saya akan mencari nya" kata Axel mematikan panggilan itu.
"Baik tuan," ujar bi Ani mematikan telpon nya.
'apa mungkin dia mencari Clara? tapi kenapa bocah itu malah semakin mendekati gadis kecil itu' batin Axel.
Axel berjalan melewati ruangan kelas anak 11 yang nampak tentram sedang belajar. Tidak dengan beberapa ruangan anak kelas tiga yang nampak heboh karena mereka memang sudah tidak melakukan kegiatan belajar mengajar. Axel masuk ke kelas clara, dan langsung membuka pintu itu dengan sedikit dorongan.
"BRAKK"
Karena suara pintu yang terbuka secara mendadak itu, membuat seisi ruangan menatap ke arah sumber suara.
"Hei apa kita terlalu berisik"
"Seperti nya iya"
"Apa suara kita sampai ke ruangan kepala sekolah"
"Itu tidak mungkin, jarak saja jauh"
Bisik beberapa murid yang melihat kedatangan Axel yang mengira kelas mereka terlalu berisik, mereka beramsumsi Axel akan memerahi mereka menganggu kelas 11 yang sedang belajar dengan serius.
"Alisa" panggil Axel mata nya tertuju kepada seorang anak kecil yang sedang duduk di pangkuan salah satu siswi nya itu.
"Daddy, ngapain cini?" tanya polos gadis itu yang masih duduk di pangkuan Clara.
Axel pun menghampiri anak nya dan gadis kecil notebe nya seorang murid Axel sendiri, pria itu mendekat dan menghampiri Clara dengan langkah pelan nya, dan bersiap mengendong anak nya itu.
"Ayo ke ruangan Daddy" ujar Axel ingin mengendong Alisa.
Tetapi Alisa malah menghempaskan tangan Axel yang ingin mengambil nya dari pelukan Clara.
"Ga mau ntar Daddy kelja mulu ga au main ama Alica" ujar gadis itu cemberut dengan kesal.
"Daddy punya mainan" kata Axel yang berusaha membujuk anak nya itu.
"Ga, au main ama Mommy" ujar Alisa memeluk Clara dengan erat.
"Oy itu anak pak Axel"
__ADS_1
"Tapi serius kok nyokap nya si Clara"
"Calon suami masa depan gua udah punya anak ternyata"
Bisik gadis di kelas itu satu persatu, melihat pertengkaran Ayah dan anak itu saling memaksa kan kehendak nya satu sama lain. Axel yang mendengar itu tidak ingin terjadi kesalah pahaman karena itu Dia ingin membawa Alisa pergi.
"Ayo" ujar Axel mengambil alisa dari gendongan Clara dengan paksa.
Alisa pun menangis karena itu, Clara yang melihat itu hanya diam karena itu memang urusan nya sama sekali, Alisa dan Axel hanya lah sebuah kebutalan yang hadir dan mampir dalam hidup nya, semua itu juga bisa berlalu, itu lah yang di pikir kan Clara.
"Ga au, main ama Mommy" rengek Alisa memberontak dalam gendongan Axel.
Axel membawa anak nya ke ruangan nya. Tanpa mendengar permintaan Alisa yang terus menangis dalam pelukan Axel tersebut.
"Kalian denger dia bukan anak ku, dan aku hanya kakak nya, jangan menyebarkan gosip yang tidak tidak" ujar Clara menatap tajam temen sekelas nya.
"Iya iya santuy Cla"
"Gitu amad dah si Clara"
"Ya kali lu beranak udah segede itu"
"Iyah ni kita kan juga punya otak"
"Udah Cla jangan emosi canda kali" ujar Anggun sambil ketawa.
**
Saat ini Alisa sedang berada diruang kerja Daddy nya, gadis itu hanya diam terduduk di sofa ruangan itu dengan tatapan kesal nya.
"Daddy jaad padahal Alica pengen main sama Mommy!" tutur Alisa mengerutu menatap Daddy nya itu
"Setelah Alica, kan lagi main ama kakak Cla jadi boleh panggil Mommy" timpal Alisa yang menepis semua perkataan Axel dengan mudah nya.
"Kalo Daddy bilang jangan ya jangan" Axel menggebrak meja diruangan itu dengan kuat.
Entah kenapa axel yang mendengar Alisa memanggil orang lain sebagai Ibu nya tidak terima, karena Dia belum bisa melupakan mendiang istri nya itu.
"Daddy jaad Alica cuman main doang, kenapa halus malah" tangis Alisa menatap Daddy nya dengan air mata yang berurai.
Alisa berlari keluar ruangan Daddy nya untuk pergi keluar. Clara yang ber siap-siap untuk pulang sekolah seketika melihat Alisa berlari sambil menangis menghampiri gadis kecil itu.
"Alisaaa" panggil Clara dari kejauahan.
"Kak Cla" ujar Alisa memeluk Clara dengan perasaan sedih nya.
"Kenapa nangis, ntar cantik nya ilang loh" ujar Clara mengusap air mata anak kecil itu dengan telaten.
"Daddy malahin Alica, Daddy jaad" tutur Alisa menangis sejadi jadi nya, mengadu kepada orang yang Dia ras tepat untuk berbagi cerita.
"Yaudah jangan nangis lagi yah, kakak beliin es krim mau?" bujuk Clara kepada gadis itu.
"Nanti Daddy malah, ga boleh makan es klim" cemberut gadis itu yang sebenar ny sangat ingin menerima ajakan Clara.
"Gausah takut ada Kakak yah, mau ga?" ujar Clara menatap gadis itu dengan senyum nya.
Membujuk seorang anak kecil seperti Alisa sudah menjadi kebiasaan nya dalam menjaga adik-adik nya di panti, hal itu malah membuat Clara merasa senang, karena entah kenapa Dia suka kepada anak kecil.
"Iya"ujar Alisa mengangguk dengan cepat pertanda Dia setuju.
__ADS_1
Clara mengajak Alisa membeli es krim di dekat taman, Clara dengan senang memberikan satu eksrim untuk Alisa, bukan nya Dia tidak suka, tetapi Clara memang sedang menghemat uang untuk kebutuhan nya sendiri dan adik panti nya. Saat Alisa sedang menikmati eskrim di tatap oleh Clara dengan senyuman, lalu suara bariton itu mengejutkan mereka berdua.
"Sudah kuduga kau bersama nya" ujar Axel yang mendekat kepada dua gadis tersebut.
"Daddy" Nampak wajah memelas dari Alisa.
"Dan kenapa kau makan es krim?"Ujar Axel bertanya kepada putri nya itu.
"Pak Axel jangan marah marah mulu, bapak sudah tua, nanti uban nya nambah cepat numbuh mau?" kata Clara dengan seenak nya.
"Kau mendoakan Aku cepat tua apa?" kesal Axel kepada gadis itu.
"Aku? tentu tidak berani, atau Aku tidak akan lulus dari sekolah itu" ujar Clara yang sudah paham dengan perkataan Axel
"Terserah" ujar Axel dengan datar.
"Dan biarkan dia makan es krim untuk kali ini, Aku tidak akan bisa bayangkan seperti apa Daddy mu memberikan makan, sehingga kau jarang menikmati makanan seperti ini" sambil mengelus lembut rambut Alisa
"Itu demi kebaikan nya, Kau tau itu" Kesal Axel menatap Clara.
"Kau lebih tua, apa pun yang kau katakan selalu benar" menatap Axel dengan tajam.
"Jangan mengatakan tua setiap kata kata yang kau keluarkan" kesal Axel kepada Clara yang terus mengatakan ia tua.
"Sudah Mommy, Daddy coba esklim nya enak loh" ujar Clara menyuapi Clara sesendok eskrim kepada gadis itu.
"Iya ini sangat enak" ujar Clara yang mendapat suapan dari Alisa itu dengan senang.
"Kenapa kau hanya beli satu?" tanya Axel menatap hanya anak nya yang membeli eksrim.
"Tidak apa-apa, Aku sudah kenyang" ujar Clara dengan menatap Alisa.
"Daddy cini" tutur Alisa memanggil Daddy nya itu.
Axel yang di panggil itu duduk di samping Alisa, dan posisi nya Alisa berada di tengah Clara dan Axel, gadis itu menyuapi Axel dengan tiba-tiba, sehingga membuat eksrim itu mengenai hidung mancung nya, Clara dan Alisa yang melihat itu tertaw bersama.
"Kalian seperti nya sangat kompak mengerjai ku" ujar Axel menghampus eskrim yang tidak masuk mulut nya sebagian dan malah menempel di hidung nya.
"Haha sanhat lucu"
"Mommy benal Daddy cute"
Ujar Kedua gadis itu menertawakan secara bergantian.
"Alisa jangan menyuapi Daddy, dengan bekas orang lain, karena Daddy tidak suka, Alisa juga jangan asal menyuapi orang lain, kita tidak tahu akan ada virus, dan itu tidak higienis" tutur Axel menceramahi anak nya itu dengan tatapan serius nya.
"Aku tidak punya penyakit!" kesal Clara yang tidak terima dengan itu.
"Kita tidak tahu" balas Axel dengan tatapan dingin nya.
Alisa yang melihat kedua orang berdebat dan Dia berada di tengah-tengah itu hanya mendongkak kan kepala nya ke atas sambil tersenyum senang.
"Daddy, Mommy Stop, cini makan esklim, Aaa" ujar Alisa menyuapi dua orang itu secara bergantian.
"Dasar mau nolak, ujung-ujung tetap di makan" ujar Clara membuang muka.
"Seterah" tutur Axel.
Setelah acara makan es krim dan perdebatan kecil itu selesai. Alisa dan Axel berpamitan pulang begitu pun dengan clara.
__ADS_1