
Gabriel yang melihat itu seketika mempunyai ide agar Clara menghentikan aktivitas nya, dengan wajah watados nya Gabriel memukul tangan Clara dengan kuat.
Plak..
"Nyamuk Cla, nyamuk" ujar Gabriel yang memukul tangan gadis itu.
Clara yang tangan nya di pukul itu melepaskan elusan nya pada perut Reyhan, dan memegang tangan nya yang sakit dengan tatapan kesal kepada Gabriel.
"Sakit tahu El" tutur Clara dengan wajah cemberut nya itu.
"Ish El kasar banget sih" ujar Rere menatap pria yang duduk di samping nya itu.
"Apaan sih Lu El jadi sakit tangan Clara tuh" ketus Reyhan dengan kesal menatap pria itu.
"Anjir Gua bantuin lu bang*ke malah begitu" ujar Gabriel dengan kesal menatap Reyhan dengan tatapan menghunus nya.
"Bantuin ngapain?" tanya Clara yang masih memegang tangan nya itu.
"Udah biarin, itu si El gajelas" tutur Reyhan memegang tangan Clara yang terlihat sedikit memerah itu.
Di sisi lain Axel yang sudah pulang, mengendarai mobil nya menuju perusahaan milik Arnolda corp itu, perusahaan Axel memang tidak mendunia seperti Varo William, karena Dia tidak terlalu berfokus pada itu, Axel tipe orang yang melakukan hal yang sewajar dan hal yang Dia sukai, seperti menjadi guru itu adalah keinginan Axel karena Dia memang sangat suka dengan lingkungan sekolah, untuk perusahaan hanya lah sebuah aset penghasil uang bagi nya, tidak usah terlalu mendunia asal kan masih bisa membeli apa yang Dia ingin kan, karena Arnold corp cukup terkenal di indonesia sebagai perusahaan tekstil nomor 1 di negara tersebut, sebelum Axel berada di luar negeri perusahaan nya di tangani oleh Roy di indonesia. Axel memarkirkan mobil nya di parkiran perusahaan, pria itu turun dan masuk melewati pintu depan di sambut dengan Roy yang sudah ada berdiri di depan meja resepsionis menunggu kedatangan tuan nya itu.
"Bagaimana hari ini?" tanya Axel melangkah kan kaki nya memasuki lift bersama Roy yang mengikut langkah tuan nya itu.
"Semua nya lancar dalam kendali seperti biasa nya tuan" ujar Roy memberikan dokumen laporan itu kepada Axel.
Axel mengambil itu, dan melihat dokumen itu dengan seksama, kalo Axel lebih serius membuat perusahaan nya lebih go internasional mungkin saja Dia bisa bersaing dengan William Group dan mungkin saja Arnold corp bisa menjadi perushaan nomor satu mendunia karena otak pria seperti Axel sangat pintar dan encer terlebih Dia lulusan terbaik di universitas nya bersama Varo, serta Reno.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyiapkan dokumen meeting untuk besok, kau kerjakan seperti biasa nya" jelas Axel memberikan kembali dokumen itu kepada Roy.
"Baik, tuan Nona muda ada di ruangan Anda" ujar Roy dengan gugup nya.
"Kenapa kau mengajak nya kesini!" Axel yang kalem itu seketika raut wajah nya berubah menatap tajam pria yang berdiri di belakang nya itu.
"Nona muda memaksa saya tuan, kata nya kalo saya tidak mengizinkan nya Dia akan menikah kan saya dengan Bibi ijah" ujar Roy yang menatap Axel dengan memohon kasihan.
"Astaga Roy, please kau ini mau saja di ancam dengan anak kecil" tutur Axel mengelengkan kepala nya melihat kelakuan asisten nya yang bodoh itu.
"Tuan, Nona muda itu sangat mirip seperti Anda, Dia bertindak sesuai dengan ucapan nya, Saya tadi sempat menolak dan Dia malah mengikat saya di bantu pak Entis, dan Dia malah membawa penghulu sungguhan ini bukan main-main" ujar Roy yang menceritakan itu dengan raut wajah yang sangat tertekan.
"Dia itu sudah sangat di manja kan oleh orang rumah" gumam Axel yang kembali ke posisi nya dan diam.
Ting..
Pintu lift terbuka menuju lantai paling atas tempat ruangan CEO itu berada, Axel melangkah kan kaki nya ke dalam ruangan itu, terlihat ruangan nya yang sangat berantakan dan semua kertas serta mainan terletak di sana sini, kursi kerja Axel menghadap membelakangi nya.
Tidak ada jawaban dari gadis kecil itu, Dia hanya diam tanpa sepatah kata pun hingga akhir nya Axel memutus kan mendekat ke kursi nya dan memutar kursi lalu ternyata tidak ada satu pun orang duduk di sana.
"Mana Dia Roy, kau bilang Dia di sini?" tanya Axel dengan bingung menatap asisten nya yang malah diam mematung itu.
"Astaga, seperti nya Nona muda berada di luar" ujar Roy dengan wajah kaget nya menatap ke seluruh ruangan itu yang tidak ada satu pun selain mereka berdua.
Aaa...
Tiba-tiba dari luar ada suara teriakan dari ruangan sekretaris itu, dengan cepat Roy dan Axel menuju suara teriakan itu dengan langkah panjang nya, di samping ruangan CEO terdapat ruangan sekretaris CEO, Axel membuka pintu itu pelan dan terlihat lah Alisa yang sedang memegang gunting dan segengam rambut yang Dia pegang sudah terpotong itu.
__ADS_1
"Anak kecil sial*an, apa yang kau lakukan dengan rambut ku" umpat Bella menatap gadis kecil yang berdiri di belakang kursi nya dengan tatapan wajah tanpa berdosa itu.
"Tante kalo ngomong, itu yang copan, Yes Daddy?" ujar Alisa yang sudah tahu bahwasan nya Axel masuk ke dalam ruangan itu sedari tadi menatap diri nya.
"Itu benar, kenapa kau berbicara tidak sopan di depan anak ku" ujar Axel menatap Bella dengan tajam.
'Sial aku tidak tahu Dia anak Ceo' batin Bella menunduk ketakutan itu.
"Maaf kan saya tuan, tapi tetap saja tindakan nya itu sudah keterlaluan Dia memotong rambut saya" ujar Bella dengan tatapan yang merasa juga benar tersebut.
"Alisa apa kau dengar? cepat minta maaf, Daddy tidak pernah mengajarkan mu seperti itu" ujar Axel dengan tegas kepada anak nya itu.
"I dont care" ujar Alisa membuang rambut dan gunting itu ke lantai dan memilih keluar rungan itu.
"Aku akan memberikan biaya salon rambut mu, kau urus itu Roy" ujar Axel berlalu pergi mengikuti langkah anak nya itu.
Axel mengikuti kemana langkah kecil itu berjalan, ternyata Dia kembali masuk ke ruangan Axel, gadis itu mengambil sebuah kertas dan memperlihat kan nya kepada Axel.
"Ini Daddy, ini Alica tapi tidak ada Mommy di sini, Why?" ujar gadis itu yang menunjuk gambar nya.
"Kau punya Mommy, tapi--" ucapan Axel kembali terpotong akibat Alisa lebih dulu menjawab.
"Di sulga kan, Alica tahu, Alica mau Mommy! Daddy cali Mommy balu, atau Alica pelgi lagi" ujar gadis itu mengancam dan berlari keluar ruangan Axel.
Axel yang melihat tingkah anak nya yang setiap hari semakin menjadi itu hanya bisa memijat kepala nya yang terasa pusing, Roy yang baru masuk ruangan itu melihat tuan nya yang menyendarkan badan di kursi sofa sambil memejamkan mata nya.
"Roy cari Alisa, tadi Dia keluar, antar Dia pulang bagaimana pun cara nya" tegas Axel kepada Roy agar pria itu tidak kembali menolak.
__ADS_1
"Baik tuan" ujar Roy pamit pergi mencari Alisa.
'Cla, Aku tidak bisa kalo terus seperti ini'