
Axel yang melihat istri nya lari ke kamar mandi itu, merasa sangat khawatir dan langsung mengikuti Clara, pria itu mengusap punggung istri nya dengan penuh kasih sayang, Clara mendorong tangan Axel menatap memelas kepada suami nya itu mengkode seolah-olah jangan mendekati ku.
"Honey maaf, jauh dikit kamu beneran bau, jangan marah loh, ini beneran,"ujar Clara merasa bersalah.
"Gapapa sayang,"ucap Axel keluar dari kamar mandi itu.
Pria itu keluar dari kamar mandi di ikuti tatapan Varo dan Rere yang pensaran kepada sahabat nya itu, tidak biasa nya Axel yang selalu tersenyum kepada istri nya itu memancarkan wajah sendu biasanya wajah datar sama sendu memang sangat berbeda jauh.
"Pak Axel, Clara kenapa?"tanya Rere kepada pria itu.
Axel memilih duduk di karpet bulu-bulu itu bersama Alisa yang sedang bermain dengan si kembar saat ini, wajah pria itu sangat tidak paham kenapa istri nya mengatai diri nya bau.
"Gatau kenapa, katanya saya bau, padahal ga gitu,"ucap Axel kepada Rere.
"Pak bukan nya apa-apa yah, Rere nebak aja kayak nya Clara hamil ga sih Pak? Soal nya dulu pas hamil kembar juga begitu, tapi beda nya mas Varo yang mual-mual sama ga tahan bau,"ujar Rere yang menjelaskan argumentasi nya itu.
Seketika darah Axel berdesir deras mendengar ucapan Rere, detak jantung nya merasa terpompa lebih cepat, ada rasa senang dan juga penasaran yang menjadi satu, momongan tentu di tunggu-tunggu di keluarga Arnolda setelah sekian lama, tetapi Axel juga tidak menuntut itu semua, selagi mereka di berikan rezeki, mereka akan mengurus dan merawat.
"Benarkah?"tanya Axel menatap Rere.
"Hehe tapi baru argumen sih, suruh cek dokter aja Pak,"jelas Rere kepada Axel.
Saat pria itu ingin menghubungi dokter pribadi keluarga Arnolda menerima saran dari Rere, Clara keluar sambil memegang perut nya wajah gadis itu terlihat sangat pucat, Clara duduk di samping suami nya saat ini lalu meminta sesuatu.
"Honey, kok Aku pengen makan mangga muda yang di tanam Pak Entis di taman mansion yah?"tanya Clara dengan bingung.
__ADS_1
"Kamu mau itu? Aku ambilin buat kamu,"ucap Axel kepada istri nya.
Clara yang menerima tawaran penerimaaan itu tentu langsung tersenyum sumringah ketika mendengar suami nya akan memenuhi keinginan nya, Axel terlihat berdiri dan ingin mencari seseorang untuk mengambil mangga.
"Bentar, Aku panggil Pak Entis,"ujar Axel yang berdiri.
Tangan pria itu di cegat oleh istri nya, Varo yang melihat itu tersenyum menyeringai menatap aksi Clara, seperti nya penderitaan Axel akan di mulai hari ini batin Varo menatap sahabat nya itu dengan penuh kesenangan karena akhirnya sahabat nya yang satu ini akan merasakan apa yang pernah Dia rasakan saat Rere meminta yang aneh-aneh kepada nya.
"Aku mau kamu yang manjat sendiri hehe,"tawa Clara tanpa berdosa dengan wajah polos nya.
Seketika Axel yang mendengar permintaan aneh nya itu langsung menghilangkan rasa mampu untuk memenuhi keinginan istri nya, Axel berpikir seperti nya istri benar-benar ngidam seperti orang hamil, bukan nya Axel tidak memahami tetapi saat dulu Clarissa hamil Alisa, istri pertama nya itu jarang sekali mual atau pun meminta sesuatu, tahu-tahu Dia sudah hamil 3 bulan, setiap orang hamil memang memiliki gejala berbeda beda.
"Aku? Kamu serius,"ujar Axel menatap mata istri nya yang penuh harap.
Clara mengaguk cepat, Axel langsung meneguk saliva nya dengan kasar menatap istri kecil nya itu, dengan terpaksa Axel langsung menuruti permintaan Clara, tentu semua orang tidak mau melewati itu semua, mereka mengikuti dan menyaksikan Axel untuk memanjat pohon menggunakan jas itu.
"S*ial,"batin Axel menatap Varo.
'Haha Aku jadi nostalgia,'batin Varo menatap sahabat nya itu ketika dahulu Dia juga di suruh memanjat pohon rambutan oleh istri nya.
"Daddy semangat,"teriak Alisa kepada pria itu
"Semangat Honey,"teriak Clara juga yang padahal membuat urusan ini lebih rumit mengambil pohon mangga adalah keputusan nya sendiri.
"Kasian banget Pak Axel,"ujar Rere menatap pria itu.
__ADS_1
"Kamu ga ingat dulu juga gituin Aku? yang ada kamu malah ketawa sama Mommy,"ujar Varo mengigatkan hal itu kepada istri nya.
"Eh iya,"ucap Rere tersenyum canggung menggaruk tengkuk nya.
Kembar empat dan Alisa saling bersahutan bertepuk tangan melihat Axel yang sudah naik ke atas pohon mangga menggunkan tangga itu, tetapi karena bagian mangga yang muda agak ke atas dengan terpaksa pria itu naik ke dahan untuk menjangkau, Axel menatap ke bawah pohon mangga.
'Untung saja ini tidak terlalu tinggi,' gumam Axel menatap takut.
"Wah bagus Honey, ambil nya dua aja jangan banyak-banyak,"teriak Clara dari bawah kepada suami nya.
Momen itu tidak mau di lewatkan Varo, dengan segera pria itu memotret Axel yang berada di atas pohon mangga, dengan sengaja Varo memanggil pria itu agar menatap ke kamare.
"Bro, lihat ini,"ucap Varo mengarahkan kamera kepada Axel.
Axel yang di panggil itu menatap ke arah sumber suara, terlihat Varo memotret diri nya sambil tertawa terpingkal-pingkal, pria itu hanya bisa menahan emosi nya.
"Si*al Varo lihat saja Kau," ancam Axel dari atas pohon mangga.
"Pftt haha kau sangat lucu bro,"teriak Varo menatap potret wajah Axel melongo sambil memegang dua buah mangga.
Pria itu langsung menguploud foto itu ke sosmed ig nya yang lumayan memiliki banyak pengikut sampai 12 juta, dengan satu foto caption nya "Tuan Arnolda sangat sayang istri sekali, Dia rela memanjat pohon mangga untuk istri tercinta, wajah polos nya membuat ku merasa sedih," tulis Varo, foto yang baru beberapa menit itu mendapat banyak komentar dan like, terutama Veronica yang sedang berada di luar negeri itu, tertawa dengan puas melihat Axel, "Putra ku sangat tersiksa haha" komen Veronica.
"Berterimakasih lah karena dunia tahu kalo kau suami yang sayang istri,"ucap Varo menatap Axel yang sudah turun itu.
"Awas kau yah,"ucap Axel dengan mata tajam nya kepada sahabat nya itu.
__ADS_1
Varo yang di kejar itu tahu Axel akan memukul nya pria itu berlari mengeliling pohon mangga begitu pun dengan si kembar yang malah ikut-ikutan melihat Daddy mereka berlari dengan tawa yang terus memancar kedua nya, begitu lah tragedi mangga muda di lewati saling melempar canda dan tawa juga kekesalan batin oleh Axel kepada Varo.