Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
Part 72- Teror


__ADS_3

"Mom i i itu" ujar Rere dengan takut sambil menunduk.


"Ada apa ini? jawab aku! apa yang ada di kotak itu" teriak Shinta menatap tajam kepala pelayan yang membereskan kotak itu dan memasukan kembali barang yang ada di dalam nya.


"Nyonya lihat lah ini" ujar kepala pelayan itu memberikan kotak itu kepada Shinta.


"A a pa ini" betapa terkejut nya Shinta kala melihat isi kotak itu.


Di dalam kotak itu terdapat sebuah burung gagak yang sudah mati berlumuran darah yang di tancap dengan sebuah pisau tajam yang masih melekat tepat di dada burung gagak itu, pisau itu berlumuran darah segar dari gagak yang mati, dan di sisi lain di dalam kotak itu terdapat foto keluarga Rere semasa dia kecil, dimana keluarga nya masih lengkap saat itu, di foto itu terdapat nenek, ibu, ayah serta diri nya. Di foto itu kepala ibu, dan nenek nya di coret dan di beri tanda silang menggunakan darah dari si gagak, di foto itu terlihat hanya Deren yang di lingkar tanda hijau sedang kan Rere di beri tanda merah dengan tanda melingkar.


"Apa maksud semua ini, foto ini foto nya Risa" ujar Shinta dengan bibir yang bergetar.


"Nyonya lihat foto yang lain nya" saran kepala pelayan itu menuntun Shinta menunjuk foto yang lain nya.


Saat Shinta melihat foto yang satu nya lagi, betapa kelu bibir nya untuk berbicara kala melihat foto orang tercinta nya itu, di dalam kotak sana juga terdapat foto lama keluarga Shinta yang masih terdapat Chelsea, kali ini di foto itu terdapat tanda silang berlumuran darah di kepala Chelsea, sisa nya kepala yang dilingkar dengan dengan darah adalah Shinta. Seketika air mata Shinta runtuh dan terjun melihat itu betapa takut nya diri nya.


"Chel--" tenggorokan Shinta terasa tercekat, dia sangat susah berbicara hanya air mata yang menandakan sedih dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu.


"Hik hiks mommy apa itu mom, Rere takut mom" ujar Rere menangis di pelukan Shinta.


"Sayang tenang lah mungkin ini hanya orang iseng" Shinta harus bisa menguatkan diri nya demi menantu nya yang tengah hamil besar itu, dia tidak mungkin menunjukan rasa takut yang seperti yang di rasakan Rere, jika hal itu terjadi siapa yang akan menenangkan Rere saat ini.

__ADS_1


"Kau buang kotak itu, aku tidak ingin melihat nya!" teriak Shinta kepada kepala pelayan.


Tap.. tap..


Suara langkah kaki memasuki ruang tamu keluarga William itu, disana terlihat Varo dan Adrel yang sedang berbincang sambil tertawa, saat Varo melihat ke depan dia nampak bingung dengan keadaan yang berantakan dan ada bekas darah di lantai, pikiran buruk mulai berkecamuk di otak Varo kala itu apalagi melihat istri nya yang menangis, Varo langsung menghampiri nya.


"Sayang ada apa ini?" ujar Varo memeluk istri nya hanya diam membisu dengan air mata serta tubuh bergetar itu.


Tidak ada jawaban dari Rere hanya gelengan kepala serta dekapan yang semakin kuat di tubuh suami nya itu. Adrel yang juga merasa bingung itu bertanya kepada Shinta.


"Mommy sebenarnya kenapa dengan kalian?" tanya Adrel yang sudah merasa khawatir kepada istri juga menantu nya itu.


"Daddy lihat ini" ujar Shinta memberikan kotak itu kepada adrel.


Beberapa puluh menit kemudian.


"Tuan seperti nya keluarga anda dan nona sudah di target kan sejak awal dengan orang yang sama" ujar Samuel melihat kotak yang di berikan Varo itu dan meletakan nya kembali ke atas meja.


Setelah mendengar cerita dari mommy nya Varo langsung menelpon Samuel untuk datang dan melihat keadaan nya, Varo juga menceritakan hal yang sama seperti yang di ceritakan Shinta. Saat ini Varo masih di ruang keluarga bersama Shinta, Adrel serta istri nya yang sudah tertidur lelap di pangkuan nya itu karena kelelahan sehabis menangis lama, Rere sangat takut dan tidak mempunyai keberanian untuk di suruh tidur di kamar kala melihat hal barusan terjadi.


"Kenapa kau bisa berbicara seperti itu? apa kau punya bukti nya, sial siapa yang berani bermain dengan keluarga ku" ujar Varo mencengkram kuat tangan nya yang terkepal itu.

__ADS_1


"Logika nya saja? Anda seorang berpengaruh nomor 1 di dunia, hal ini wajar saja, tetapi hal itu tidak pernah terjadi sebelum nya karena kami para team Aeros selalu mengawasi gerak gerik yang mengancam bagi keluarga William bahkan sebelum aku pun yang menjadi ketua sudah seperti itu, nyonya apa kau mengenal pria yang memberikan kotak kado itu kepada mu?" terang samuel lalu bertanya kepada Shinta.


Shinta kembali mengingat kejadian nya tadi sore, tadi sore adalah quality time yang seru bagi nya, dan betapa terkejut nya Shinta kala merasa orang yang memberikan kotak itu kepada Rere kurang merasa familiar di mata nya.


"Aku ingat sekarang, pria itu, yang memberikan kotak kepada Rere seperti nya dia tidak bekerja di mansion kita, aku tau pelayan di rumah ini banyak tetapi aku bisa mengenal wajah mereka dengan firasat ku" balas Shinta membalas perkataan Samuel.


"Jadi maksud mu orang itu sudah menyiapakan nya dengan matang sehingga bisa masuk kesini?" tutur Varo.


"Yaps cuman segitu yang saya pikirkan tuan, dan menurut analisis saya yang lain tanda orang yang di silang adalah mereka yang sudah meninggal, dan tanda yang di lingkar merah adalah target berikut nya" terang Samuel dengan serius sambil menopang dagu nya dan menatap intens Varo.


"A a apa maksud mu? aku dan Rere? tidak mungkin" Shinta menggeleng dengan kuat dia merasa takut saat ini.


"Sayang tenang kan diri mu, ada aku disini" ujar Adrel berusaha menenangkan Shinta.


"Sam jangan asal berbicara!" bentak Varo.


"Aku tidak asal berbicara, apa kau masih meremehkan otak ku ini? kau seperti nya lebih paham apa yang aku pikiran tuan Varo, dan lihat lah coretan ini" tunjuk Samuel mengambil salah satu foto di kotak itu dan menunjuk salah seorang yang di lingkar dengan tanda merah menggunakan darah.


"Apa kau tahu? ini darah gagak, lihat lah ancaman ini sangat jelas, gagak melambangkan kematian, hewan hitam ini sangat awam dan hal yang berkaitan dengan kematian, kau pasti juga tau hal umum seperti ini" sambung Samuel meletakan kembali foto itu.


"Kau benar, bajingan aku merasa tidak pernah mengusik seseorang kenapa harus orang yang aku cintai menjadi sasaran orang jahat itu" gumam Varo megepal kuat tangan nya.

__ADS_1


"Hidup itu mengusik atau terusik" ujar Samuel dengan menyeringai.


__ADS_2