
5 bulan kemudian.
Drtt.. drtt..
Suara getaran handphone di atas meja itu membuat gadis yang sedang tertidur pulas itu mengeliyat karena suara itu terdengar berisik dan menganggu tidur nya, gadis itu duduk di tepi ranjang dengan keadaan yang masih setengah sadar dari bangun nya, dia mengambil ponsel itu dan langsung mengangkat nya.
"Datanglah ke italia mama dan papa ingin mengatakan sesuatu" ujar sang penelpon langsung to the point.
Gadis itu hanya terdiam menatap kosong ke depan. Suasana pagi yang mendung ini mewakilkan hati nya yang juga sangat bimbang dan resah.
"Anggun apa kau masih disana?" ujar Widya mama dari Anggun.
"Hmm" balas Anggun dengan datar.
"Apa kau dengar mama? datang lah kesini sayang atau kau akan tahu akibat nya" ujar Widya yang setengah mengancam itu.
"Oke"
Tut.. tut..
Panggilan itu pun terputus karena Anggun langsung menatikan nya, dia membanting handpone itu ke kasur dan kembali tidur.
....................
Kehidupan Varo dan Rere di lewati setiap hari dengan canda dan tawa serta kebahagian, tetapi juga terkadang ada kala nya mereka bertengkar dan beragumen masing-masing atau beradu mulut sesuai permikiran mereka, tetapi hal itu biasa dalam rumah tangga. Mereka akan mudah berbaikan, karena mereka tahu tidak akan bisa marah satu dengan yang lain nya terlalu lama. Saat ini Shinta dan Rere tengah berada di salon pribadi yang ada di di kawasan lingkungan William itu, jarang jarang sekali Rere ingin ikut mencoba fasilitas di mansion William karena dia tidak terbiasa dengan hal yang bersifat privat. Rere lebih suka melakukan nya seperti biasa dan kebanyakan orang yang ada membuat nya senang, tapi kali ini Shinta memaksa untuk ke salon sekedar melakukan perawatan rambut bersama sang ibu mertua yang masih cantik di usia senja nya itu. Shinta dan Rere tengah menikmati perawatan itu, sambil Shinta mengscroll hp nya dan melihat beberapa peralatan bayi yang lucu, lalu dia melihatkan nya kepada Rere.
"Rere coba liat ini lucu baju nya yah cute banget buat cewe" ujar Shinta yang tengah berbaring dan di keramasi rambut nya itu oleh pelayan salon.
__ADS_1
"Iyah lucu banget mom, nanti aja tapi beli nya mommy, sayang uang nya nanti anak Rere belum tentu cewe kan" balas Rere menatap ke samping menghadap ibu mertua nya.
"Anak kamu kan kembar empat, pasti ada cewe nya, mommy mau cucu cewe" ujar Shinta sendu manik mata nya mulai berkaca kaca.
"Iyah mommy kita doain aja yah yang terbaik, nanti kalo udah bisa liat kelamin nya baru beli baju" terang Rere memberikan pengertian kepada Shinta.
"Kamu emang paling bisa bujuk mommy, tapi suami kamu juga banyak uang kita sebagai istri yang ngehabisin uang suami, gaji Varo ga recehan loh" senyum shinta sumringah.
Semenjak kematian Chelsea mommy Shinta pernah mengalami depresi berat mengiklaskan putri kesayangan dan satu-satu nya adalah hal yang paling sulit bagi nya kala itu, dia bisa menyemangati orang lain, tetapi tidak untuk diri nya sendiri dia tidak bisa menyemangati nya. Maka dari itu Shinta perlahan mulai mengiklaskan kepergian Chelsea, tetapi ada satu hal yang sangat membuat dia terobsesi yaitu anak perempuan, siapa pun gadis yang dia temui asalkan gadis itu memiliki sifat cerewet dan banyak bicara seperti Chelsea, Shinta pasti akan langsung mengajak orang itu berkenalan dan berbincang dan menyuruh memanggil diri nya mommy, sekedar hal seperti yang bisa mengobati luka nya secara perlahan.
Saat ini Shinta dan Rere sudah selesai dari salon, mereka berjalan kaki sambil menikmati suasana sore hari menuju arah mansion, tiba tiba seorang pengawal mengantarkan paket kepada Shinta.
"Nyonya" panggil penjaga dari gerbang utama mansion William itu menghampiri Shinta dan Rere yang sedang berjalan itu.
"Ada apa?" balas Shinta kembali membalikan badan nya dan menatap pengawal itu.
"Ini nyonya ada yang mengirim paket untuk nona Rere" ujar pengawal itu menunduk hormat dan memberikan sebuah kotak.
"Gatau juga ini dari siapa, ga ada nama pengirim nya kayak nya loh Re" ujar Shinta menatap kotak yang ada di tangan Rere.
"Yaudah buka di dalam aja mom" tutur Rere mengajak Shinta ke dalam mansion.
Rere dan Shinta saat ini tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu suami mereka pulang dari kantor.
"Rere buka ah" ujar Rere menatap kado yang ada di tangan nya.
"Yaudah buka aja, mommy mau ambil air dulu seret ini tenggorakan" tutur Shinta berlalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
__ADS_1
Kotak itu di hias dengan sangat cantik dengan lapisan kertas bewarna hitam yang sangat elegan dan pita bewarna putih menambah kesan yang sangat indah di pandang, Rere hanya tersenyum melihat kotak itu, dia merasa hadiah itu di berikan Varo kepada dirinya. Saat Rere membuka kotak itu secara perlahan betapa terkejut nya Rere bukan hal manis dan romantis yang ada di dalam kotak itu tetapi sesuatu sangat menyeramkan bagi Rere.
*Akhhhh...
Prang*...
Rere melempar kotak itu ke lantai, beberapa darah segar mengenai lantai itu.
"Hiks hiks mommy!!" teriak Rere dengan wajah pucat dan bibir bergetar.
Para pelayan yang melihat nona mereka itu berteriak dan menangis langsung menghampiri nya beramai-ramai karena memang pelayan disana banyak dan rumah yang sangat besar itu mungkin membutuhkan jarak suara yang lebih keras untuk memanggil banyak orang, hanya beberapa dari mereka yang datang. Kepala pelayan menghampiri nona nya itu dan berkata.
"Nona anda tidak apa-apa?" ujar pelayan itu.
Shinta yang mendengar teriakan menantu nya itu seketika kaget dan menjatuhkan gelas yang ada di gengaman nya.
Prank..
"Rere kenapa?" gumam Shinta dengan wajah yang terkejut dan panik.
Shinta langsung meninggalkan bekas gelas pecah itu dan langsung berlari menuju ke tempat menantu nya yang ada di ruang tamu. Saat shinta datang betapa terkejut nya Shinta melihat menantu kesayangan nya itu menekuk wajah dan memeluk lutut dengan wajah bergetar dan tangisan yang pilu. Dia juga melihat beberapa pelayan yang ada.
"Rere apa kau baik-baik saja?" Shinta memeluk menantu nya itu dengan erat, gadis itu tidak menjawab bibir dan badan nya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.
"Mom i i itu" ujar Rere dengan takut sambil menunduk.
"Ada apa ini? jawab aku! apa yang ada di kotak itu" teriak Shinta menatap tajam kepala pelayan yang membereskan kotak itu dan memasukan kembali barang yang ada di dalam nya.
__ADS_1
"Nyonya lihat lah ini" ujar kepala pelayan itu memberikan kotak itu kepada Shinta.
"A a pa ini"