Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
S3 BAB 80-MENUJU KE KAMPUS


__ADS_3

"Tidak Little,"ujar Reno langsung menyangkal permintaan istri nya itu.


"Kenapa?"tanya Anggun dengan wajah cemberut menatap Reno.


Reno menatap Keenan yang juga menatap nya dengan tatapan tidak mengerti, bagaimana Dia tidak menolak Keenan pasti hanya akan menghancurkan kue yang Dia buat, dan itu tidak akan Reno biarkan.


"Keenan tidak bisa, buatan nya tidak enak,"ujar Reno langsung menyangkal permintaan istri nya.


Gadis itu cemberut karena Reno tidak memperbolehkan nya entahlah Anggun sangat bingung dengan alasan suami nya yang aneh itu, Anggun mengusap perut nya seolah-olah memprovokasi keadaan.


"Padahal Baby kita yang mau loh,"ujar Angggun mengusap perut nya itu.


"Baiklah, tidak ada yang bisa menolak permintaan mu,"ujar Reno mengusap surai lembut istri nya itu.


Seketika itu juga Anggun langsung tersenyum senang, entah kenapa Dia hanya ingin melihat kedua orang itu saling membuat cake untuk nya aneh sih, tapi yah Anggun menuruti saja apa kata hati nya.


"Kau duduk di sana, dan lihat saja ok?"ujar Reno memastikan kepada gadis itu.


"Iya,"ujar Anggun mengangguk dengan cepat memahami maksud suami nya.


"Dan kau Keenan bantu Aku, jangan mnegacau atau kau akan mendapatkan ukiran di wajah mu,"ujar Reno dengan menatap tajam.


Glek..


Keenan menenguk saliva nya dengan kasar, mendengar perkataan Tuan nya itu, padahal Dia di mintai bantuan tetapi Dia juga yang di salahkan jika ada sedikit pun, padahal Keenan kan juga perdana masak-masak.


'Aku tidak mau membantu jika di paksa,' batin Keenan tidak bisa membantah dan langsung membantu Reno yang menyiapkan cake itu.


Reno tampak cekatan walaupun Dia baru sekali melihat proses nya, begitu pun dengan Keenan yang hanya mengerjakan apa yang di suruh Reno, mereka seperti koki dan asisten koki saling bekerja sama dan melengkapi, sesekali Anggun juga mengambil foto yang terlihat wajah Reno yang tidak sengaja terkena tepung oleh diri nya sendiri.

__ADS_1


"Kalian hebat,"ujar Anggun yang seolah-olah menonton pertunjukan itu.


Sementara itu Alice yang tidak turun untuk sarapan, sekarang bersiap-siap untuk pergi ke kampus, bukan nya tidak mau sarapan tapi ini si Alice memang ngebo di dalam kamar nya dan baru bangun, dan kelas hari ini juga baru akan di mulai beberapa menit lagi, tapi gadis itu masih di mansion.


"Akh kenapa harus kesiangan sih,"ujar Alice.


Gadis itu memakai rok hitam di atas lutut dan kemeja putih lengan pendek serta di padukan dengan vest bewarna pink yang terlihat lucu di tubuh gadis itu, Alice memakai sepatu hitam ala wanita eropa kebanyakan dengan tinggi yang membuat nya bertambah beberapa cm.


Drap.. drap..


Derap langkah kaki nya terdengar jelas di pendengaran orang di sana, Alice turun dengan tergesa-gesa, gadis itu berhenti di dapur menatap kakak nya yang terlihat sibuk.


"Kak di mana Daddy, Aku ingin berbicara,"ujar Alice kepada pria yang terlihat fokus itu.


"Dia pergi dengan Mommy, sudahlah kau ke kampus saja, Daddy tidak mungkin marah lagi kepada mu,"ujar Reno masih fokus.


"Iyah Alice, tadi saat sarapan juga Daddy menanyakan mu,"timpal Anggun kepada adik ipar nya itu.


"Yasudah Aku pergi dulu,"ujar Alice dengan terburu-buru meninggalkan ruangan itu.


Alice berlari kecil menuju motor sport hitam nya yang sudah Dia suruh keluarkan kepada karyawan mansion dan di letakan di depan pintu masuk mansion, gadis itu memasang helm nya yang senada dengan motor nya, Alice langsung melajukan motor nya itu dengan kecepatan di atas rata-rata.


'Ga bakal bawa ini motor, kalau ga telat, Gua lupa pakai rok lagi,' ujar Alice menatap jalanan yang ramai di pagi hari.


Brum.. brum..


Motor itu membelah jalanan ibu kota Roma, hingga sampai di sebuah kampus yang ada di sana, Anggun masih mempercepat motor nya memasuki lingkungan kampus, di saat masih ada yang berjalan.


"Maaf,"ujar Alice sambil berteriak melambaikan tangan nya karena hampir menyengol seorang pria yang saling bercanda dan mendorong satu sama lain, sehingga membuat pria itu kaget.

__ADS_1


Ctak..


Alice memakirkan motor nya dan melepaskan helm nya, rambut short hair gadis itu serta outfit dan kendaraan nya membuat nya seakan vibes seorang bad girl padahal mah polos-polos aja, Alice memakai tas nya yang bewarna hitam itu dan mengambil permen karet untuk menyegarkan mulut nya sambil berlari menuju ruangan kampus nya.


Drap.. drap..


Gadis itu berlari di tengah koridor di saat orang lain berjalan santai, tentu Dia terburu-buru karena telat sampai-sampai ada dosen yang meneriaki gadis itu.


"Jangan berlari di koridor!"teriak dosen itu kepada Alice.


"Maaf Pak,"ujar Alice mengatakan itu.


Seketika Alice berjalan tapi langkah kaki nya cepat menuju ke ruangan matkul nya hari ini, hingga akhirnya Dia sampai di pintu masuk bagian belakang ruangan itu, Alice melirik dosen yang sedang menerangkan itu dan mengendap-endap.


'Heh bisa-bisa nya sama ini dosen,' batin Alice menunduk dan akhirnya berhasil mencapai kursi yang paling belakang.


Untung saja di kelas itu mengambil absensi setiap sehabis selesai mata kuliah, maka dari itu Alice tidak akan ketahuan, akhirnya Alice menikmati pelajaran itu dengan tatapan bosan nya.


'Mau mampir ke cafe depan kampus, nyobain menu baru,' batin gadis itu yang malah memikirkan apa di saat dosen menjelaskan.


Di sisi lain, Michele yang sedang tidak ada jadwal operasi itu bersiap-siap akan pergi ke kampus Alice untuk mengambil ponsel nya, karena Dia sudah bertanya kepada Anggun di mana gadis itu, kalau nanya ke Reno Dia tidak bisa karena takut di hap.


"Jam segini, tidak ada jadwal sebaiknya Aku mengambil ponsel ku dan mengajak yang lain pergi trip,"ujar Michele tersenyum miring.


Pria itu memakai baju kasual nya yang sangat keren itu, di usia nya yang dewasa saat ini Dia masih sangat terlihat tampan dan cerah berseri, pria itu menyambar jaket nya dan pergi dari apartemen.


'Udah lama juga Gua ga ke kampus, apa kabar yah sama Buk zemi,' batin Michele fokus dengan setir nya.


Michele memang tidak kuliah di luar negeri, Dia berpikir jika orang sendiri mengejar pendidikan ke kota nya kenapa Dia harus pergi jauh, selama itu masih memenuhi keinginan orang tua nya, Dia hanya alat yang mengapai cita-cita keluarga nya.

__ADS_1


'Boleh lah ajak Buk Zemi keluar haha,'


__ADS_2