
Setelah menjemput Alisa itu Axel memutuskan untuk mengajak nya kembali ke sekolah karena gadis kecil nya itu tidak mau untuk pulang ke rumah, sambil mengendong Alisa pria itu terus menaiki tangga dengan hati-hati.
"Alisa harus nya di rumah aja, Daddy padahal lagi di sekolah" ujar Axel membuka pembicaraan dan menatap Alisa.
Gadis itu terlihat sangat antusias dengan keramaian sekolah yang membuat nya sangat semangat itu, ingin sekali Alisa rasa nya berlari-lari mengelilingi sekolah itu karena senang melihat keadaan yang ramai.
"Alica mau main kecana" ujar Alisa menunjuk sebuah kelas yang sedang mereka lewati di dalam kelas tersebut terlihat siswi perempuan yang sedang bermain bersama.
"Jangan" jelas Axel melarang keras menatap Alisa tersebut.
"Daddy jaad di lumah tidak ada olang Alica tidak bisa main, Alica tidak suka main dengan bibi" ujar gadis itu berbicara dengan kesusahan.
Alisa memang masih cadel di usia nya yang menginjak empat tahun, bukan tanpa alasan Dia cadel karena Alisa biasa menggunakan bahasa inggris di London saat itu, Dia bisa berbahasa indonesia karena Axel terkadang berbicara dan memarahi nya dengan bahasa yang tidak Dia mengerti, lama kelamaan membuat Alisa paham dan mulai bisa mengatakan hal yang sama dengan Daddy nya.
"Lain kali saja yah" ujar Axel membujuk Alisa itu.
Kruk..
Suara perut Alisa seketika berbunyi karena keroncongan, mungkin saja gadis kecil itu merasa lapar. Alisa yang mendengar suara perut nya sendiri malah tertawa lucu.
"Daddy mau kecana" tutur Alisa menunjuk kantin yang sedang ramai itu.
"Beli roti aja oke?" ujar Axel memperingati anak nya itu sebelum membeli hal yang lain.
"Oke" tutur Alisa memberikan lingkaran kepada Daddy nya itu.
Semua siswa dan siswi yang melihat kepsek baru mereka mengendong anak kecil itu seketika mulai berbisik dengan rasa senang lucu dan kecewa dari mereka.
"Tuh kan udah nikah"
"Lah serius anak nya itu?"
"Pak Axel si bule blasteran kalo anak nya full complite kayak bule asli"
__ADS_1
"Iyah cute banget"
"Ini sih emak nya bukan level kayak kita lagi"
Bisikan para penghibah mulai terdengar di kantin itu satu persatu dan menyebar ke seluruh ruangan. Axel yang sedang mengendong Alisa itu seketika perhatian nya teralih kan kepada seorang gadis yang menelengkup kan kepala nya di atas meja lalu seorang siswa laki laki yang juga Dia kenal sedang mengelus kepala gadis yang tadi membuat nya terpikir dua kali yang pertama di parkiran dan yang kedua saat di Aula tadi pagi.
'Berpacaran di jam sekolah, pantas saja Dia seperti seorang gadis b*doh kebanyakan cinta-cinta an dan tidak belajar yang benar' batin Axel yang masih menatap ke arah itu.
"Daddyyyyyyyy" teriak Alisa tepat di telinga Axel itu.
"Alisa jangan seperti itu! telinga Daddy bisa sakit, bicara yang pelan dan sopan" ujar Axel menasehati anak nya itu dan menatap nya dengan tatapan dingin.
"Olang tadi Alica sudah panggil Daddy diam aja, Daddy lihat di cana mulu" kata Alisa dengan wajah yang cemberut itu.
"Benarkah?" tanya Axel yanh menatap putri nya itu tanda tidak percaya.
"Benelan" tutur Alisa sambil mengangguk dengan kuat dan cepat.
Di sisi lain
"Udah Cla, jangan cemberut lu tambah jelek tau ga" ujar Reyhan menatap gadis itu dengan tatapan mengejek nya.
"Emang Gua jelek nih, katain dong" tutur Clara yang malah kesal menatap Reyhan itu.
"Lupain Cla, yang perlu di ingetin itu masa yang indah bukan suram" ujar Anggun yang dengan sok hebat nya berkata seperti itu.
"Dia tidak tahu saja siapa yang membuat Clara seperti itu" sambung Rere yang menatap Anggun yang masih percaya diri.
"Kurang sadar yah begini" kata Gabriel menatap Anggun.
"Udah Cla, serem Gua liat nya nanti ga ada yang mau pacaran sama Lu loh" ujar Reyhan kembali membujuk gadis itu.
Brak..
__ADS_1
Dengan kuat Clara mengebrak meja itu lalu berdiri dengan percaya diri nya dan menatap semua teman nya yang sedang duduk satu meja dengan nya itu.
"Walaupun dunia tidak mengizin kan Gua untuk mendapat kan pacar, selera Gua tetap tinggi sekelasan oppa Kim taehyung, pria tampan Gua bertebaran di otak Gua" jelas Clara dengan sangat yakin dan percaya diri.
"Maksud lu oppa yang ada di kartun upin ipin?" tanya Gabriel dengan wajah tanpa bersalah nya.
Anggun yang juga merupakan sehati dengan Clara yaitu pencinta pria tampan garis keras pun tidak terima atas penghinaan yang di berikan oleh Gabriel kepada Kim Taehyung, Anggun menarik kerah baju pria itu lalu menatap nya dengan dekat.
"Beda bangs*t" tatap Anggun dengan menatap dalam mata pria tersebut.
"Udah Nggun santai" ujar Rere yang berusaha menenangkan teman nya itu.
"Iya deh, bercanda juga" ujar Anggun melepas kan tarikan itu dan kembali duduk dengan tenang.
Hosh..
Gabriel terlihat seperti orang yang sangat kehabisan nafas karena kerah baju di tarik dengan kuat dan itu membuat Gabriel susah mendapat kan pasokan oksigen akibat tenggorokan nya yang tercekat oleh seragam sekolah.
"Gila sih Anggun, tenaga gorila ini cewe, nama lu Anggun kelakuan ga ada Anggun Anggun nya" jelas Gabriel dengan kesal menatap Anggun itu.
"Lah yang ngasih nama ortu Gua bor dan nama juga ga selalu mengambar sikap orang nya, ya kali sebelum lahiran masih di dalam perut bapak Gua ngintipin dan nanya Hei, nama kamu Anggun saja gimana anak papa? ga mungkin kan, gajelas Lu" ujar Anggun membuang muka karena kesal itu.
"Udah jangan ribut lagi, nanti kalian jodoh loh" kata Rere yang mengoda mereka berdoa.
"Jodoh? orang yang Dia suka aja itu k-- mmmmm" seketika mulut Anggun tertutup rapat oleh Gabriel yang langsung menutup nya dengan kesal.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga akhir nya bel masuk kembali berbunyi, dan tanpa di sadari belajar dengan waktu yang lama juga tidak terasa bel pulang kembali sudah berbunyi lagi. Seperti biasa Clara dan Rere naik angkot itu menuju pulang ke rumah, setelah beberapa puluh menit menempuh perjalanan pulang Clara akhir nya sampai tepat di panti asuhan yang sudah menemani nya sejak kecil tersebut.
"Assalamualaikum Bunda" ujar Clara setengah berteriak ke dalam panti.
"Walaikumssalam Cla" tutur Bunda Eti dengan senyum yang penuh mengembang di pipi nya.
"Bunda sebenarnya ada yang mau Clara omongin sama Bunda" ujar Clara yang mulai terlihat serius itu sambil memegang tangan Bunda Eti yang sedang berdiri di hadapan nya.
__ADS_1