Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
S2 BAB 23-KEBERSAMAAN


__ADS_3

Di ruangan gelap itu Clara berdiri tegap dengan tubuh menegang karena ketakutan ketahuan oleh Axel, gadis itu dengan perlahan membalikan badan nya dan melihat tubuh Axel yang hanya memakai boxer itu, seketika dengan wajah memerah dan terkejut Clara langsung berteriak.


"Aaaa" Clara berteriak dengan keras.


Axel yang mendengar itu hanya menatap kesal kepada Clara, pria itu sebenarnya ingin pergi tidur terlebih Axel kalo tidur hanya memakai boxer nya saja, dengan kesal Axel mendekat kepada gadis yang masih berteriak dan memejamkan mata nya itu, dengan kesal Axel menutup kuat mulut Clara dengan tangan nya.


"Kau itu berisik!" ujar Axel dengan kesal kepada Clara.


Clara yang mulut nya di bungkam itu berusaha mencoba untuk memberontak karena kehabisan nafas, tidak tahu yang gadis itu bicarakan hanya terdengar suara tidak jelas karena Axel masih menutup mulut nya.


"Mmmm"


"Mulut mu itu sangat cempreng, Aku sangat kesal mendengar teriakan mu setiap hari" ujar Axel menatap gadis itu yang masih berusaha melepaskan tangan Axel dari mulut nya.


Tapi apalah daya tenaga wanita pasti akan kalah dengan pria, karena Clara terus memberontak dan mengerak gerakan tubuh nya Clara yang berniat nya ingin mencubit pinggang six pack pria itu seketika salah sasaran, Clara malah mencengkram sesuatu yang harus nya tidak Dia sentuh.


'Shi*t, junior jangan bangun' batin Axel.


Axel yang merasakan milik nya tiba-tiba di pegang itu langsung melepaskan bungkaman pada mulut Clara. Axel berlalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Clara yang masih diam mematung, menatapi tangan nya yang memegang sesuatu tadi.


"Pi pi pisang nya gede banget" gumam Clara dengan wajah kaget dan tidak percaya nya.


Clara yang seperti ini tentu paham apa yang Dia rasakan tadi, bukan berati Dia adalah gadis polos mengenai hal itu.


'Anjir punya pak Axel ga normal' ujar Clara menatap pintu kamar mandi itu.


Clara dengan ketakutan berlari keluar kamar Axel dan langsung menuju kamar nya, dengan langkah cepat Clara mengunci pintu kamar itu dengan cekatan.


"Niat nya mau ngomong, dari niat mau ngomong jadi mau kerjain Pak Axel, gajadi ngerjain malah ketahuan, kena karma nya megang anu nya anjir, malu banget Gua mau tarok di mana ini muka, b*ego Lu Cla, b*ego" umpat gadis itu kepada diri nya sendiri yang meratapi kebodohan nya itu.


'Jangan sampai itu Duda mikir Gua sengaja'


Sementara itu Axel di kamar mandi terpaksa bersolo karir melepaskan hasrat nya karena si junior yang bangun.


"Ayo lah junior kenapa kau sangat lemah, Dia hanya memegang nya, sial ini tidak pernah terjadi sebelumnya" umpat Axel yang kesal karena Clara mampu membuat nya terbangun hanya karena menyentuh milik nya.


Pagi pun mulai menampakan sinar nya, kejadian semalam seperti hanya angin lalu bagi Axel dan Clara, atau mungkin tidak karena Clara saat ini hanya bisa mendudukan wajah nya sambil menyuapi Alisa di meja makan, hari ini adalah weekend Alisa tidak sekolah begitu pun Axel yang tidak masuk kantor.


'Kejadian nya sih semalem, malu nya yang ga ilang ilang' batin Clara.


Axel yang merasakan seseorang menatap nya, hanya bisa berusaha memasang wajah sedatar mungkin, ingin sekali pria itu bertanya, kenapa gadis itu sangat bodoh dalam bertindak.


"Mommy, udah kenyang" ujar Alisa menatap Clara yang masih menyodorkan sendok ke depan wajah nya.


"Eh udah? Yaudah kamu main dulu yah, kakak mau beresin piring nya" ujar Clara membersihkan meja makan dan mencuci piring.


Saat gadis itu asyik mencuci piring tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak nya dengan pelan, Clara yang merasakan itu menatap ke belakang dan menatap Axel.


"Pak Axel?" tanya Clara dengan bingung menatap pria itu mengikuti nya ke dapur.


"Ikut, Saya ingin bicara hal yang penting" ujar Axel berlalu pergi dari dapur itu.


"Jangan bilang hal kemarin" gumam Clara menatap kepergian Axel dengan malu.


Clara pun mencuci tangan nya dan bergegas mengikuti Axel yang menuju ruang kerja nya itu, pria itu duduk di depan kursi nya dengan Clara yang berdiri seolah olah seorang guru sedang memarahi anak murid nya.


"Kau"


Suara Axel terpotong karena Clara terlebih dahulu berbicara dengan cepat.


"Pak Axel Saya kasih tahu yah, yang semalam itu Sa sa saya tidak sengaja menyentuh itu" ujar Clara dengan canggung nya berkata itu.


Axel yang mendengar penuturan Clara hanya mengerutkan kening nya dengan heran.


"Apa maksud mu? Saya tidak menanyakan itu" ujar Axel kepada Clara dengan menyeringai.


Clara yang mendengar penuturan Axel seketika merasa heran, ternyata pria di depan nya dama sekali tidak membahas hal itu.


"Pak Axel saya ingin gaji saya di kurangi saja, Saya hanya menjadi babysister itu terlalu banyak nanti orang mikir saya ngepet lagi" ujar Clara mengalihkan topik pembicaraan itu.


"Apa kamu yakin? mending kamu simpan aja, buat kebutuhan lain dan hal mendesak di panti untuk adik panti mu" tutur Axel menyarankan hal itu.


Clara yang merasa hal itu benar seketika hanya diam dan mendudukan kepala nya karena bingung harus menolak atau tidak.


"Baiklah, Saya juga memanggil kamu kesini bukan tanpa alasan, saya hanya ingin memberitahu untuk beberapa bulan ke depan saya akan sering ke luar negri untuk melakukan proyek perusahaan dan survei secara langsung, Saya memberitahu mu hal ini karena Saya ingim kamu selalu dan menjaga Alisa, dulu kalo Saya keluar negri anak Saya hanya tinggal dengan Bibi Ani dan Roy, tapi kali ini saya akan membawa Roy, Saya ingat kan jaga Alisa dengan nyawa mu!" tutur Axel dengan panjang lebar menjelaskan hal itu.


"Jadi Bapak jarang di rumah?" ujar Clara memastikan sekali lagi ucapan Axel.


"Iya" ujar Axel menatap heran gadis itu.


Clara hanya tersenyum tanpa dapat diartikan apa yang Dia sampaikan dari ekspresi nya itu.


"Seperti nya Kau sangat senang" ujar Axel melirik Clara dengan tatapan kesal nya.


"Senang? tidak mungkin, sumber uang ku akan pergi, Aku takut kalo bapak kenapa-kenapa uang ku akan hilang, eh tapi jangan sampai, bapak harus hati-hati karena Saya tidak mau melihat Alisa menangis dan memberikan tatapan sendu nya!" tegas Clara menatap pria yang duduk di depan nya.


'Apa Dia mengkhawatirkan Aku, atau tidak' batin Axel dengan heran.


"Tentu, Kau boleh pergi" ujar Axel kepada Clara.


Siang ini Clara berencana akan pergi dengan Alisa ke mansion William untuk bertemu sahabat nya Rere, atas izin tuan Axel Arnolda si kecil Alisa pun juga di izinkan untuk pergi bersama nya karena Axel juga ingin pergi ke kantor untuk mempersiapkan dokumen penting. Clara, Alisa dan Anggun saat ini datang bersama ke mansion milik William, mereka yang sudah mengetahui atas kehamilan sahabat nya itu, hari ini berniat untuk datang menemui Rere.


Di depan Mansion William.


"Jadi ini lumah teman Mommy?" kata Alisa bertanya kepada Clara.


"Iyah Alisa ini rumah teman kakak" kata Clara yang menjawab pertanyaan Alisa.


"Alica tau ini lumah oma Shinta, disana uga ada Opa Adel sama Om Valo uga Tante Lele" kata Alisa yang berkata panjang lebar.


Anggun yang sedari tadi hanya diam bingung apa yang di bicarakan oleh Alisa ia tidak mengerti sama sekali bahasa gadis kecil itu.


"Astaga ini bocil ngomongin apa sih" kata Anggun yang menatap bingung kepada Alisa.


Hanya Axel, Clara dan Rere saja yang paham apa yang di katakan oleh alisa itu.


"Astaga jadi Alisa udah kenal dong sama teman kakak, itu tante Rere yang Alisa bilang tadi temen nya kakak loh" kata Clara yang antusias bercerita kepada gadis itu.


"Tante lele?" kata Alisa sekali lagi.


"Iyah itu" kata Clara menepuk-nepuk tangan nya seolah olah melakukan reward kemenangan atas sesuatu yang diketahui Alisa.


"Rere bukan Lele" kata Anggun yang sedikit gemas dengan cara bicara Alisa yang belum jelas itu.


"Tante Anggun malah malah mulu kenapa sih?" kata Alisa kesal menatap Anggun.


"Ga jadi marah deh, Alisa lancar manggil nama kakak" kata Anggun memeluk erat gadis itu dengan kencang.


Setelah pembicaraan kecil itu mereka sampai di ruang tamu dan duduk di sana. pelayan mengantarkan minuman dan cemilan kepada sahabat nona mereka itu. Rere datang dengan senyum kepada teman teman nya itu dan duduk di samping anggun.


"Tante Lele" teriak Alisa menghampiri Rere.


"Eh Alisa sama siapa kesini?" tanya Rere yang bingung menatap sekeliling nya tetapi tidak ada Axel yang menemani gadis itu.


"Aduh Re, ini nyokap nya Alisa di depan kamu nih" sindir Anggun kepada Clara.


"Ha ha, serius Cla kamu sama Pak Axel hem hem hem" kata Rere menatap penuh arti kepada Clara.


Clara yang di goda oleh teman teman nya itu hanya bisa cemberut dan menatap kesal.


"Enak aja, ga yah, gini gini aku mau nya sama yang perjaka ha ha" tawa Clara dengan lepas tanpa menghiraukan orang sekitar nya.


"Yakin nih, ntar kecantol cinta nya Pak duda loh" kata Anggun menyikut-nyikut lengan Clara sambil tersenyum.


"Yakin deh, jilat ludah aku sendiri dong kalo beneran ih gamau deh" kata Clara sambil memasang wajah merinding.


Alisa yang tidak memahami pembicaraan orang dewasa itu memilih pergi mencari Shinta untuk bermain bersama nya tanpa disadari ketiga gadis itu. Alisa menaiki tangga dengan berhati-hati Alisa celingak celinguk dan berlari ke kamar Shinta.


"Oma Alicaa datang" ujar gadis itu mengetuk pintu kamar Shinta dengan kencang.


Shinta yang mendengar itu segera membuka pintu kamar nya, dan terlihat tubuh kecil gadis itu menatap diri nya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Cucu cantik Oma, sama siapa kesini sayang" ujar Shinta mengendong gadis itu ke dalam pelukan nya.


"Sama Mommy Oma, kata Mommy dicini juga temen Mommy tinggal, tante lele itu temen Mommy Alica" ujar gadis itu menjelaskan kepada Shinta.


"Siapa teman Rere yang jadi Mommy Alisa, sejak kapan?" ujar Shinta dengan bingung.


"Nama Mommy Clara, Mommy cantik Oma" ujar Alisa dengan antusias bercerita panjang lebar mengenai hal yang menurut pikiran nya.


'Aku kira Axel sudah menikah, ternyata Alisa cuman memanggil Mommy, ya awas saja jika pria itu menikah tidak mengundang Aku!' batin Shinta dengan kesal.


Shinta dan Alisa bermain bersama dengan senang, kali ini Alisa bermain dan berlari menuju ke arah kamar Rere dan Varo, gadis kecil itu sengaja melihat kedua pasutri tengah berciuman karena pintu nya sedikit terbuka. Alisa yang berdiri dan begitu juga Shinta yang baru datang sangat senang menguping pembicaraan menantu nya itu, Alisa yang berdiri tiba-tiba terjatuh karena tubuh nya terdorong pelan.


Brak


"Atit Oma" kata Alisa yang berusaha di berdiri kan oleh Shinta itu.


"Alisa kok disini, mana Daddy Axel?" kata Varo yang bertanya kepada anak sahabat nya itu.


Wlisa tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah bertanya kepada Varo tentang apa yang barusan ia lakukan.


"Om Valo ama Tante Lele tadi kok cium cium boleh?" kata gadis kecil bertanya.


"Boleh dong, kan Om Varo suami nya Tante Rere. om Varo Daddy nya tante Rere mommy nya" varo menjelaskan itu agar Alisa lebih paham.


Clara datang dan melihat ternyata ada Alisa disana yang tengah berbincang-bincang.


"Alisa" kata clara yang khawatir itu.


"Mommy, nanti kiss daddy juga kayak om valo ama tante Lele yah" kata gadis itu dengan wajah polos nya.


Clara merasa bingung, ia tidak tau harus menjawab apa dari pertanyaan gadis kecil itu.


shinta yang mendengar perkataan gadis itu merasa lucu, dan tertawa.


"Ha ha Alisa sayang, itu kak Clara ga bisa kiss sama daddy kamu, kan mereka belum nikah kayak tante Rere sama om Varo" kata Shinta menjelaskan diiringi tawa nya.


"Ooo" mulut gadis itu melebar mengatakan hal itu,sambil mengangguk.


Gadis itu mengajak Clara pergi keluar kamar, dan menarik nya menuruni tangga. Shinta yang tidak tau lagi dengan kelakuan anak sahabat Varo itu hanya bisa tersenyum simpul dan menggelengkan kepala nya.


Clara yang di tarik turun itu tidak tau di bawa kemana oleh anak kecil itu.


"Alisa kita mau kemana?" kata clara yang masih bingung kemana ia di tarik.


"Mommy hp Alica mana" kata Alisa meminta hp nya itu kepada Clara.


Clara mengeluarkan HP milik gadis kecil itu dan memberikan kepada nya, gadis itu nampak menelpon seseorang.


Tut Tut


Telpon tersambung.


"Dadyyyy!!!!!" teriak gadis itu dari seberang telpon.


"Astaga Alisa, jangan berteriak. telinga daddy bisa sakit" kata Axel yang menjauhkan ponsel nya saat Alisa berteriak itu.


"Daddy ayo jemput Alisa dan mommy di rumah om valo ya" kata gadis itu.


"Jangan panggil Dia Mommy mu, Daddy sudah bilang panggil dia kakak!" kata Axel dengan tegas.


Ups


Alisa menutup mulut nya itu, ia tau daddy nya tidak suka bahwasan nya Clara ia panggil dengan sebutan Mommy.


"Daddy sedang di kantor, tidak bisa" kata Axel yang sedang fokus dengan pekerjaan nya itu.


"Daddy menikah sama kak Clara otey" kata gadis itu dengan polos.


Clara yang mendengar itu, seketika kaget dan bercampur malu.


...----------------...


Mereka bertiga pergi dengan satu mobil, menggunakan mobil Anggun. mobil mini cooper milik Anggun itu membelah jalanan ibu kota yang rame. Anggun sekarang memang sudah di izinkan kedua orang tua nya untuk mengendarai mobil. jalanan yang terasa sangat familiar bagi mereka bertiga. membuat ketiga gadis itu bernostalgia kembali saat mereka naik angkot untuk pulang sekolah.


"Jadi nostalgia ga sih" kata Rere.


"Ha ha iyah, inget ga re, di jembatan ini si Clara nangis-nangis di tolak cowo" kata Anggun menimpali perkataan Rere.


"Ha ha inget astaga lucu banget" kata Rere menepuk-nepuk kursi mobil yang menahan sakit perut akibat tertawa.


Clara yang dibicarakan itu hanya memperlihatkan wajah kesal dan cemberut.


"Itu masa lalu buruk ku, jangan di ingatkan lagi yah" kata Clara yang sangat kesal kepada sahabat nya itu.


Rere,Anggun dan Clara serta Alisa sampai di sebuah lapak makanan bakso di depan sekolah pinggir jalan itu. Tempat bakso itu mulai sepi karena pelanggan rata rata datang siang atau malam hari disana. Anggun memarkirkan mobil nya di tepi jalan. mereka bertiga berjalan masuk ke dalam toko yang hanya di tutupi dengan terpal itu. orang orang yang pernah makan di pinggir jalan pasti tau ga sih bentuk nya gimana yah.


"Mang ucup" serempak gadis bertiga menyapa tukang bakso.


Mang ucup yang sedang mencuci piring itu, seketika di kagetkan dengan suara yang menyapanya dari belakang.


"Eh monyet monyet" titah mang ucap dengan latah itu.


"Ha ha mang ucup ga pernah berubah nih yah" kata Clara tertawa puas melihat Mang ucup yang kaget itu.


"Mang bakso nya 3 mangkok yah kayak biasa, masih inget kan" kata Anggun menimpali.


"Aduh neng Anggun, neng Clara sama neng Rere juga udah lama nggak mampir ke tempat mamang duduk ayo duduk" kata Mang ucup dengan ramah kepada pelanggan setia nya itu.


"iyah nih udah lama Mang, makanya jangan lupa di diskon yah" kata Rere menimpali percakapan itu.


Setelah menunggu beberapa menit bakso mereka bertiga pun di sajikan, begitu pun dengan alisa yang ikut makan dengan mereka bertiga.


"Enak mommy" kata gadis itu memberikan dua jempol nya kepada Clara.


"Iyah dong" kata clara yang juga terus mengunyah bakso itu dengan lahap.


"Aduh neng clara anak nya kok udah gede aja, kapan hamil nya!" kata mang ucup wajah raut kebingungan itu.


Huk Huk


clara yang lagi lagi dibicarakan itu seketika tersedak bakso.


"Enak aja ngadi ngadi yah mang ucup kalo ngomong minta di goyang engkol nih" kata clara dengan kesal.


"Yah gimana neng, tadi adek nya manggil mumi katanya, kalo ga salah mamang tau mumi itu artinya ibu kan?" kata mang ucup yang menebak nebak itu.


"pftt ha ha, mang jangan bikin bengek dong rere lagi makan bakso nih" kata rere yang tertawa dengan lepas.


"Bukan mumi mang, tapi mommy" kata Anggun mengoreksi.


"iyah itu maksud mamang" kata mang ucup membenarkan perkataan itu.


"Ini anak nya Pak Axel mang, mantan kepsek tahun ini. baru keluar kan orang nya" kata Clara menjelaskan.


"Oalah begitu toh" kata Mang Ucup yang baru paham.


"Yang mau punya anak bukan Clara, tapi Rere nih mang" kata Anggun menimpali perkataan mang ucup.


"Aduh neng Rere, pantesan agak gendutan, congralution neng Rere yah" kata mang Ucup.


"Mang kalo ga bisa inggris jangan ngomong beneran, bengek aku ini" kata Anggun menepuk nepuk meja makan itu.


"Haha ha tekyu mang Ucup " kata rere ikut menirukan cara bicara mang ucup itu.


Setelah selesai makan bakso itu. mereka duduk dan berbicara sebentar dengan Mang ucup sekedar bernostalgia masa masa SMA. caelah nostalgia padahal baru beberapa bulan nih lulus nya. Ketika hari sudah mulai gelap, mereka memutuskan pamit kepada mang ucup.


Clara melihat dari jauh seseorang yang seperti nya terus menatap rere itu, dua pria itu turun dari motor dan mengeluarkan pisau dan hampir menusuk perut Rere.


Bruk


"Rere anak kamu gapapa kan" kata Clara dengan khawatir akibat ia mendorong Rere ke aspal dan terjatuh.

__ADS_1


Seketika tubuh Rere bergetar hebat kala melihat perut sahabat nya itu mengeluarkan darah yang begitu banyak. Darah itu terus mengalir, Rere seketika linglung dan tidak tau harus berbuat apa dan begitu juga dengan Anggun. Para penjahat itu dilumpuhkan oleh kedua bodyguard milik Rere, mereka sudah berusaha menggapai dengan cepat ke tempat nona mereka berada, tetapi dengan jarak yang cukup jauh dan keadaan yang mereka kira kondusif dan aman mereka tidak terlalu dekat dengan nona nya itu agar tidak merasa risih. Ke termenungan kedua sahabat Clara buyar saat Alisa berteriak dan menangis histeris melihat keadaan Clara yang bersimbah darah itu.


"Mommyy!!!!!!" teriak gadis itu dengan sangat kencang sampai sampai membuat beberapa warga yang tinggal disana berdatangan dan melihat dari jauh.


"Hiks hiks"


"Mommy bangun, jangan tinggalin Alica lagi Mommy, bangun Mommy jangan bobo" gadis itu menangis dengan pilu ia memegang perut Clara yang mengeluarkan darah itu gadis itu seolah-oleh ingin memasukan kan kembali darah yang terus mengalir keluar itu.


"Jangan kelual otey, jangan nanti mommy sakit" kata gadis itu dengan khawatir dan terus memegang perut Clara, sehingga membuat baju Alisa juga terkena darah milik Clara.


"Apa yang kalian lihat tolong panggilkan ambulans untuk teman ku" teriak Anggun kepada orang orang yang melihat mereka dan menjadikan tontonan.


"Baik mbak"


Seorang warga pun memanggil ambulans.


Clara sudah tidak sadarkan diri lagi, gadis itu sudah terlelap ke dalam alam mimpi nya dengan tenang. ia tidak tahu bahwasan nya saat ini orang orang tengah mengkhawatirkan nya.


Ambulans belum juga sampai, alisa, anggun dan rere masih setia menemani clara yang terbaring itu. Alisa mengambil ponsel nya yang terjatuh dari saku baju milik Clara dan kembali menelpon nomor yang satu satu nya yang ia miliki.


Tut... Tut


panggilan tersambung..


"Daddy mommy tolong"


"jangan panggil Dia mommy!" kata Axel kembali.


Kali ini gadis itu tidak mendengarkan daddy nya itu, saat ini ia sangat ketakutan melihat bagaimana Clara di tusuk oleh seseorang yang tidak ia kenal di depan gadis kecil itu.


"Daddy!! mommy beldalah mommy banyak dalah mommy tusuk picau daddy, daddy kecini! cepat kecini daddy hiks hiks, daddy alica takut Mommy tinggal alica lagi. cepat bawa Mommy Daddy" Perkataan Alisa terdengar sangat pilu bagi semua orang sekitarnya yang mendengar perkataan anak kecil itu.


Axel langsung berdiri ketika Alisa mengatakan sesuatu hal yang mengejutkan itu. telpon milik Alisa di minta oleh Anggun agar anggun bisa berbicara lebih jelas.


"Clara dalam perjalan RS milik tuan varo, dia di tusuk orang pak, kalo bapak ingin menjemput Alisa datanglah kesana" anggun mematikan ponsel itu.


pip


Karena ambulans sudah sampai dan mengantarkan mereka ke rumah sakit.


Saat ini Axel sudah berada di rumah sakit, Axel yang memeluk putri nya itu, dan ingin membawa nya untuk pulang dan berganti pakaian. tetapi gadis kecil itu menolak dengan keras sebelum melihat clara bangun dan berbicara kepadanya.


"Hiks Daddy kapan Mommy bangun nya, Daddy panggil doktel lagi, suruh bangun Mommy nya yah" kata gadis itu dengan wajah yang sudah di penuhi air mata.


"Mommy bentar lagi bangun, kita pulang dulu yah. nanti balik lagi" kata Axel membujuk anaknya itu.


"Ngga au, mau nya Mommy bangun" kata gadis itu yang terus meminta hal itu kepada Axel.


'kenapa alisa sangat sedih seperti ini, apa yang gadis itu berikan sampai anak ku terikat pada nya dasar gadis kecil cepatlah bangun, aku tidak ingin melihat alisa menangis terus.' batin Axel memperhatikan pintu ruang UGD itu.


Axel dan Alisa memutuskan untuk mengambil bagian menjaga Clara di rumah sakit, karena memang Alisa tidak mau sama sekali pulang, Keesokan hari nya ketika suasana sudah kembali kondusif, Clara terbangun dari tidur panjang nya, ia mengerjapkan mata nya dan mengedarkan seluruh pandang nya itu, ia melihat di sofa ada axel yang tidur dengan posisi duduk dan Alisa yang tertidur di paha sang daddy nya itu.


'seperti nya aku di rumah sakit' batin clara.


ia merasa kerongkongan nya sangat kering dan haus. ia berusaha duduk, tetapi ia merasakan sakit di bagian perut sebelah kiri nya.


'akh' ringis clara yang memegang perut nya yang terasa ngilu dan perih bagi dirinya.


Alisa yang sangat sensitif dengan suara itu, seketika bangun dan mengerjapkan mata nya ia melihat clara sudah bangun dan berusaha untuk bersandar.


"mommyyy!!!" teriak gadis itu turun dari pangkuan axel dan berlari mendakati kasur pasien itu.


"Alisa kenapa kamu ga pulang sama daddy?" tanya clara kepada gadis kecil itu.


"ngga au, alica mau nya liat mommy bangun dulu" kata gadis kecil itu berusaha naik ke atas kasur, di ruangan itu kasur pasien memang di disein berukuran king size seperti kasur tidur pada umumnya di rumah, namanya juga VVIP bebas.


"Alisa boleh minta tolong ambilin kakak air ga, jauh soal nya" kata clara seolah olah mengambil air dengan tangan nya yang tidak terjangkau itu.


"Siap bos" kata Alisa.


ia bersusah payah turun dari kasur itu dengan badan kecil dan mungil nya yang bontot. dan berusaha menggapai nakas tempat air, karena tidak sampai Alisa berusaha memanjat.


"eh udah alisa, nanti aja minum nya, nanti jatuh" kata clara yang mulai khawatir itu.


prankk


Gelas itu terjatuh ke lantai gadis kecil itu hampir terjatuh, dan untung saja clara dapat menangkap tubuh kecil nya, tetapi clara amat merasakan sakit di bagian perut nya itu.


'duh seperti nya jahitan nya kebuka nih' batin clara yang menahan sakit.


"Alisa!" axel terbangun dan mengambil alisa dari dekapan clara itu.


"apa kau tak apa apa? apa yang kalian lakukan? kenapa kalian tidak membangunkan ku saja? dan apa yang terjadi pada luka mu, liat itu mengeluarkan darah lagi, astaga" Axel langsung memencet tombol darurat untuk memangil dokter itu.


Tidak berapa lama kemudian, dokter datang dan menangani clara.


"Sebaiknya anda jangan bergerak dulu nona clara, ini bisa berakibat pada diri anda sendiri" terang dokter.


"baik dok" kata clara.


Dokter itu pergi dan meninggalkan mereka bertiga. Axel menatap Clara dengan tatapan yang kesal, di pangkuan nya duduk Alisa yang terus memegang tangan Clara yang terpasang infus itu.


'kenapa pak axel melihatku seperti, aku jadi takut' batin clara.


"mommy ndakk cakit lagi kan?" kata Alisa membuyarkan lamunan kedua orang tersebut.


"iya sudah tidak kok Alisa, makasi ya sudah jagain kakak" Kata Clara mengusap kepala gadis kecil itu.


Karena hari sudah pagi jadwal sarapan para pasien selalu diantarkan ke ruangan itu pukul 07.00 wib.


tok.. tok


suara pintu terbuka dari luar, menampakan perawat mengantarkan banyak menu makanan berbagai jenis itu, ia meninggalkan troli makanan itu di ruang clara.


"Astaga apa ini makanan untuk pasien? kalo begini aku juga betah lama lama di rumah sakit" kata clara menatap banyak makanan enak itu.


"dan apa kau mau sakit dan di tusuk berulang-ulang biar mendapatkan makanan ini" timpal axel degan raut wajah yang tidak dapat diartikan.


"eh ga gitu juga konsep nya pak" kata clara yang menggaruk tenguk nya itu.


"kamu makan bubur aja, ini semua buat saya sama alisa" kata axel.


Seketika harapan clara untuk makan, makanan enak pun pupus dengan perkataan yang dilontarkan axel.


"mommy jangan cedih, alica cuapin yah, boleh yah" kata gadis itu mengambil mangkuk yang berisi bubur dengan tangan kecil nya dan naik ke atas ranjang.


clara yang tidak tega melarang alisa karena dia sangat antusias hanya mengaggukan kepala nya tanda setuju.


"mommy maman banyak banyak bial cepet cembuh, iya kan daddy" kata gadis itu bergantian menatap clara dan axel bersamaan.


"iya" kata axel dengan datar.


Gadis kecil itu menyuapi clara dengan susah payah, tangan yang belum kuat itu menyuapi clara belepotan kesana kesini, tetapi clara tidak memarahi nya dan malah tertawa melihat cara gadis itu menyuapi nya.


"eh ini hidung kakak bukan mulut ha ha" kata clara saat alisa hampir memasuk kan bubur itu ke dalam hidung nya.


"eh iya calah" kata gadis itu yang kembali menyuapi clara.


axel yang melihat pipi dan tepian mulut clara penuh dengan bubur itu reflek mengambil tisu dan mengelap pipi gadis itu, saat axel melakukan itu tiba tiba mata mereka bertemu.


Deg deg deg


suara detak jantung terdengar berpacu dengan cepat, pipi clara tiba tiba bersemu dengan merah.


"Daddy jangan lama liat nya, tangan daddy ngalangin alica nyuapin mommy ih" kata Alisa menyingkirkan tangan axel dari pipi clara.


Mereka berdua nampak canggung dan melirik satu sama lain.


"tadi wajah mu dipenuhi bubur, aku hanya membantu membersihkan nya jangan salah paham" tegas Axel membuang wajah nya.


"iya Pak terima kasih" kata Clara.

__ADS_1


__ADS_2