
"Oh Elina, kau juga di sini,"ujar Michele memasang raut wajah datar nya kepada wanita itu.
Elina yang memakai topi pantai dan bikini dengan rok pendek yang memamerkan paha putih nya itu, tampak tersenyum ke arah Alice dan Michele.
"Hei juga Alice, Aku di sini ikut dengan Papa karena ada urusan El,"ujar wanita itu menatap Michele yang menatap nya datar.
Seketika Alice menaikan satu alis nya ke atas, lama-lama alarm merah dalam otak nya mulai menampakan kewaspadaan kepada wanita itu terlebih di mana pun mereka berada itu sangat kebetulan.
"Ini sangat kebetulan bertemu kalian di sini, apa kalian sedang liburan juga?"tanya Morelina dengan senyum manis nya kepada sepasang pasutri itu.
'Bod0h, b@bi pun tahu tidak ada kebetulan yang setepat ini, dasar medusa Aku seperti nya mulai tahu akal-akalan mu,' batin Alice dengan segala caci maki nya.
Alice mengengam tangan Michele, lalu tersenyum ke arah Morelina yang menatap mereka dengan senyum tulus atau palsu nya entahlah tidak ada yang tahu.
"Haha ini memang sangat kebetulan Kak Elina bukan? Apa kau berenang, kalau begitu kami pamit dulu,"ucap Alice menarik tangan suami nya pergi dari sana.
Mereka akhirnya pergi menuju stand tempat penjual minuman, dengan senyum senang Alice segala jenis menu minuman yang membuat nya ingin mencoba nya satu-satu.
"Sayang, Aku ingin mencoba semua nya boleh?"tanya Alice dengan antusias menatap Michele yang menatap nya dengan tatapan mengeleng.
"Jangan, jaga kesehatan mu,"ucap Michele mengatakan itu memperingati sang istri.
"Ish gini deh dapat suami dokter,"ujar Alice dengan mendengus kecil menatap Michele yang mengatakan itu.
Saat mereka tengah berbincang dan berusaha membujuk Michele untuk mengizinkan nya membeli minuman semua nya agar bisa mencicipi nya satu persatu Morelina datang dengan melengang berdiri di samping Michele.
"Aku bisa membelikan nya semua untuk mu Al,"ucap wanita itu mengeluarkan kartu Atm nya kepada penjual.
Lagi-lagi Alice menahan kekesalan nya entah kenapa Dia yang berpikir Morelina adalah wanita terhormat dengan segala atitude yang terjaga di buat Alice sekarang merasa jengah melihat kesombongan nya.
__ADS_1
'Suami ku bukan tidak mampu membeli nya, Aku hanya meminta izin betina si@lan,' ucap Alice menahan amarah nya.
"Haha tidak terimakasih kak, sayang Aku akan memilih satu saja sekarang boleh?"tanya Alice menatap Michele.
"Boleh, jangan terlalu banyak mengonsumsi yang manis-manis yah,"ucap pria itu mengusap surai rambut Alice dengan senang.
Morelina yang melihat adegan romantis suami istri di depan nya itu seperti nya hanya mendengus kesal, Dia mengengam kuat kartu Atm nya lalu memasukan nya kembali ke dalam tas dengan kasar.
Kring.. kring..
Saat Alice sedang menikmati minuman nya itu, Morelina menerima panggilan yang membuat Alice hanya diam penasaran, tapi Michele pria itu hanya fokus kepada Alice sambil menatap wajah nya adalah sebuah kecanduan tersendiri bagi Michele.
"Halo Papa, benarkah? Mmm coba Papa tanyakan langsung kepada El,"ucap wanita itu terpotong karena memang panggilan nya tidak terdengar.
Wanita itu berjalan mendekati Michele yang sedang berdiri menghadap kepada Alice, wanita itu menepuk bahu Michele sehingga membuat si pemilik tubuh memutar badan nya.
"Apa?"tanya Michele dengan heran.
"Tapi itu bu---,"ucap Michele seketika terpotong merasakan Alice yang menahan tangan nya agar tidak melanjutkan pembicaraan nya itu.
'Oh sepertinya Aku mulai paham posisi nya, apa Dia mengira kalau Aku mendekati suami ku tercinta karena harta nya, tenang Al bersikap lah berkelas kau ini putri Alferoz,' batin Alice tersenyum miring.
Dengan wajah seribu berlapis pembohongan nya Alice dengan tersenyum ramah mengengam tangan Morelina lalu berkata.
"Tentu kakak bisa tinggal di villa kami sampai besok, Aku juga takut kakak kenapa-kenapa, tidak ada alasan untuk menolak teman suami ku,"ucap Alice dengan senyum polos nya.
Senyuman polosan itu hanya sebuah topeng bagi Alice yang tidak dapat di prediksi oleh Morelina.
'Hah gadis b0doh semudah ini?' batin Morelina dengan senyum iblis nya yang tidak dapat terbaca.
__ADS_1
Pria itu menerima ponsel Morelina memastikan jika memang benar kepala dokter Alferoz itu yang menelpon putri nya sendiri meminta bantuan.
"Pak kepala, baiklah tidak apa-apa,"ucap Michele mengatakan itu dan memberikan ponsel nya kembali kepada Morelina.
Hari yang memang sudah mulai larut memutuskan mereka untuk pergi dari sana, dengan mobil yang di bawa Michele dan Morelina yang duduk di belakang, hanya pembicaran suami istri yang dominan itu.
"Haha sayang tadi kak ipar menanyakan apa kau memperlakukan ku dengan baik,"ucap Alice yang melihat pesan dari Anggun yang sangat perhatian kepada diri nya itu.
Hal itu yang membuat Alice sangat menyukai istri dari Reno itu, wanita itu sangat baik dan memanjakan diri nya seperti adik nya seperti.
"Istri Reno memang sangat baik kepada mu,"ucap Michele mengusap kepala Alice dan sesekali mencium tangan yang Dia gengam.
Wanita yang duduk di belakang itu hanya diam, bingung seperti apa harus ikut dalam pembicaraan mereka.
"El, apa Mom dan Dad baik-baik saja?"tanya Morelina mengatakan itu.
Seketika Michele mengerutkan kening nya mendengar Elina yang sok akrab walaupun mereka memang sering mengikuti acara relawan satu tempat, atau pun satu RS itu tapi menanyakan itu seolah olah menjelaskan mereka sangat akrab.
"Kau aneh, kau hanya bertemu orang tua ku sekali saat di RS apa kau seakrab itu?"tanya Michele dengan heran kepada wanita itu.
Alice yang mendengar itu hanya bisa menahan tawa nya memasang wajah datar agar tetap tidak tertawa mendengar savage dari suami nya itu kepada wanita yang seperti nya berusaha menjadi hama.
"Eh umm Aku hanya memastikan,"ucap Elina yang seketika canggung mendengar jawaban Michele.
'Haha haduh jika Aku jadi kau, Aku tidak akan menjadi wanita murahan yang mengharapkan suami orang dan mempermalukan diri sendiri,' batin Alice menatap Morelina dengan tatapan mengejek yang tidak di sadari wanita di belakang itu.
Mobil milik Michele akhirnya sampai di villa Alferoz itu, mereka turun di ikuti langkah kaki Alice dan Michele yang berjalan di depan Elina.
'Villa yang sangat mewah, Michele memang kaya,' batin Morelina dengan takjub.
__ADS_1
Langkah mereka di sambut oleh para penghuni lain yang sudah tampak dulu pulang itu.
"Aunty, Uncle kemana jalan-jalan nya kok lama,"