
Setelah tenang menangis Alice saat itu juga langsung memanaskan makan malam nya kembali, sedangkan Michele lebih dahulu pergi mandi untuk membersihkan tubuh nya.
Jika dulu Dia lelah sehabis operasi sampai tengah malam, Dia mungkin akan tidur langsung di rumah sakit atau pun memilih pergi ke club untuk melepaskan penat, tapi berbeda kali ini saat Dia telat pulang ada seseorang yang akan menunggu nya di rumah.
Tap.. tap..
Langkah kaki Michele mengema di ruangan itu Dia mendorong kursi duduk dengan tenang, melihat Alice yang juga duduk di samping nya mereka makan bersama dan sesekali bercerita.
"Kamu belum makan?"tanya Michele melihat betapa lahap nya istri nya itu makan, sehingga sesekali membuat tepi ujung nya terkena saus.
"Belum, Aku menunggu mu untuk makan bersama,"ujar Alice dengan jawaban sederhana nya.
Entah kenapa jawaban simple itu membuat Michele berhenti menyendokan makanan nya lalu memeluk Alice dengan gemas.
"Kau mengemaskan, terimakasih menunggu ku, tapi lain kali jangan lewatkan waktu makan mu, itu akan membuat mu asam lambung ok!"ujar Michele memperingati istri nya itu.
"Huh dasar Pak dokter iya deh,"ujar Alice kembali mengunyah makanan nya dengan nikmat.
Setelah selesai makan, Michele dan Alice melangkah kan kaki nya ke dalam kamar mereka saling bersender dan memeluk satu sama lain.
"Sayang, Aku ingin bercerita tadi Aku bertemu dengan Kak Teo,"ujar wanita itu menceritakan nya.
"Teo? Apa pria yang kau gilai waktu SMP itu, Aku mengingat nya saat menjadi dokter khusus di mansion mu, kau meminta Mommy Ale untuk mengajarkan cara nya membuat coklat dengan polos nya kau bercerita untuk menembak seorang pria dan itu langsung membuat Reno selalu mengantar mu ke sekolah haha,"ujar Michele mengingat juga karena waktu itu Dia datang untuk cek up keadaan Daddy Dante yang sempat kena darah tinggi dan harus mencek nya rutin, saat itu Michele ada di waktu yang sama saat Alice di marahi Reno.
Gadis itu memasang wajah masam nya karena mengingat kejadian masa lampau, karena kedua pria yang sangat posesif kepada diri nya.
__ADS_1
"Ya, tapi sekarang Dia lebih memperhatikan istri nya, kakak ku itu untung ada kak Anggun yang cantik yang tahan dengan sikap abstrak nya,"ujar Alice mengatakan itu mengerutu mengingat kelakukan Reno.
Michele hanya mengeleng melihat betapa cara lucu nya Alice mengumpati kakak nya itu dengan kesal, padahal kalau berhadapan langsung nyali gadis itu pasti akan langsung ciut bertemu Reno.
"Tapi tunggu Teo itu, apa Dia menganggu mu?"tanya Michele dengan penasaran.
"Tidak Dia menyapa saja dan mengantar ku ke swalayan untuk berbelanja tapi Aku pulang sendiri, karena Dia adalah dosen di kampus kami sayang,"ujar Alice menjelaskan.
"Begitu,"ujar Michele mengangguk tanda paham.
Ini lah yang Dia sukai dari Alice, gadis itu dengan polos bercerita tentang apa yang Dia lakukan insting untuk berbohong kepada Michele belum pernah Dia lakukan.
"Ayo tidur,"ujar Michele menyelimuti tubuh mereka setelah bercerita itu.
Gadis itu menahan tangan Michele, membuat pria itu dengan heran menatap Alice.
Seketika Michele memasang raut wajah malu, lucu dan ingin tertawa bercampur menjadi satu mendengar pernyataan istri kecil nya itu.
"Sayang, tidak untuk sekarang kita sama-sama lelah, besok kita akan buat anak,"ujar Michele mengatakan itu.
Entahlah apa yang di pikirkan gadis itu saat berbicara hal itu dengan polos nya, karena gadis itu dengan enteng membuat anak seperti membuat telur dadar tinggal sat set sat set jadi, padahal tidak begitu adanya.
"Yah yaudah deh, besok aja, padahal tadi Mommy nanya apa Aku berusaha membuatkan nya cucu, terus Aku bilang kalau produk Alferoz tidak pernah gagal membuat anak,"ujar Alice mengatakan itu dengan memberikan satu jempol nya.
"Astaga jika kau sangat ingin, Aku akan mengurung mu saat kita liburan di kamar sampai kau merengek untuk tidak ingin melakukan nya lagi,"ujar Michele memejamkan mata nya lalu memeluk Alice.
__ADS_1
Gadis itu tertawa dengan renyah nya mendengar penuturan Michele yang terdengar hanya mengoda nya.
"Baiklah suami ku, selamat malam,"ujar Alice ikut memejamkan mata nya.
Mereka akhirnya melewati malam panjang mereka dengan santai, pasangan baru itu sangat manis dalam berbagai sisi bukan lebay tapi kamu aja yang iri iya kan haha.
Pagi hari nya Alice memutar badan nya, Dia merasakan kasur di samping nya kosong, gadis itu menepuk nepuk beberapa kali sisi ranjang yang kosong itu lalu membuka mata nya.
"Sayang?"gumam Alice dengan suara serak khas bangun tidur nya.
Gadis itu memilih melangkahkan kaki nya ke kamar mandi, lalu berganti baju dan mencari Michele ke seluruh ruangan apartemen, hingga mata nya teralihkan ke meja makan yang sudah ada sarapan satu piring dan juga susu satu gelas, di gelas itu ada note yang tertempel.
"Good moorning wife, Aku pergi pukul 4 dini pagi karena tiba-tiba Aku ada mendapat telpon kepala rumah sakit karena ada pasien UGD yang harus di operasi, kau bangun jam berapa? Aku tidak tega membangunkan mu dan memberitahu mu, ini sarapan yang sangat Aku bikin terburu-buru, Jangan lupa makan sarapan mu, i love u,"
Alice melirik jam yang ada di ponsel nya yang sudah menunjukan pukul 7 kurang beberapa menit, biasanya Dia bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan Michele, seperti nya Dia lupa menyetel alarm tadi malam.
"Sudah tiga jam yang lalu, Dia hanya tidur beberapa jam, Aku khawatir Dia sakit,"gumam Alice mengingat suami nya itu.
Panini adalah sarapan yang berbahan utama roti yang isian nya ada sayuran dan lain nya, gadis itu duduk dan memakan sarapan nya sudah dingin itu.
"Memang kalau dokter, sangat mementingkan makanan apa yang harus di makan, ini adalah makanan sehat di pagi hari,"gumam Alice mengatakan itu.
Hari ini Alice berencana pergi ke rumah orang tua Michele untuk membantu nya dan meminta Mommy Antara itu untuk membuat makan siang kesukaan Michele setelah kelas pagi nya.
"Saat nya Aku kuliah, tidak boleh mengecewakan suami ku tersayang,"ujar Alice dengan semangat mengatakan itu.
__ADS_1
Gadis itu berangkat menggunakan taksi online yang sudah Dia pesan, sebenarnya Dia ingin membawa mobil nya tapi Dia berpikir itu akan lebih baik di pindah kan saat mansion mereka sudah selesai. Alice sampai di depan kampus nya di sambut dengan bahu seseorang yang menepuk nya.
"Hei Al,"