Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
PART 74 - MANDI BERSAMA


__ADS_3

"Hal seperti itu bisa saja terjadi tuan, tetapi itu juga mungkin tidak benar, kita selalu melakukan bisnis ini dengan bersih tanpa menyinggung siapu pun, geng ini sejak kepemimpin tuan Adrel sudah berubah, kita tidak lagi bermain dengan yang nama nya nyawa" terang Reno memberi pengertian itu.


"Reno benar Varo, lebih baik pastikan ini, aku yakin hal ini tidak berkaitan dengan bisnis kita" sambung Axel.


"Aku hanya takut akan melukai orang yang aku cintai" ujar Varo dengan pandangan menatap langit-langit ruangan itu.


"Sebaiknya secepat nya kita tuntasi masalah ini aku akan membantu" ujar Axel menepuk pundak sahabat nya itu.


"Baiklah" ujar Varo.


......................


Tetesan embun pagi di rerimbunan daun membuat suasana kian sejuk apalagi di musim penghujan seperti saat ini, kedua pasangan yang tengah tertidur lelap. Terlihat di kasur berukuran king size itu Varo sedang memeluk perut buncit istri nya dari belakang, sedangkan Rere menghadap membelakangi suami nya. Rere mengeliat dari tidur nya dan menatap lengan kekar suami nya yang memeluk perut buncit nya itu. Rere duduk di atas ranjang lalu mengusap wajah suami nya itu dengan tangan lembut nya, usapan itu membuat Varo terbangun dari tidur nya, dia mengerjapkan mata nya lalu melihat istri cantik nya menyambut dengan senyuman manis.


"Apa kau sudah baikan sayang?" suara Bariton khas orang baru bangun tidur itu.


"Ya, aku sudah tidak apa-apa" balas Rere dengan senyum yang mengukir di wajah cantik nya.


"Ingat kau jangan terlalu stress, kau itu sedang mengandung para penerus keluarga William" tutur Varo mengigatkan istri nya agar tidak terlalu memikirkan masalah itu.


"Baiklah aku mengerti mas" senyum Rere dengan tulus.


Varo kembali memejamkan mata nya dengan tenang dan berusaha kembali tidur, tetapi tiba-tiba perut nya terasa bergejolak dan ingin mengeluarkan sesuatu, Varo berlari menuju toilet dan memuntahkan nya ke closet. Hal itu lah selama lima bulan ini menyerang Varo di setiap pagi syndrome yang menyiksa diri nya itu. Rere yang melihat suami nya keluar dari ruangan dengan wajah pucat itu mengambil minyak angin dan mengusap nya di perut six pack suami nya itu.


"Mas apa kau baik-baik saja?" ujar Rere yang sangat tidak tega melihat keadaan suami nya itu.


Varo yang melihat ke khawatiran istri nya itu menangkup kedua pipi chubby istri nya, yang sudah mulai mengembang itu.


"Hei jangan cemberut, aku setiap pagi seperti ini apa kau lupa" terang Varo menenangkan istri nya itu.


"Tetapi aku masih tidak tega melihat mas, kasian" cemberut gadis itu manja di depan suami nya.

__ADS_1


"Ini juga demi anak kita, dan anak daddy kenapa kalian belum lahir sudah sering menjahili daddy? apalagi nanti sudah brojol mungkin daddy udah jadi bahan jahilan kalian yah rame rame" Varo mengusap perut istri nya seolah-olah sedang berbicara dengan anak nya itu.


"Haha mungkin benar kata mas, mereka suka banget nanti jahilin mas nih" sambung Rere tersenyum.


"Dasar kalian lihat itu sampai mommy kalian ketawain daddy loh" cemberut Varo masih seolah-olah berbicara kepada anak nya itu.


"Udah ayo mas mandi gih, berangkat kerja malas" bujuk Rere menarik tangan suami nya dari kasur dan berdiri.


"Gamau pengen tiduran aja" Varo menenggelamkan wajah nya ke bantal.


"Ayo mas" Rere masih menarik lengan suami nya itu.


Varo berdiri dari tidur nya, lalu tiba tiba Rere merasakan tubuh nya melayang ke udara. Ternyata saat ini Varo tengah mengendong nya ala bridle style menuju kamar mandi.


"Bareng" seringai Varo menuju kamar membawa istri nya.


"Gamau lepasin, nanti malah lama, mas modussss" rengek gadis itu sambil memukul mukul dada bidang suami nya dan menggerakan tubuh nya agar menurunkan nya dari pangkuan.


"Aduh aduh jangan gerak kamu udah berat sayang nanti jatuh" tutur Varo kepada Rere saat ini.


"Jadi mas ngatain aku berat dong?" tatap Rere dengan kesal dalam gendongan itu.


Saat sudah sampai di kamar mandi Varo melepaskan baju nya dan baju istri nya di bath up yang sudah di isi Varo dengan air hangat dan tidak lupa menambahkan beberapa wewangian di dalam air itu, harum wangi yang sangat enak untuk di hirup itu adalah kesukaan Rere, lalu setelah itu dia meletakan Rere di dalam bath up gadis itu masih cemberut.


"Aduh sakit pinggang mas" terang Varo memegang pinggang nya itu setelah meletakan Rere ke dalam bath up.


"Oh gitu Rere mah berat yang ringan mah bibi inem" sambung Rere cemberut.


"Mau ringan juga bibi Inem mas mau nya gendong kamu, satu komplek juga mas gendong di bawa keliling demi Regita Ananda apa sih yang tidak?" goda Varo menatap Rere yang cemberut itu.


"Gombal" Rere memalingkan wajah nya yang bersemu merah itu.

__ADS_1


Hacii...


Bibi Inem yang sedang mengepel mansion itu tiba-tiba bersin dengan mendadak.


'Ada yang ngomong bibi kayak nya yah, moga moga yang di omongin kalo bibi bisa dapat uang di jalan lalu jadi kaya mendadak selevel tuan Varo' batin bibi Inem yang masih melanjutkan mengepal lantai itu, entah apa salah pembantu itu sampai harus jadi korban pembicaraan kedua pasutri itu.


Di dalam bath up itu Rere mengoyang goyang kan badan nya dan merengek karena Varo.


"Mas udah ih, apa tadi Rere bilang mas modus" rengek gadis itu menatap kesal suami nya.


"Sayang jangan bergerak, atau dia akan bangun lagi dan kembali menyerang mu" bisik Varo di telinga gadis itu, bulu kuduk Rere beridiri kala mendengar perkataan suami nya yang sangat vulgar itu membuat diri nya malu.


Glek..


Rere meneguk saliva nya dengan kasar, bagaimana itu bisa bangun lagi? sedangkan tubuh gadis itu sudah lelah dan ingin segera menyelesaikan ritual mandi nya itu segera.


Beberapa menit kemudian...


Setelah menyelesaikan mandi nya Varo memasang jas kerja nya yang bewarna ungu dongker itu seperti biasanya pria itu sangat terlihat tampan. Rere yang juga sudah cantik menggunakan dress motif bunga selutut, semenjak hamil Rere memang suka memakai baju dress yang lebih praktis menurut perkiraan nya.


"Sayang tolong bantuin mas pasang dasi dong" ujar Varo memeberikan dasi itu ke tangan istri nya.


Rere berdiri di depan suami nya dan mulai memasang dasi itu, tetapi itu sangat susah karena jarak tinggi Rere yang hanya se dada Varo.


"Mas nunduk dikit dong, ga nyampe" ujar Rere.


"Pendek" tutur Varo dan menuruti perkataan istri nya itu.


Rere mulai sangat terampil dalam memasang dasi suami nya itu, melihat pemandangan dari mata nya Varo hanya bisa terus tersenyum menatap Rere, bagaimana gadis yang dulu nya yang dia cap dengan pembawa sial sekarang adalah pembawa kebahagian bagi kehidupan nya ini.


"Nah sudah mas" ujar Rere menatap suami nya itu dan tersenyum.

__ADS_1


"Makasih"


Cup..


__ADS_2