
2 bulan kemudian.
Di ruang keluarga utama mansion William terlihat beberapa orang sedang berkumpul disana, setelah kejadian dua bulan yang lalu yang membuat keluarga William sedikit terguncang oleh keberadaan hama yang ingin menghancurkan keluarga mereka, saat ini sudah kembali normal seperti semula, hari hari kembali di lewatkan dengan canda dan tawa yang terdengar kembali memenuhi mansion William apalagi usia kandungan Rere saat ini sudah berumur tujuh bulanan, semua orang turut menunggu kehadiran buah hati dari pasangan Rere dan Varo dengan penuh suka cita. Saat ini semua orang sedang merayakan acara tujuh bulanan kandungan yang hanya di hadiri orang terdekat saja. Mereka sudah melaksanakan prosesi acara dari membaca Al-Quran zikir bersama, lalu menyantuni anak yatim dengan memberikan segala hal yang bermanfaat.
"Aduh ga sabar mau liat twins nih" ujar Clara dengan senyum sumringah.
"Pasti rumah Mom Shinta bakal rame nih oleh para anak curut" ujar Anggun menggoda Shinta.
"Anggun jangan panggil cucu Mom anak curut dong" ujar Shinta menepuk lengan gadis itu dengan pelan.
"Haha maaf Mom, bercanda deh, mana berani Aku ngatain para pewaris William anak curut" ujar Anggun tertawa kaku melihat ekspresi Varo yang menatap ke arah nya itu.
Para wanita saat ini memang sedang berkumpul dan duduk di karpet bersama sekedar bercerita dan bersanda gurau.
"Nggun lu benar ga sih di jodohin itu?" tanya Clara membuka pembicaraan.
Rere yang sedang asik memakan keripik kentang itu seketika terkejut dan tersedak akibat mendengar penuturan dari sahabat nya
Huk.. huk..
"Aduh sayang makan nya pelan-pelan dong" ujar Varo menghampiri istri nya itu dan langsung memberikan air putih.
"So sweet cihuyy" ujar Clara menyinggung Rere yang sangat di manja itu.
"Maaf mas, udah udah sana balik lagi" ujar Rere mendorong suami nya itu agar berkumpul kembali bersama para pria disana ada Axel, Reno, Samuel, Kevin dan juga Adrel.
"Anggun kamu serius? kok aku gatau sih, jangan main rahasian begitu dong" tutur Rere dengan raut kesal menatap Anggun.
Anggun yang di tanya seperti itu hanya menggaruk kepala nya dengan gatal, sebenarnya dia ingin melupakan hal itu karena dia juga tidak mau di jodoh kan oleh orang tua nya. Beberapa bulan yang lalu saat Anggun di suruh datang ke Italia dengan alasan yang mendesak dan penting, bukan hal mendesak yang dia dapatkan tapi malah perjodohan aneh yang di atur keluarga nya.
__ADS_1
Flasback on.
Brak...
Anggun mengebrak meja makan itu dengan kuat, saat ini dia sedang ada di kota Venesia, Italia. Di dalam restoran klasik itu seorang gadis berteriak dan memberontak kepada orang tua nya.
"Apa maksud mu dengan perjodohan? ini sudah zaman apa, tidak ada yang nama nya perjodohan lagi kalian itu sangat kuno!" teriak Anggun dengan tidak terima.
"Anggun tenangkan diri mu, pria itu Dia sangat baik hanya saja orang tua nya mengkhawatir kan anak nya yang tidak pernah dekat satu pun dengan wanita, aku dan Mama mu sudah setuju untuk menikahi kalian di indonesia saat kami kembali nanti" ujar Papa Anggun menjelaskan hal itu kepada putri nya.
"Papa mu benar Anggun, kali ini saja kau mendengarkan kami, aku mohon" tutur Mama Anggun dengan memohon kepada putri nya.
"Mama, Papa" lirih Anggun menatap kedua orang tua nya itu dengan sendu.
"Apa kau mau? Dia pria baik, masa depan mu sudah terjamin, pria itu berasal asli dari Italia, tetapi dia memutuskan tinggal dan menjalankan perusahaan Daddy nya, kau pasti tau Anggun dia adalah pewaris tunggal perusahaan nomor dua terbesar di dunia setelah keluarga William" terang Mama Anggun dengan antusias.
Anggun hanya diam seribu bahasa dan menunduk.
Flasback off.
"Hehe iyah Re, teman mu ini bentar lagi nyusul kamu" cemberut Anggun menatap Rere.
"Wah ganteng tidak Nggun?" tanya Clara dengan antusias menatap Anggun.
"Otak mu itu hanya di isi dengan kata tampan" sindir Axel kepada Clara, pria itu saat ini juga sedang berkumpul bersama Varo, posisi duduk pria memang tidak terlalu jauh dari kerumunan wanita.
"Suka-suka saya lah pak, orang mulut saya juga" celetuk Clara dengan kesal.
"Iyah emang mulut mu, bukan binatang" sambung Axel menatap gadis itu.
__ADS_1
"Bapak nantangin saya?" ujar Clara berdiri lalu mendekati Axel.
Gadis itu mendekati Axel yang sedang duduk bersama rombongan pria, dan menjambak rambut pria itu dengan kuat.
"Au au sakit bocah, lepaskan tangan mu" ujar Axel menepuk-nepuk tangan Clara yang menarik rambut nya dengan kuat.
"Tarik kembali perkataan Bapak atau Saya akan terus menarik nya" ancam Clara dengan kesal terus menjambak rambut Axel tanpa belas kasihan.
"Akh sakit, apa yang kau lakukan lepaskan tangan mu gadis kecil sial*n" Axel berusaha memberontak dan melepaskan tangan Clara dari rambut nya.
Karena terus memberontak dan keadaan sulit di kendalikan, tubuh Axel tidak dapat menahan tubuh Clara yang bergelayut pada nya, hingga mereka berdua pun terjatuh.
Bruk
Suara hantaman kuat jatuh ke lantai karpet itu, beruntung Axel memegang kepala Clara agar tidak langsung bersentuhan dengan lantai itu. Axel menindih tubuh kecil milik Clara, walaupun hal itu terjadi Clara yang sudah marah dan kesal dalam posisi itu tetap menjambak rambut Axel dengan kuat.
"Hei lepaskan tangan mu gadis kecil, Akh sakit" Axel merasakan rambut nya itu tercabut akibat kuat nya tarikan yang di lakukan Clara.
"Tarik kembali ucapan mu tadi, atau aku akan terus menarik rambut mu ini om" senyum Clara yang mengintimidasi Axel.
Axel yang di intimidasi itu tidak berkutik, ia membalas menjambak rambut panjang milik Clara itu, sehingga terjadi lah perkelahian tarik menarik rambut itu.
"Sakit pak, berani nya sama cewe!" teriak Clara terus menjambuk kuat rambut Axel.
"Yang memulai nya itu kau, bukan aku!" balas Axel berteriak ke depan wajah Clara.
Mereka berguling dan saling menjambak di karpet tempat orang-orang tengah duduk itu, kegiatan itu seketika berhenti ketika seseorang orang memanggil nama mereka.
"Axel, Clara!! hentikan sekarang atau Mom akan menikah kan kalian sekarang juga" teriak Shinta beridiri berkacak pinggang berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Wah Daddy mau nikah ama Mommy, kapan nikah nya oma?" ujar Alisa yang ikut menyambung perkataan Shinta.
Kedua insan yang tengah berkelahi itu seketika diam dan berhenti saling menjambak. Mereka menatap satu sama lain, saat ini posisi Axel masih menindih tubuh Clara, keadaan mereka sangat berantakan, terlebih lagi pada rambut mereka yang terlihat acak acakan serta rontok dimana mana akibat perkelahian itu. Clara mendorong tubuh Axel lalu berdiri, begitu pun sebalik nya Axel langsung berdiri. Semua orang menatap mereka sambil menggelengkan kepala.