Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
M&A(PART KHUSUS)


__ADS_3

Engeline yang sedang berdiri itu mendengar jawaban Michele, seketika mata nya membola kaget, beberapa menit wanita itu terdiam begitu pun dengan semua orang yang ada di sana.


"Sayang kamu?"ujar Engeline dengan suara lirih nya tanda tidak percaya.


"Wah bro Aku sudah menduga, pantas saja di hari pertama club saat Alice datang kau langsung mengincar Alice, bisa-bisa nya kau berbohong di depan kami,"ujar Revian menepuk bahu sahabat nya itu.


Kilat mata Engeline menatap sorot mata Alice yang masih menatap Michele dengan tatapan bingung nya, wanita itu bersiap menyerang Alice tapi di tahan oleh Revian.


"Gadis kecil si@lan, bisa-bisa nya kau melakukan itu hah, dari awal Aku sudah menduga hubungan kalian,"


"Sayang bisa-bisa nya kamu selingkuhin Aku, dasar cewek kecil, bantet, kurcaci jelek, apa bagus nya Dia sampai kau mau sayang, dari mana nya!"teriak Engeline dengan emosi.


Revian menahan tubuh gadis itu lalu mendorong nya jauh agar Engeline tidak mendekati dan menyakiti Alice.


Alice yang masih terdiam mendengar umpatan demi umpatan melayang untuk nya tentu tidak terima, secara Dia tidak ada tidur dengan Michele dan bukan pacar Michele, tapi gadis itu berpikir sudah basah setengah ngapain ga basah semua nanggung.


Bruk..


Michele yang sedang memegang tangan Alice itu di tepis oleh gadis itu, sontak Michele memanggil gadis itu.


"Hei,"ujar Michele melihat Alice yang mendekati Engeline.


Drap... drap...


Dengan langkah kiri dan kanan nya dengan sombong Alice mendekat kepada Engeline, lalu mendongkak menatap wanita yang ada di depan nya itu.


"Tante tahu kenapa Dia milih saya?"


"Tante tahu di mana kurang nya Tante?"


"Ga tahu kan?"


"Aku itu masih muda, cantik, masih fresh dan yang lebih penting,"ujar Alice mengantung kalimat nya lalu berjalan mendekat kepada Engeline dan memegang bahu wanita itu, dengan suara pelan hanya diri nya dan Engeline yang mendengar.

__ADS_1


"Yang paling penting, Aku bukan bekas orang,"ujar Alice dengan suara mengejek nya.


Seketika urat leher Engeline tercetak jelas karena emosi, wanita itu seketika mendorong tubuh Alice, belum sempat Alice terjatuh ada sebuah tangan yang menopang bahu nya dari belakang yaitu Michele.


"Aku ingat kan sekali lagi Jeli, kau pergi dari sini, karena Aku tidak mencintai mu lagi, dan yang lebih jelas nya lagi Aku bukan yang di posisi selingkuh, tapi kau yang dulu main api di belakang ku, royal kau bilang, pacar ku yang sekarang saja tidak pernah meminta apa pun kepada ku, kau itu hanya mata duitan, pergi Aku sekarang miskin, kau puas,"ujar Michele dengan tatapan datar dan mata tajam nya kepada Engeline.


"Cewe br3ngsek lihat aja Lu yah,"ujar Engeline berlalu pergi dari sana dan memasang kembali kacamata nya.


Setelah Engeline pergi, Alice berdiri dengan normal dan menatap kepergian Engeline dengan raut wajah marah dan tangan di kedua sisi pinggang, Michele lalu berdehem.


"Ekhem, bisa jelaskan apa maksudnya dengan tidur bersama,"ujar Michele yang tepat berdiri di belakang Michele.


Deg..


Seketika itu tubuh Alice kembali menegang akibat perkataan Michele yang sangat mendadak menurut nya, gadis itu mengira kalau Michele sudah melupakan kejadian tadi.


Alice mendongkak kan kepala nya ke atas lalu menatap Michele yang menunduk menatap mendepani nya, Alice tersenyum cengegesan memperlihatkan deretan gigi nya.


Grep..


Pria itu berlalu pergi dari sana menarik tangan Alice dan berlalu pergi dari cafe itu, semua orang menatap nya karena mereka memang yang membuat keributan di sana dan menjadi pusat perhatian.


"Oi mana bisa, PJ PJ PJ dulu cok, main kabur aja Lu!"teriak Revian tidak terima kepada kedua orang itu.


Michele tidak mendegar itu dan mencuekan nya saja dan berlalu pergi dari cafe itu, mereka masuk ke dalam mobil tanpa menyalakan mobil itu, Michele menatap tajam ke arah Alice dan gadis itu hanya menduduk memainkan jari nya.


"Well?"tanya Michele dengan tatapan tajam nya.


Ck..


Alice berdecak dengan kesal lalu menatap ke arah Michele, mau tidak mau harus tetap Dia ceritakan ujung-ujung nya udah ketahuan yah mau gimana lagi kan.


"Iya Maaf semalem itu cewe nya Kak Michele nelpon mulu, yaudah Aku kan dengar nya berisik, Aku bilang deh kayak tadi yang di bilang itu tante-tante,"ujar Alice dengan pasrah nya.

__ADS_1


"Hmm, begitu,"ujar Michele meluruskan posisi duduk nya dan bersiap menjalankan mobil nya membelah jalanan ibu kota.


Gadis itu yang melihat reaksi Michele merasa heran, tentu Dia heran karena pria itu tidak marah atau pun apa ekspresi yang Dia tampilkan hanya biasa-biasa saja.


"Kak Michele, kau tidak marah?"tanya Alice dengan kening mengerut nya heran.


"Tidak,"ujar Michele dengan santai nya.


Seketika itu Alice tersenyum, padahal Dia sudah takut akan di marah kan oleh Michele karena asal menjawab telpon nya itu, Alice berusaha memeluk pria itu.


"Aaa makasih ga marah,"ujar Alice berusaha memeluk Michele tapi di tepis oleh pria itu.


Bruk..


Michele mendorong tangan dan tubuh Alice menjauh karena menolak pelukan itu.


"Jangan memeluk ku,"ujar Michele dengan nada tidak suka nya menatap Alice.


"Wait, wait kau saja tadi mencium ku, apa Aku harus marah? Tentu Aku harus marah! Bisa-bisa nya kau mencium ku, saat pacar ku saja Aku tonjok si@lan,"umpat Alice yang baru sadar itu.


Deg.. deg..


Michele yang mendengar ucapan Alice dan baru mengingat kembali kejadian tadi, mengingat ciuman nya kembali dengan gadis kecil itu membuat jantung nya terasa di pompa dengan kuat nya.


'Aku harus mencari wanita lain, tapi kenapa saat Aku mencari, kenapa Dia beraksi kepada gadis kecil ini, Aku harap bukan begini si@l,' umpat Michele kepada diri nya sendiri.


"Hei kenapa kau diam?"ujar Alice dengan kesal nya berteriak kepada Michele.


"Ck kau berisik, kita ke mansion dan ambil ponsel mu habis itu Aku akan mengantar mu ke apartemen,"ujar Michele dengan suara ketus nya.


Seketika itu Alice hanya terdiam mendengar jawaban Michele dengan kening berkerut, tentu Dia merasa kenapa reaksi Michele seperti itu, apa tanggapan nya tidak berbanding terbalik, gadis itu hanya mendengus kesal.


'Lah kenapa Dia yang marah? Bukan nya yang di cium Aku? Bukan nya yang di jebak Aku? Kenapa Dia yang lebih ketus, dasar dokter labil,'

__ADS_1


__ADS_2